Akurat

Kenapa Harga Emas Naik Terus? Simak Penjelasan Lengkapnya!

Naufal Lanten | 20 September 2025, 14:14 WIB
Kenapa Harga Emas Naik Terus? Simak Penjelasan Lengkapnya!

AKURAT.CO Harga emas cenderung mengalami kenaikan dalam jangka panjang karena sifatnya yang dianggap sebagai aset lindung nilai (safe haven) dan penyimpan kekayaan yang stabil. Sejak ratusan tahun lalu, emas dipandang sebagai komoditas bernilai yang mampu menjaga daya beli di tengah inflasi, ketidakpastian ekonomi, fluktuasi mata uang, hingga perubahan kebijakan moneter global.

Faktor-faktor mendasar seperti pertumbuhan permintaan industri, keterbatasan pasokan tambang, kebijakan suku bunga bank sentral, dan kondisi geopolitik dunia terus memengaruhi pergerakan harga emas, menjadikannya investasi yang relevan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, meskipun ada koreksi jangka pendek, tren jangka panjang emas tetap menunjukkan potensi kenaikan yang menarik bagi investor.

Harga emas dunia kembali mencatatkan rekor baru pada pertengahan September 2025, menembus kisaran US$3.600–US$3.700 per troy ounce. Kenaikan ini bukan hanya fenomena sesaat, melainkan hasil dari serangkaian faktor ekonomi global, kebijakan bank sentral, hingga sentimen pasar yang saling berkaitan.

Data World Gold Council (WGC) dan laporan Reuters menunjukkan kenaikan harga emas sepanjang 2025 sudah mencapai sekitar 37–40%, menjadikannya salah satu reli terkuat dalam beberapa tahun terakhir.

Alasan Harga Emas Bisa Naik Terus

Kebijakan Bank Sentral Jadi Pemicu Utama

Salah satu alasan terbesar harga emas terus naik adalah kebijakan moneter yang lebih longgar dari bank sentral utama, terutama Federal Reserve di Amerika Serikat. Penurunan suku bunga acuan sebesar 0,25% pada September 2025 memicu ekspektasi bahwa biaya pinjaman akan tetap rendah dalam jangka waktu lama. Ketika suku bunga riil—yakni suku bunga dikurangi inflasi—turun, memegang emas menjadi lebih menarik karena logam mulia ini tidak memberikan bunga. Penurunan suku riil berarti investor tidak kehilangan peluang keuntungan ketika memilih menyimpan emas dibandingkan obligasi atau deposito.

Ekonom dan analis pasar berulang kali menegaskan bahwa hubungan antara suku bunga riil dan emas sangat kuat. Sejarah mencatat setiap kali suku bunga riil menurun, harga emas cenderung naik karena biaya oportunitas memegang emas menjadi lebih rendah.


Pembelian Besar-Besaran oleh Bank Sentral

Selain kebijakan moneter, pembelian emas oleh bank sentral juga menjadi pendorong signifikan. Menurut laporan WGC, bank sentral di berbagai negara mencatatkan pembelian besar pada kuartal pertama dan kedua 2025. Langkah ini dilakukan sebagai strategi diversifikasi cadangan devisa dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Ketika bank sentral membeli emas dalam jumlah besar, pasokan emas di pasar menyusut dan menciptakan tekanan harga ke atas. Aktivitas ini juga menjadi sinyal bahwa emas dipandang sebagai aset aman untuk melindungi nilai cadangan negara di tengah ketidakpastian global.


Arus Dana ke ETF dan Investor Ritel

Permintaan emas tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari investor institusional dan ritel melalui produk seperti Exchange Traded Fund (ETF) emas fisik. Data WGC menunjukkan aliran dana masuk ke ETF emas mencapai sekitar US$38 miliar pada paruh pertama 2025, setara ratusan ton emas fisik. Bahkan pada Agustus 2025, inflow bulanan kembali mencatatkan kenaikan signifikan.

Setiap kali investor membeli ETF emas, manajer dana harus menambah cadangan emas fisik untuk mendukung produk tersebut. Akibatnya, permintaan emas meningkat secara langsung, memperkuat tren kenaikan harga.


Permintaan Perhiasan dan Emas Batangan

Di luar dunia investasi, konsumsi emas untuk perhiasan dan batangan tetap menjadi komponen penting. India dan China, sebagai dua pasar perhiasan terbesar, menunjukkan permintaan yang kuat menjelang musim perayaan seperti Diwali di India. Laporan WGC menyoroti bahwa premi emas di India melonjak pada September 2025 karena pembelian menjelang festival, meski harga sudah tinggi.

Selain perhiasan, masyarakat juga membeli emas batangan dan koin sebagai bentuk investasi jangka panjang, terutama ketika kondisi ekonomi global penuh ketidakpastian.


Pasokan Tidak Mampu Mengejar Permintaan

Di sisi pasokan, produksi tambang emas global memang mencatat rekor kuartalan pada awal 2025. Namun, peningkatan pasokan tersebut tidak cukup untuk menahan lonjakan permintaan. Daur ulang emas, yang biasanya menjadi tambahan pasokan ketika harga tinggi, justru melambat karena pemilik memilih menahan emas menunggu harga lebih tinggi lagi. Ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan inilah yang semakin memperkuat kenaikan harga.


Ketidakpastian Geopolitik Memperkuat Peran Emas Sebagai Safe Haven

Ketegangan geopolitik, perang dagang, dan konflik di berbagai kawasan juga menjadi alasan investor berbondong-bondong membeli emas. Ketika kondisi dunia penuh ketidakpastian, emas selalu dipandang sebagai aset aman atau safe haven karena nilainya cenderung stabil bahkan ketika pasar saham bergejolak.

Perkembangan terbaru menunjukkan ketegangan di Timur Tengah dan dinamika hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok ikut memicu arus modal ke emas sepanjang 2025. Investor lebih memilih menaruh dana pada aset yang terbukti tahan terhadap krisis ketimbang mengambil risiko di pasar yang lebih fluktuatif.


Spekulasi Pasar dan Momentum Harga

Faktor lain yang memperkuat reli harga emas adalah aktivitas spekulasi di bursa berjangka seperti COMEX. Data dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) memperlihatkan peningkatan posisi beli (net long) oleh hedge fund dan spekulan besar selama 2025. Ketika banyak pelaku pasar menempatkan posisi beli, momentum harga semakin kuat dan menarik lebih banyak pembeli baru, sehingga menciptakan efek domino yang mendorong harga semakin tinggi.


Prospek ke Depan: Apakah Emas Akan Terus Naik?

Ke depan, arah harga emas akan sangat bergantung pada kebijakan bank sentral, terutama apakah The Fed akan melanjutkan pemangkasan suku bunga. Jika suku bunga riil tetap rendah, peluang emas untuk terus menguat masih terbuka. Namun, jika inflasi mereda lebih cepat dari perkiraan atau bank sentral mulai menaikkan suku bunga lagi, harga emas bisa mengalami koreksi.

Faktor geopolitik juga akan tetap menjadi variabel penting. Jika ketegangan global mereda, permintaan safe haven bisa menurun dan menekan harga. Sebaliknya, jika konflik baru muncul, emas berpotensi kembali menjadi primadona investor.


Kesimpulan

Kenaikan harga emas sepanjang 2025 bukan kebetulan. Kombinasi kebijakan moneter longgar, pembelian bank sentral, derasnya arus dana ke ETF, tingginya permintaan perhiasan, keterbatasan pasokan, hingga ketidakpastian geopolitik membuat emas terus melesat. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa emas tetap menjadi aset penting dalam menjaga nilai kekayaan, terutama saat dunia berada di tengah ketidakpastian ekonomi.

Kalau kamu tertarik mengikuti perkembangan harga emas dan faktor-faktor yang memengaruhinya, pantau terus update terbaru di media terpercaya agar tidak ketinggalan informasi penting.


Baca Juga: Harga Emas Hari Ini, 20 September 2025: Galeri24 dan Antam Masih Turun, UBS Makin Meningkat

Baca Juga: ​8 Strategi Cerdas Jual Emas Anti Rugi, Raih Cuan Maksimal!​

FAQ: Alasan Harga Emas Terus Naik

1. Mengapa harga emas cenderung naik dalam jangka panjang?
Harga emas naik karena sifatnya sebagai aset lindung nilai (safe haven). Emas menjaga daya beli ketika inflasi tinggi, nilai mata uang melemah, atau ekonomi global tidak stabil. Permintaan yang terus meningkat, sementara pasokan tambang terbatas, juga mendorong harga naik secara bertahap.

2. Apakah kebijakan bank sentral memengaruhi harga emas?
Ya. Keputusan bank sentral seperti Federal Reserve terkait suku bunga dan kebijakan moneter sangat berpengaruh. Suku bunga rendah atau pelonggaran moneter biasanya membuat emas lebih menarik karena biaya peluang untuk menyimpan emas menjadi lebih kecil.

3. Bagaimana inflasi memengaruhi harga emas?
Ketika inflasi tinggi, daya beli mata uang fiat menurun. Investor kemudian mencari aset yang lebih stabil, seperti emas, untuk melindungi kekayaan mereka. Permintaan emas yang meningkat akibat inflasi umumnya mendorong harganya naik.

4. Apakah ketegangan geopolitik dapat meningkatkan harga emas?
Benar. Konflik geopolitik, perang, atau ketidakpastian politik global sering membuat investor beralih ke emas sebagai aset aman. Lonjakan permintaan ini biasanya menyebabkan harga emas melonjak dalam waktu singkat.

5. Bagaimana peran permintaan industri dan perhiasan terhadap harga emas?
Selain sebagai investasi, emas digunakan untuk perhiasan, elektronik, dan medis. Kenaikan konsumsi di sektor-sektor ini, terutama di negara seperti India dan Tiongkok, berkontribusi pada kenaikan harga global.

6. Apakah pasokan emas dunia memengaruhi harga?
Ya. Produksi tambang emas dunia terbatas dan tidak bisa ditingkatkan secara drastis. Ketika permintaan meningkat sementara pasokan stagnan atau menurun, harga emas cenderung naik.

7. Apakah harga emas selalu naik setiap tahun?
Tidak selalu. Dalam jangka pendek, harga emas bisa mengalami koreksi karena faktor seperti penguatan dolar AS, kenaikan suku bunga, atau aksi ambil untung investor. Namun, tren jangka panjang tetap menunjukkan kecenderungan naik.

8. Bagaimana cara masyarakat berinvestasi emas?
Masyarakat dapat berinvestasi emas melalui logam mulia fisik (batangan, koin), emas digital, reksa dana emas, ETF emas, atau saham perusahaan pertambangan emas. Pilihan ini bergantung pada profil risiko dan tujuan investasi masing-masing.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.