Akurat

BRI Mantapkan Tiap Langkah Pelaku Usaha Wastra Nusantara

M. Rahman | 28 November 2025, 18:38 WIB
BRI Mantapkan Tiap Langkah Pelaku Usaha Wastra Nusantara

AKURAT.CO Di tengah gempuran balpres atau pakaian bekas impor yang bergulung-gulung itu, pelaku usaha wastra nasional terus berjuang.

Ujiannya seperti tak berjeda. Baru mulai pulih daya beli usai perekonomian nasional dihantam Covid-19, pasar malah dibanjiri balpres dari China, Jepang, Korsel, Singapura hingga Malaysia dengan harga miring.

Akibatnya, tak sedikit yang omzet dan cashflownya naik turun tidak beraturan. Di masa-masa sulit seperti inilah, dukungan dan akses permodalan dirasa jadi "pelampung" yang menyelematkan hidup para pelaku usaha wastra nasional.

"Bisnis itu kan pasti ada up and downnya. Singkatnya, saya dulu ambil kredit di BRI dengan jumlah yang enggak sedikit. Jadi saya ada masalah permodalan di perusahaan tahun 2010 an, dibantu BRI pendanaannya. Sangat membantu, saya kenapa akhirnya pilih BRI juga karena sedari dulu saat dibanding-bandingkan lebih kompetitif. Akhirnya saya ambilah pada saat itu setengahnya kredit modal kerja, setengahnya kredit biasa," ujar fashion desainer ternama, Ali Charisma kepada Akurat.co, Rabu (26/11/2025).

Baca Juga: Jadi Prasyarat Proyek Transmisi 500 kV Sumatera Paket 2, WSKT Gadai Cash Collateral Rp147,4 Miliar ke BRI

Ali sendiri aktif di Indonesia Fashion Chamber (IFC) sebagai salah satu petinggi di sana (Chairman dan Advisory Board & Immediate Past National Chair) dan sudah malang melintang di industri fashion.

Mengikuti berbagai pameran internasional, produknya sudah merambah pasar AS, Eropa (Italia, Perancis, Romania, Rusia), Australia, Korea, Hong Kong dan sebagainya. Di sela kesibukannya, Ali juga masih menyempatkan diri untuk mengadakan workshop dan coaching.

Baginya, BRI sudah seperti teman yang menemani lebih dari 15 tahun perjalanan usahanya. Pun di masa sulit seperti Covid-19, BRI sebagai perpanjangan tangan negara yang hadir membantu pelaku UMKM turut memberikan keringan lewat restrukturisasi maupun penghapustagihan.

"Saya kerja sama dengan BRI sudah lama, 15 tahunan. Saya ngerasain banget pas Covid-19 itu banyak banget insentif yang membantu, terutama pemutihan bunga dan hanya bayar pokoknya saja. Sangat membantu karena waktu itu angka nya lumayan gede," cerita Ali.

Alipun tak ragu merekomendasikan bank bersandi BBRI ini kepada rekan sejawat sesama desainer fesyen yang tengah mencari akses permodalan. Tapi syaratnya menurut Ali, nominal pengajuannya harus disesuaikan proporsional dengan cashflow perusahaan.

"Saya sangat menyarankan (BRI) sih bagi yang mencari permodalan. Tapi ya memang kredit itu harus diimbangi juga dengan cash flow perusahan ya. Jadi jangan sampai istilahnya over atau enggak dipertimbangkan. Jangan ambilnya kegedean walaupun cashflownya tidak lancar, itu sangat berbahaya. Tapi selama itu bisa proporsional dengan income malah justru bisa jadi booster, bisnis akan lebih cepat tumbuhnya dari biasanya sih," saran Ali.

Nafas Segar

Dukungan permodalan dari BRI, diakui Ali membuat dirinya bisa memilik ruang lebih untuk berinovasi dan berkreasi, salah satunya dengan tema sustainability dan slow fashion. Tema ini sedang mendunia. "Dengan dukungan permodalan yang memadai, kita jadi punya nafas segar untuk berkreasi. Saya contohnya, suka dengan tema sustainability. Mewah tidak harus berlebih, kuncinya seimbang. Mode berkelanjutan itu tentang bagaimana pakaian tidak berakhir di tong sampah," ujar Ali.

Senada, Direktur IKM Kimia, Sandang dan Kerajinan Kemenperin Budi Setiawan menambahkan, konsep slow fashion menawarkan alternatif tren fesyen yang mengutamakan kualitas daripada kuantitas, produksi beretika, kelestarian lingkungan, produksi yang lebih lambat dan terencana, serta mempromosikan nilai etis dalam rantai pasok.

Di Indonesia, konsep ini potensi besar untuk tumbuh, terutama dengan keberadaan perajin lokal dan penggunaan bahan baku alami yang kaya, seperti produk wastra yang meliputi tenun dan batik. “Prinsip ini tidak hanya berdampak positif terhadap lingkungan dengan mengurangi limbah dan konsumsi energi, tetapi juga membantu memastikan bahwa para pekerja di sektor mode mendapatkan upah yang layak dan kondisi kerja yang adil,” kata Budi.

Jadi Pembeda

Bantuan permodalan dari BRI turut dirasakan oleh Yoki Panji Baskara, Cofounder Cravar, salah satu produsen leather goods ternama di Tanah Air. Modal yang ia dapatkan tersebut, dirasakannya membantu dirinya untuk berbeda di pasar fashion, dengan menekuni niche market khususnya leather goods.

Tahun 2013, Yoki yang semula berbisnis fotografi menjual studionya dan memulai bisnis leather goods dengan merek Bronn. Namun tak lama muncul nama yang sama dalam series TV Game of Throne, sehingga merek tersebut ia ubah menjadi Cravar.

Saat itu, tas kulit berkualitas dan harga tinggi belum terlalu populer di pasar Indonesia. Untuk itu, Yoki fokus menggarap pasar internasional dan menggalang dana lewat platform crowdfunding Kickstarter.

Messenger bag menjadi produk pertama dengan jumlah pemesanan pada tahap pertama tembus 200 pemesanan, yang mayoritas berasal dari AS. Kini produk Cravarpun berkembang sedemikian rupa, mulai dari seri berbagai seri FC atau messenger bag, seri Alpha atau briefcase hingga seri Rana atau tas kamera.

"Kami memilih tas awalnya karena minat pribadi dan juga karena melihat setidaknya di pasar domestik, belum banyak yang bermain di niche kami. Dan untuk pasar internasional, kami yakin produk kami kuat USP-nya, baik dari desain, fungsi dan juga dari sisi harga," ujar Yoki kepada Akurat.co.

Penerimaan pasar Tanah Air akan produk Cravar pun terus meningkat berkat tinggi maraknya anak muda yang memilih Cravar untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pada tahun 2013-2017 misalnya, share Cravar di Indonesia tak sampai 10%. Namun terus meningkat menjadi 40% di 2017 dan terus meningkat di 2022 dan seterusnya.

Dengan permintaan yang terus meningkat dan kebutuhan akan inventory yang juga menanjak, di sinilah BRI hadir sebagai mitra yang membantu Cravar untuk tetap bisa tampil beda di industri fesyen.

Diakui Yoki, permodalan dari BRI berupa KUR yang ia ambil membantu melancarkan operasional harian, terutama untuk keperluan inventory. Ke depan Yoki juga besar kemungkinan akan mempelajari produk lain dari BRI yang sekiranya cocok untuk keperluan Cravar saat ini.

"Tahun 2022 (bermitra dengan BRI), karena ada keperluan untuk ikut KUR dan BRI sangat akomodatif membantu prosesnya. Kami juga daftar EDC BRI karena MDRnya sangat kompetitif serta aplikasi Brimo yang lengkap dan mudah digunakan," cerita Yoki.

Terus Bertumbuh

Yoki bersyukur bisnis Cravar tetap tumbuh di tahun 2025 ini di tengah daya beli domestik yang berkurang. Di sisi lain, penjualan ke luar negeri, terutama ke AS, sangat menantang dengan adanya tarif Trump dan penghapusan pengecualian de minimis.

"Ke depan rencana kami akan coba perluas pasar internasional kami dengan lebih push ke negara-negara lain, dimana top 5 pasar internasional kami adalah AS, Kanada, Australia, Singapura dan Inggris," ujar Yoki.

Yoki mengaku banyak mendapatkan inspirasi desain dari traveling --meskipun akhir-akhir ini ia jarang melakukannya--, bertemu dengan orang-orang menarik serta menonton film.  Ia gemar membuat desain yang berfungsi dengan baik, yang masuk akal, sekaligus estetis. Desain tanpa gangguan yang tidak perlu, kekacauan, dan hiasan berlebihan yang akan berfungsi dan terlihat bagus selama bertahun-tahun.

"Kami percaya telah mencapai keseimbangan yang baik antara keduanya (desain dan fungsi). Jika sesuatu tak memiliki tujuan, kami menghilangkannya, dan hal-hal yang memiliki tujuan harus dilakukan dengan benar. Sedikit prinsip 'form follows function' mungkin. Kalau konsumen masih menggunakan tas Cravar bertahun-tahun ke depan, itu berarti kami telah mencapai tujuan kami," tukasnya.

Yokipun gemar menerima saran dan masukan dari konsumen. Karenanya, tas-tas Cravar telah mengalami beberapa perubahan sejak pertama kali diluncurkan. Yoki juga mengajak sesama pelaku usaha wastra nasional untuk terus mengeksplor peluang bisnis dan tak ragu mengambil pembiayaan atau permodalan dari BRI.

Agar proses pengajuan kredit berjalan lancar, Yoki memberikan sejumlah tips termasuk jangan lupa merapikan pembukuan, pelajari syarat yang diperlukan, ajukan sesuai keperluan, dan manfaatkan pinjaman modal sebaik-baiknya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa