Akurat

Kapitalisasi Pasar Saham Tembus Rp15,23 Kuadriliun Setara 68,78 Persen PDB

Yosi Winosa | 17 Oktober 2025, 18:08 WIB
Kapitalisasi Pasar Saham Tembus Rp15,23 Kuadriliun Setara 68,78 Persen PDB

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai kapitalisasi pasar saham nasional telah mencapai Rp15,23 kuadriliun per Kamis (16/10/2025), atau setara dengan 68,78% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. 

Capaian tersebut dinilai menjadi sinyal positif bagi perkembangan pasar modal Tanah Air yang kian inklusif dan kuat secara fundamental.
 
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan, pencapaian ini sudah mendekati target yang tercantum dalam Peta Jalan (Roadmap) Pasar Modal Indonesia 2023–2027, yakni 70% dari PDB nasional.
 
“Angka kapitalisasi pasar saham saat ini telah mendekati target roadmap kita. Dalam peta jalan 2023–2027, targetnya mencapai 70 persen dari PDB, dan sekarang kita sudah di 68,78 persen,” ujar Inarno di Jakarta, Jumat (17/10/2025).
 
OJK juga mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level 8.124 poin per Kamis (16/10/2025), dengan pertumbuhan sebesar 14,76% year-to-date (ytd). 
 
 
Kinerja positif ini menandakan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah kondisi global yang dinamis.
 
Menurut Inarno, stabilitas ekonomi makro dan koordinasi kebijakan antara pemerintah, Bank Indonesia, dan OJK turut memberikan fondasi kuat bagi pertumbuhan pasar modal.
 
Hingga pertengahan Oktober 2025, OJK telah menerbitkan 161 pernyataan efektif atas emisi efek dengan total nilai penghimpunan dana mencapai Rp189,6 triliun. 
 
Dana tersebut menjadi sumber pembiayaan penting bagi berbagai sektor usaha nasional, termasuk perusahaan publik, BUMN, dan pelaku industri strategis lainnya.
 
Selain itu, alternatif pendanaan melalui securities crowdfunding (SCF) juga menunjukkan tren positif. Total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp1,72 triliun, berasal dari 912 efek yang diterbitkan oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).
 
“Pendanaan melalui SCF menunjukkan semakin luasnya akses pelaku UMKM ke pasar modal. Ini bagian dari strategi OJK dalam memperluas inklusi keuangan dan memperkuat basis ekonomi rakyat,” jelas Inarno.
 
Berdasarkan data Single Investor Identification (SID), jumlah investor di pasar modal Indonesia kini mencapai 19 juta orang per Rabu (15/10/2025). 
 
Angka ini menunjukkan pertumbuhan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, terutama dari kalangan generasi muda dan investor ritel.
 
Inarno optimistis target 20 juta investor pada tahun 2027 yang tercantum dalam roadmap OJK akan terlampaui lebih cepat dari perkiraan.
 
“Kami menargetkan 20 juta investor di tahun 2027. Dengan tren pertumbuhan saat ini, kami optimistis bisa melebihi target tersebut,” ujarnya.
 
OJK menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan pasar modal yang inklusif, modern, dan berdaya saing global. Dalam hal ini, perlindungan investor dan integritas pasar tetap menjadi prioritas utama.
 
Inarno menambahkan, lembaganya berupaya memastikan setiap kebijakan pengawasan diarahkan untuk memperkuat transparansi, tata kelola, dan keberlanjutan pasar modal nasional.
 
“Kami ingin memastikan pasar modal Indonesia tidak hanya tumbuh secara nilai, tetapi juga memiliki integritas dan tata kelola yang baik,” katanya.
 
Langkah penguatan pasar modal ini juga sejalan dengan arah kebijakan pembangunan nasional yang tertuang dalam Asta Cita dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. 
 
Kedua dokumen tersebut menekankan pentingnya penguatan ekonomi rakyat dan pemerataan akses keuangan.
 
Menurut Inarno, pasar modal bukan hanya tempat bagi korporasi besar untuk menghimpun modal, tetapi juga menjadi wadah bagi masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
 
“Pasar modal adalah ruang ekonomi bersama, di mana setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan memperoleh manfaat dari kemajuan ekonomi,” tuturnya.
 
Sebagai bagian dari upaya memperluas partisipasi publik, OJK terus menggencarkan program literasi dan inklusi keuangan, termasuk edukasi pasar modal di kalangan pelajar, mahasiswa, dan pelaku UMKM.
 
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang manfaat investasi yang sehat dan aman, serta mendorong lebih banyak warga untuk berinvestasi secara bijak di instrumen keuangan formal.
 
Dengan capaian yang mendekati target dan fundamental ekonomi yang kuat, OJK optimistis pasar modal Indonesia akan terus menjadi pilar penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
 
“Kinerja positif ini menunjukkan arah yang tepat menuju pasar modal yang kuat, berdaya saing global, dan mampu menjadi lokomotif ekonomi bangsa,” tukas Inarno Djajadi.
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa