Kinerja Citi Indonesia Melonjak di Q3 2025, Ungguli Banyak Indikator Perbankan Nasional

AKURAT.CO Citi Indonesia mencatat capaian yang impresif pada triwulan ketiga tahun 2025. Laba bersih yang mencapai Rp2,3 triliun, kenaikan Pendapatan Bunga Bersih 10% year-on-year, serta stabilnya rasio dana murah di 78%, menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan bisnis bank global ini di Indonesia. Jika dibandingkan dengan rata-rata industri perbankan nasional, performa Citi tidak hanya bertahan, tetapi juga tampil jauh lebih unggul dalam hal profitabilitas, likuiditas, hingga kecukupan modal.
Momentum positif ini menegaskan posisi Citi sebagai salah satu bank dengan kinerja paling efisien dan konservatif di pasar Indonesia. CEO Citi Indonesia, Batara Sianturi, menyampaikan bahwa kinerja Citi Indonesia pada triwulan III tahun 2025 ini terus mencerminkan resiliensi bisnis dan komitmen pertumbuhan berbasis kepercayaan yang diberikan klien kepada Citi.
"Dengan peningkatan Pendapatan Bunga Bersih sebesar 10% year-on-year dan rasio low-cost fund yang stabil di angka 78%, Citi terus mempertahankan momentum pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan," ujar Batara dalam konferensi pers paparan kinerja Citi Indonesia Kuartal III-2025 di Jakarta, Selasa, 18 November 2025.
Perbandingan Kinerja Citi Indonesia dengan Perbankan Nasional
Untuk memberikan gambaran yang lebih utuh, berikut analisis bagaimana kinerja Citi di Q3 2025 jika disandingkan dengan benchmark industri perbankan Indonesia.
Profitabilitas: Citi Jauh Lebih Efisien dari Rata-Rata Bank Nasional
Citi Indonesia membukukan ROE 15,4% dan ROA 4,1%, jauh melampaui data rata-rata nasional. Menurut World Bank, ROE sektor perbankan Indonesia pada Februari 2025 berada di sekitar 13,3%, sedangkan OJK mencatat ROA industri hanya berkisar 2,34%–2,51% dalam rentang Desember 2024 hingga Mei 2025.
Artinya, dari setiap modal dan aset yang dikelola, Citi mampu menghasilkan laba lebih besar daripada sebagian besar bank umum Indonesia. Hal ini tak lepas dari karakter bisnis Citi yang lebih fokus pada klien korporasi, multinasional, dan institusi — segmen yang biasanya menawarkan margin lebih tinggi dibanding segmen ritel.
Pendanaan: Rasio Low Cost Fund Citi Signifikan
Dengan rasio dana murah di 78%, Citi menunjukkan struktur pendanaan dengan biaya rendah yang sangat kompetitif. Meskipun tidak ada angka resmi untuk rata-rata dana murah industri, porsi 78% merupakan level yang sulit dicapai banyak bank karena persaingan suku bunga deposito yang tinggi.
Struktur pendanaan yang ringan ini membuat Citi memiliki ruang lebih besar untuk menjaga margin bunga bersih di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Likuiditas: Jauh Mengungguli Standar Industri
Rasio likuiditas Citi bahkan lebih mencolok. LCR sebesar 277% dan NSFR 154% menunjukkan buffer likuiditas yang sangat besar. Padahal, menurut OJK, rata-rata industri mencatat LCR sekitar 204,8% dan NSFR sekitar 127,7% pada Maret 2025.
Citi berada jauh di atas parameter tersebut, menandakan kemampuan solid untuk memenuhi kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang tanpa tekanan likuiditas.
Kecukupan Modal: Citi Lebih Konservatif Dibanding Bank Nasional
Di sisi permodalan, Citi mencatat KPMM 35,8%, naik dari 33,1% tahun sebelumnya. Angka ini juga jauh di atas CAR industri yang berada di kisaran 25%–27% sepanjang 2024–2025 berdasarkan Statistik Perbankan OJK.
KPMM setinggi ini menunjukkan bahwa Citi menerapkan strategi konservatif dan kehati-hatian yang kuat, sesuai karakter bank global yang beroperasi di berbagai negara dengan risiko pasar berbeda-beda.
Pendalaman Kinerja Citi di Q3 2025
Selain keunggulan dibanding industri, beberapa unit bisnis Citi juga mencatat progres signifikan sepanjang triwulan ketiga 2025.
Solusi Banking yang Komprehensif untuk Multisektor
Bisnis Banking Citi Indonesia kembali menunjukkan performa positif, memperkuat perannya dalam menyediakan solusi bagi perusahaan lokal, multinasional, lembaga keuangan, hingga institusi publik. Citi juga menggandeng Citi Issuer Services Asia South menyelenggarakan Citi Data Centre Day pertama di kawasan Asia Selatan, membahas pengembangan infrastruktur data center dan inovasi perbankan untuk mendukung transformasi digital nasional.
Pertumbuhan Layanan TTS dan Migrasi Digital yang Lebih Modern
Unit Treasury and Trade Solutions (TTS) mencatat pertumbuhan 3% year-on-year. Ekspansi layanan omnicollection membantu akses pendanaan ritel dan e-commerce, sementara migrasi klien ke CitiDirect V3 menghadirkan keamanan lebih kuat dan fitur manajemen kas lebih lengkap.
Citi juga meluncurkan solusi Host-to-Host dan API bagi beberapa klien utama, mempercepat integrasi dan otomatisasi sistem pembayaran mereka.
Melalui program Pembiayaan Rantai Pasokan, Citi mencatat peningkatan pemasok sebesar 16% pada tahun 2025, mempermudah akses modal kerja bagi pemasok lokal di seluruh Indonesia.
Dukungan Investor Services dan Kepemimpinan di Pasar FX
Di lini Investor Services, Citi aktif terlibat dalam berbagai forum regulator seperti working group, FGD, dan task force untuk memastikan layanannya selaras dengan perkembangan pasar modal.
Sementara itu, bisnis Markets memperkuat posisi di pasar FX dan pendapatan tetap. Citi meraih penghargaan ‘Best Sellside 2025 untuk Obligasi Mata Uang Lokal’ dari Asset Benchmark Research, serta dinobatkan sebagai ‘Indonesia's Best Cash Management Bank’ dalam Euromoney Transaction Banking Awards 2025.
Berbagai platform digital seperti CitiFX Gateway/SFTP, CitiFX Pulse, CitiDirect, dan CitiConnect turut membantu klien menjalankan transaksi FX dan pembayaran secara otomatis dan efisien.
Komitmen Sosial: Mendukung Generasi Muda dan Inklusi Digital
Melalui Citi Foundation, bank ini memberikan dukungan global kepada 50 organisasi dalam program Global Innovation Challenge 2025, masing-masing hingga US$500.000 atau sekitar Rp8,2 miliar.
Di Indonesia, YCAB Foundation terpilih sebagai penerima hibah dan akan menjalankan program pada triwulan pertama 2026. Fokusnya adalah meningkatkan kesiapan kerja dan kemampuan kewirausahaan digital bagi generasi muda, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas.
Insight: Apa Arti Kinerja Citi Indonesia Bagi Industri?
Melihat semua data, ada beberapa interpretasi penting:
-
Profitabilitas tinggi menandakan model bisnis Citi sangat efisien dan produktif dalam memanfaatkan aset dan modal.
-
Likuiditas dan permodalan yang sangat kuat memberi ruang manuver besar bagi ekspansi bisnis, terutama di segmen korporasi.
-
Pengelolaan dana murah 78% menjadi keunggulan kompetitif yang tidak mudah dimiliki bank lain.
-
Risiko tekanan pendanaan tetap ada jika persaingan dana murah semakin ketat.
-
Modal besar menimbulkan pertanyaan tentang efisiensi, tetapi ROE Citi menunjukkan modal itu dimaksimalkan dengan baik.
-
Skalabilitas bisnis sangat terbuka, tetapi tetap harus mengikuti regulasi dan risiko kredit di pasar lokal.
Kesimpulan
Citi Indonesia tampil luar biasa pada triwulan III 2025, bukan hanya dalam pencapaian internal tetapi juga dalam perbandingan dengan kinerja industri perbankan nasional. Berbagai indikator utama—profitabilitas, likuiditas, dan permodalan—menunjukkan bahwa Citi berada pada posisi yang lebih kuat dan stabil dibandingkan banyak bank umum di Indonesia.
Dengan dukungan digitalisasi, penguatan layanan Treasury and Trade Solutions, serta komitmen sosial yang konsisten, Citi berada dalam posisi strategis untuk terus memperluas pengaruhnya di pasar Indonesia.
Kalau kamu ingin mengikuti perkembangan terbaru seputar industri keuangan, transformasi digital perbankan, dan kinerja emiten atau lembaga keuangan global, pantau terus update selanjutnya di media ini.
Baca Juga: Bank ASA dan Bank AKS Tegaskan Komitmen Sosial Melalui Program ASApeduli dan AKSpeduli di Yogyakarta
Baca Juga: Dorong Ketahanan Pangan Nasional, Bank Mandiri Bantu Petani Kebumen Hindari Gagal Panen
FAQ
1. Berapa laba bersih Citi Indonesia pada Q3 2025?
Citi Indonesia mencatat laba bersih sebesar Rp2,3 triliun pada triwulan III 2025, didukung pertumbuhan Pendapatan Bunga Bersih 10% year-on-year dan rasio dana murah yang stabil.
2. Mengapa kinerja Citi Indonesia lebih unggul dibanding rata-rata industri perbankan nasional?
Citi unggul karena memiliki ROE 15,4% dan ROA 4,1%, jauh di atas rata-rata industri. Selain itu, struktur pendanaan yang efisien, likuiditas kuat, dan modal konservatif membuat performanya lebih stabil.
3. Apa yang membuat rasio dana murah (low-cost fund) Citi Indonesia signifikan?
Citi mencatat rasio dana murah 78%, level yang sulit dicapai banyak bank lain. Struktur pendanaan ini memperkuat margin bunga dan efisiensi biaya.
4. Bagaimana posisi likuiditas Citi Indonesia dibanding industri?
Citi memiliki LCR 277% dan NSFR 154%, jauh lebih tinggi dari angka rata-rata industri yang berada pada kisaran 204% dan 127%. Ini menunjukkan kekuatan likuiditas jangka pendek dan jangka panjang.
5. Apakah permodalan Citi Indonesia tergolong kuat?
Ya. Citi mencatat KPMM 35,8%, jauh di atas rata-rata industri sekitar 25%–27%. Tingginya modal menandakan kehati-hatian sekaligus kesiapan menghadapi risiko pasar.
6. Unit bisnis apa saja yang mengalami pertumbuhan pada Q3 2025?
Beberapa segmen yang tumbuh meliputi:
-
Treasury and Trade Solutions (TTS) dengan pertumbuhan 3%.
-
Investor Services, aktif mendukung forum regulator.
-
Markets, yang memperkuat posisi di pasar FX dan obligasi.
-
Banking, melalui layanan untuk korporasi, multinasional, dan institusi publik.
7. Apa kontribusi Citi Indonesia terhadap komunitas dan pengembangan SDM?
Melalui Citi Foundation, Citi mendukung YCAB Foundation dalam program peningkatan kesiapan kerja dan kewirausahaan digital bagi generasi muda, perempuan, dan penyandang disabilitas.
8. Apa arti kinerja kuat Citi Indonesia bagi industri perbankan?
Kinerja Citi menunjukkan bahwa model bisnis yang efisien, likuiditas tinggi, dan modal konservatif dapat menjadi keunggulan kompetitif. Ini juga menandakan ruang ekspansi besar di segmen korporasi dan digital banking.
9. Apakah kinerja Citi Indonesia berpotensi terus meningkat ke depan?
Dengan momentum digitalisasi, penguatan solusi Treasury and Trade Solutions, dan struktur modal yang kuat, Citi memiliki peluang besar untuk mempertahankan performa positif di masa depan.
10. Di sektor apa Citi Indonesia paling berfokus?
Citi lebih fokus pada segmen korporasi, multinasional, institusi keuangan, dan publik, bukan ritel. Fokus ini membantu menjaga margin lebih tinggi dan efisiensi operasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









