Antrean IPO 2025: Antara Harapan dan Kehati-hatian
Hefriday | 26 Oktober 2025, 23:32 WIB

AKURAT.CO Bursa Efek Indonesia (BEI) tampak masih menahan napas menjelang akhir tahun 2025. Harapan akan datangnya gelombang baru penawaran umum perdana saham (IPO) belum juga terwujud, meski antusiasme terhadap pasar modal Indonesia tetap terjaga.
Hingga 23 Oktober 2025, hanya terdapat 13 perusahaan yang masuk dalam pipeline IPO BEI, dan sebagian besar masih menunggu lampu hijau dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa dari 13 calon emiten tersebut, dua perusahaan tergolong beraset kecil, enam beraset menengah, dan lima beraset besar.
Angka ini menunjukkan keberagaman sektor dan skala usaha yang ingin mencari pendanaan melalui pasar modal. Namun, proses menuju pencatatan saham publik tampaknya tidak sesederhana yang diharapkan.
“Mayoritas calon perusahaan tercatat yang berada dalam pipeline saat ini diperkirakan melaksanakan pencatatan sahamnya pada tahun 2025, dengan catatan tidak terdapat concern dari OJK dan BEI,” ujar Nyoman di Jakarta, Minggu (26/10/2025).
BEI dan OJK kini memperketat proses evaluasi terhadap calon emiten. Selain memastikan pemenuhan persyaratan administratif, otoritas juga menyoroti kinerja keuangan dan tata kelola perusahaan.
Langkah ini diambil untuk menjaga kepercayaan investor di tengah volatilitas pasar global yang masih tinggi akibat ketidakpastian suku bunga dan perlambatan ekonomi dunia.
Dari seluruh pipeline, hanya dua calon emiten yang menggunakan laporan keuangan per Juli 2025, sementara sisanya masih menggunakan laporan semester I-2025.
Tidak ada satu pun yang sudah menyetor laporan per September 2025, menandakan bahwa sebagian perusahaan masih melakukan finalisasi data keuangan atau menunggu momentum yang tepat untuk melantai di bursa.
Dikutip dari Bloomberg, menilik data BEI, sepanjang kuartal III-2025 tercatat 23 perusahaan baru berhasil melantai di bursa, dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp15,1 triliun.
Meskipun jumlah tersebut terbilang stabil, laju IPO tahun ini belum memenuhi ekspektasi yang ditetapkan di awal tahun.
Pada awal 2025, Direktur Utama BEI, Iman Rachman menargetkan 407 pencatatan efek, termasuk 66 IPO sepanjang tahun.
Target tersebut mencerminkan optimisme terhadap daya tarik pasar modal domestik di tengah upaya memperkuat basis investor ritel dan institusi. Namun, realisasi di lapangan menunjukkan perusahaan masih cenderung berhati-hati.
Kondisi ekonomi global yang belum pulih sepenuhnya menjadi salah satu faktor yang menahan langkah perusahaan untuk segera IPO.
Suku bunga global yang tinggi membuat valuasi saham berpotensi lebih rendah dari ekspektasi, sehingga beberapa emiten memilih menunggu kondisi yang lebih stabil.
Selain itu, faktor domestik seperti arus dana asing yang fluktuatif dan nilai tukar rupiah yang bergejolak turut memengaruhi sentimen perusahaan dalam mengambil keputusan strategis di pasar modal.
Meski menghadapi tekanan, Iman menegaskan bahwa pasar modal tetap menjadi opsi pendanaan strategis bagi dunia usaha.
Dalam kondisi suku bunga tinggi, menerbitkan saham atau obligasi di bursa menjadi alternatif yang lebih efisien dibandingkan pinjaman perbankan yang bunganya relatif besar.
“Setiap perusahaan punya opsi pendanaan masing-masing, baik dari obligasi, pinjaman bank, maupun pasar modal. Namun dalam situasi suku bunga tinggi, bursa menjadi alternatif yang menarik,” ujar Iman.
Menurutnya, BEI terus berupaya memperluas basis calon emiten, termasuk mendorong perusahaan teknologi, logistik, dan energi terbarukan agar memanfaatkan pasar modal untuk ekspansi usaha.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









