Bitcoin Tertekan 5 Persen ke USD109.700 Jelang Rilis Data Inflasi AS
Hefriday | 26 Agustus 2025, 16:21 WIB

AKURAT.CO Pasar aset kripto tengah memasuki fase penuh kehati-hatian. Para investor memilih bersikap “wait and see” menjelang rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Index Amerika Serikat (AS) periode Juli 2025, yang akan menjadi acuan penting bagi Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah suku bunga acuannya.
Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menyebutkan bahwa data inflasi PCE selalu menjadi sorotan pasar global karena berperan sebagai indikator utama kebijakan moneter AS.
“Pasar kripto saat ini tengah berada pada mode wait and see. Inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi bisa menjadi katalis kuat untuk reli baru Bitcoin,” ujar Fahmi dalam keterangannya, Selasa (26/8/2025).
Menurutnya, bila data inflasi menunjukkan hasil positif, Bitcoin (BTC) berpotensi mencatat kenaikan signifikan dengan target jangka pendek di kisaran USD120.000. Bahkan, jika mampu menembus rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH), BTC bisa melesat hingga USD136.000.
Namun, Fahmi juga mengingatkan adanya risiko koreksi jika data inflasi justru lebih tinggi dari perkiraan. Dalam skenario tersebut, Bitcoin diprediksi melemah ke zona support 100.000–USD103.000, setelah sebelumnya menembus level penting di USD112.000. “Zona itu kini menjadi benteng bawah baru bagi Bitcoin,” jelasnya.
Hingga Selasa pagi, harga Bitcoin tercatat berada di USD109.700, turun sekitar 5% dalam 24 jam terakhir. Kondisi ini menambah tekanan setelah reli pada 14 Agustus yang sempat membawa harga BTC melampaui USD123.000.
Fahmi menilai rilis data PCE kali ini menjadi ujian krusial bagi arah jangka pendek Bitcoin. “Terlepas dari hasilnya, tren pelonggaran kebijakan moneter cepat atau lambat akan terjadi, yang dapat mengalirkan likuiditas lebih besar ke pasar kripto,” ujarnya.
Dirinya juga menambahkan, optimisme investor masih terjaga berkat ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada September 2025. Bank sentral AS telah menahan tingkat suku bunga selama sembilan bulan terakhir, sehingga pasar menilai waktunya sudah dekat untuk melakukan pelonggaran.
Menurut data CME FedWatch, probabilitas pemangkasan suku bunga masih bertahan di atas 85%. Bahkan, lembaga keuangan Jefferies meningkatkan target akhir tahun untuk indeks S&P 500 menjadi 6.600 poin, yang mencerminkan kepercayaan terhadap fundamental laba korporasi di AS.
Meski demikian, bayang-bayang risiko inflasi tetap menghantui. Jika inflasi melampaui ekspektasi, pasar keuangan, termasuk kripto dan saham, diperkirakan menghadapi tekanan dalam jangka pendek.
Berdasarkan proyeksi awal, inflasi PCE Juli 2025 diperkirakan naik sekitar 0,2–0,3% month-to-month (mtm). Fahmi menilai, jika angka ini sesuai atau bahkan lebih rendah dari perkiraan, The Fed bisa semakin yakin untuk memulai penurunan suku bunga acuannya secara bertahap.
“Jika inflasi lebih rendah, Bitcoin berpotensi rebound tajam, dan Wall Street bisa melanjutkan reli ke rekor tertinggi baru. Namun jika inflasi lebih tinggi, pasar berisiko tertekan, Bitcoin bisa kembali ke level USD100.000,dan indeks saham AS rentan terkoreksi singkat,” tutur Fahmi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









