Akurat

Tren Penguatan Rupiah: Dolar AS Tertekan Isu Federal Reserve dan Kesepakatan Dagang

Ratu Tiara | 23 Juli 2025, 10:00 WIB
Tren Penguatan Rupiah: Dolar AS Tertekan Isu Federal Reserve dan Kesepakatan Dagang
 
AKURAT.CO Rupiah diprediksi akan melanjutkan penguatannya hari ini, berpotensi meninggalkan level Rp16.300-an per dolar AS.
 
Pelemahan dolar AS menjadi faktor pendorong utama, terutama di tengah ketidakpastian seputar kebijakan Federal Reserve dan komentar Presiden AS Donald Trump.

Pelemahan Dolar AS dan Dampaknya

Indeks dolar AS (DXY) menunjukkan tren menurun, ditutup anjlok 0,47% di level 97,39 pada penutupan bursa New York kemarin. Meskipun sedikit menguat tipis 0,09% pagi ini, pelemahan signifikan sebelumnya telah meningkatkan daya tarik mata uang lain, termasuk rupiah.
 
Nilai tukar rupiah forward (NDF) di bursa New York ditutup menguat 0,37% di Rp16.283/US$, dan diperdagangkan di kisaran Rp16.284/US$ di bursa Singapura pagi ini. 
 
Angka ini jauh lebih kuat dibandingkan penutupan rupiah di pasar spot kemarin di Rp16.310/US$, mengindikasikan potensi penguatan lebih lanjut untuk rupiah.
 
Pada pasar Asia, mayoritas mata uang juga menunjukkan penguatan, dipimpin oleh baht yang melesat 0,43%, diikuti ringgit (0,15%), won (0,13%), yen (0,12%), dan yuan offshore (0,02%).
 

Masa Depan Federal Reserve di Bawah Sorotan

Kekhawatiran pasar terhadap independensi Federal Reserve semakin memuncak.
 
Presiden Trump kembali mengkritik keras Gubernur Jerome Powell, menyatakan bahwa Powell “telah melakukan pekerjaan yang buruk” dan “akan segera lengser” dalam delapan bulan. 
 
Trump meyakini suku bunga The Fed seharusnya 3 poin persentase lebih rendah dari posisi saat ini sebesar 4,25%. Namun, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memberikan pernyataan yang cenderung mendukung Powell dalam wawancara terbarunya, mengatakan “Tidak ada yang memberi tahu saya bahwa dia (Powell) harus mundur sekarang” dan bahwa Powell harus melanjutkan masa jabatannya jika dia menginginkannya.
 
Masa jabatan Powell akan berakhir pada bulan Mei mendatang.

Kesepakatan Dagang AS-Jepang Memberi Sentimen Positif

Selain isu The Fed, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kabar kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Jepang.
 
Presiden Trump mengumumkan bahwa tarif penjualan barang dari Jepang ke AS akan dikenakan sebesar 15%. 
 
Sebagai bagian dari kesepakatan ini, Jepang juga akan berinvestasi sebesar US$500 miliar di AS, serta membuka negaranya untuk impor mobil dan komoditas pertanian tambahan dari Negeri Paman Sam. Kesepakatan ini berpotensi membawa stabilitas dan sentimen positif bagi pasar global.

Proyeksi Defisit APBN 2025 Meningkat dari Dalam Negeri 

Di dalam negeri, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melaporkan bahwa perkiraan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 akan meningkat menjadi 2,78% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 
 
Angka ini lebih tinggi dari target awal sebesar 2,53%. Peningkatan defisit ini disebabkan oleh dinamika penerimaan dan belanja negara. 
 
Laporan ini disampaikan Sri Mulyani kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa malam (23/7/2025). 
 
Selain itu, Menteri Keuangan juga melaporkan kemajuan beberapa program unggulan pemerintah yang telah dibahas bersama DPR.
 
Secara keseluruhan, pelemahan dolar AS akibat isu Federal Reserve dan kesepakatan dagang AS-Jepang menciptakan peluang bagi rupiah untuk menguat. Namun, dinamika internal terkait peningkatan proyeksi defisit APBN 2025 akan tetap menjadi perhatian yang memengaruhi pergerakan pasar ke depan.
 
Bayu Aji Pamungkas (Magang)
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R