Transaksi Bursa Karbon Tembus 1,6 Juta Ton CO2e, Nilai Mencapai Rp78,46 Miliar

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat perkembangan positif dalam aktivitas perdagangan karbon nasional.
Hingga akhir September 2025, total volume transaksi di bursa karbon mencapai 1.606.056 ton karbon dioksida ekuivalen (tCO₂e) dengan nilai akumulasi Rp78,46 miliar.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi menjelaskan, tambahan volume transaksi selama September tercatat sebesar 1.234 tCO₂e.
Baca Juga: OJK Dorong Pembiayaan ke Sektor Prioritas Termasuk UMKM
Angka tersebut menunjukkan peningkatan stabil dari sisi minat pelaku usaha terhadap perdagangan karbon di Indonesia.
“Penambahan volume transaksi pada bulan tersebut tercatat sebesar 1.234 tCO₂e, sehingga total volume mencapai 1.606.056 tCO₂e dengan akumulasi nilai Rp78,46 miliar,” ujar Inarno dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (10/10/2025).
OJK juga melaporkan adanya peningkatan jumlah peserta aktif di pasar karbon nasional.
Sepanjang September 2025, terdapat delapan pengguna jasa baru yang resmi terdaftar, sehingga total partisipan kini mencapai 132 entitas.
Menurut Inarno, peningkatan partisipasi tersebut mencerminkan antusiasme pelaku industri terhadap transisi hijau dan potensi ekonomi rendah karbon yang semakin nyata.
Dirinya menyebut, OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui platform IDXCarbon akan terus memperkuat infrastruktur dan sistem pengawasan agar perdagangan karbon semakin transparan dan kredibel.
Selain perkembangan di pasar karbon, Inarno juga menyoroti penguatan indeks pasar obligasi nasional (Indonesia Composite Bond Index/ICBI) yang naik 0,87% month-to-month (mtm) dan 9,34 persen year-to-date (ytd) ke level 429,35 pada akhir September.
Sementara itu, rata-rata imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) menurun sebesar 4,63 basis poin (bps) secara bulanan dan 62,68 bps secara tahunan, menandakan kondisi pasar yang relatif stabil.
Baca Juga: OJK-Menkeu Bentuk Tim Kerja Dorong Kinerja Pasar Modal
Namun, investor nonresiden tercatat masih berhati-hati. Selama September, investor asing melakukan net sell SBN sebesar Rp45,76 triliun, meski secara kumulatif sejak awal tahun masih mencatat net buy Rp31,45 triliun.
“Di pasar obligasi korporasi, investor nonresiden membukukan net sell Rp60 miliar pada bulan tersebut dan Rp1,21 triliun sepanjang tahun berjalan,” papar Inarno.
Industri pengelolaan investasi juga menunjukkan kinerja positif. Nilai aset kelolaan (Asset Under Management/AUM) per 30 September 2025 tercatat mencapai Rp913,96 triliun, naik 3,16% mtm atau 9,15% ytd.
Kenaikan ini menunjukkan tingginya minat investor domestik terhadap produk investasi berbasis pasar modal, terutama di tengah stabilitas ekonomi makro dan kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Dari sisi penghimpunan dana, pasar modal Indonesia terus menunjukkan tren positif.
Hingga akhir September 2025, nilai penawaran umum oleh korporasi mencapai Rp186,52 triliun, meningkat Rp18,60 triliun dibandingkan bulan sebelumnya.
Dalam periode yang sama, terdapat 17 emiten baru yang melakukan fundraising dengan nilai total Rp13,15 triliun.
OJK juga mencatat 20 rencana penawaran umum dalam pipeline dengan nilai indikatif Rp10,33 triliun.
“Kinerja ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia tetap menjadi sarana pembiayaan yang menarik bagi korporasi,” ujar Inarno.
Selain pasar modal konvensional, Securities Crowdfunding (SCF) juga terus tumbuh pesat sebagai alternatif pembiayaan usaha kecil dan menengah.
Sepanjang September, terdapat 37 efek baru yang diterbitkan dengan total dana dihimpun Rp64,61 miliar, serta 15 penerbit baru yang bergabung.
Sejak regulasi SCF diberlakukan, total 907 penerbitan efek telah dilakukan dengan nilai dana terkumpul Rp1,71 triliun dari 187.212 pemodal.
Inarno menilai perkembangan ini menjadi bukti bahwa transformasi digital di sektor keuangan mulai memberi dampak nyata terhadap inklusi pembiayaan nasional.
Pada pasar derivatif keuangan, volume transaksi dengan aset dasar berupa efek selama September mencapai 78.639 lot, sehingga total volume sejak awal tahun mencapai 812.223 lot.
Dari sisi frekuensi, transaksi meningkat 332.806 kali pada bulan September, dan secara kumulatif 3.589.171 kali sepanjang 2025.
OJK menilai aktivitas derivatif ini menunjukkan peningkatan minat investor terhadap instrumen lindung nilai (hedging) di tengah dinamika pasar global.
Inarno menegaskan bahwa OJK akan terus memperkuat pengawasan lintas sektor, termasuk pasar karbon, derivatif, dan investasi.
Tujuannya agar seluruh instrumen keuangan nasional dapat berjalan transparan, likuid, dan efisien.
“Kami memastikan seluruh pengembangan pasar keuangan, termasuk bursa karbon, tetap berada dalam koridor tata kelola yang baik dan mendukung pembangunan berkelanjutan,” tegasnya.
Dengan capaian tersebut, OJK optimistis bahwa ekosistem pasar keuangan Indonesia semakin matang.
Pengembangan bursa karbon diharapkan dapat menjadi pilar utama pembiayaan hijau (green finance) sekaligus mendukung target net zero emission Indonesia tahun 2060.
“Perdagangan karbon bukan hanya instrumen finansial, tetapi juga komitmen bersama menuju ekonomi hijau dan berkelanjutan,” tutup Inarno.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










