Didorong Optimisme Usai Halving, Bitcoin Nanjak di Awal Juli 2025
Hefriday | 3 Juli 2025, 22:24 WIB

AKURAT.CO Awal Juli 2025 menjadi momen menggembirakan bagi pelaku pasar kripto. Bitcoin (BTC) mencatat lonjakan signifikan dan menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan terakhir, yakni USD109.600 atau setara Rp1,77 miliar (kurs Rp16.213), hanya terpaut sekitar 2% dari rekor sepanjang masa di USD111.814 yang dicapai pada Mei lalu.
Menurut analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, kenaikan harga Bitcoin tersebut mencerminkan optimisme pasar meski tetap dibayangi ketidakpastian geopolitik global.
“Tekanan geopolitik terkait tarif, terutama menjelang batas waktu negosiasi pada 9 Juli 2025, sempat menimbulkan turbulensi di pasar kripto,” ungkap Fyqieh dalam keterangannya, Kamis (3/7/2025).
Ketegangan tersebut berasal dari kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS), di mana Presiden Donald Trump menyatakan tidak akan memperpanjang batas waktu negosiasi dagang. Jika tidak ada kesepakatan yang tercapai, Trump berencana menerapkan tarif tambahan, terutama dalam perundingan dengan Jepang.
Hal ini menambah ketidakpastian pasar, meskipun Trump sempat menyampaikan optimisme terhadap perjanjian perdagangan baru dengan Vietnam.
Meski ketegangan geopolitik meningkat, Fyqieh menilai dinamika ini turut mendorong aksi beli spekulatif, khususnya pada altcoin. Investor memanfaatkan momentum ini sebagai diversifikasi dan bentuk lindung nilai terhadap tekanan ekonomi global.
“Reli altcoin saat ini menunjukkan bahwa pasar mulai mencari peluang di luar dominasi Bitcoin, didorong oleh harapan terhadap pelonggaran suku bunga The Fed dan potensi arus modal institusi ke aset digital,” jelasnya.
Secara historis, bulan Juli memang dikenal sebagai periode positif bagi Bitcoin. Data menunjukkan rata-rata kenaikan bulanan sekitar 8,09%.
Dengan awal bulan yang kuat, pasar kini membuka kemungkinan bagi reli lanjutan, meski koreksi jangka pendek masih mungkin terjadi sebelum harga kembali menembus level USD110.000 atau lebih tinggi.
“Jika BTC mampu menembus resistance dan mempertahankan momentumnya, kuartal III berpeluang menjadi periode eksplosif seperti siklus pasca-halving sebelumnya," ujar Fyqieh.
Pola ini juga diperkuat oleh data historis yang menunjukkan bahwa tahun-tahun pasca-halving seperti 2013, 2017, dan 2021 menjadi momen penting bagi reli harga Bitcoin. Dalam konteks tersebut, kuartal ketiga dinilai sebagai titik awal dari kenaikan harga yang signifikan.
Analis dari Standard Chartered, Geoff Kendrick, turut memperkuat optimisme pelaku pasar dengan proyeksi bullish. Bank tersebut memperkirakan harga Bitcoin bisa mencapai USD135.000 pada akhir kuartal III dan menembus USD200.000 di akhir tahun 2025.
Kenaikan ini akan ditopang oleh meningkatnya partisipasi institusi dan sentimen positif terhadap ETF berbasis kripto.
Namun, di tengah euforia tersebut, para analis tetap mengingatkan pentingnya kewaspadaan. Risiko makroekonomi dan ketegangan geopolitik, khususnya terkait tarif perdagangan AS, masih menjadi ancaman yang dapat mengganggu kestabilan pasar dalam jangka pendek.
“Pasar saat ini berada di persimpangan penting. Di satu sisi ada tekanan tarif dan gejolak makro, tapi di sisi lain ada kekuatan historis dan fundamental bullish pasca-halving yang tidak bisa diabaikan,” tukas Fyqieh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










