Akurat

Yuk! Memahami Apa itu Floating Rate, Peluang dan Risiko dalam Dunia Keuangan Modern

Hefriday | 8 Juni 2025, 19:15 WIB
Yuk! Memahami Apa itu Floating Rate, Peluang dan Risiko dalam Dunia Keuangan Modern

AKURAT.CO Dalam dunia keuangan, istilah floating rate merujuk pada sistem suku bunga yang berubah-ubah mengikuti acuan tertentu seperti suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate/BI-7DRR), London Interbank Offered Rate (LIBOR), atau indeks pasar lainnya.

Berbeda dengan fixed rate atau suku bunga tetap, skema floating rate memungkinkan suku bunga naik atau turun tergantung pada kondisi pasar terkini.

Skema ini banyak digunakan dalam berbagai produk keuangan seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR), obligasi, pinjaman usaha, hingga deposito berjangka tertentu.

Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang floating rate sangat penting bagi masyarakat, investor, maupun pelaku bisnis yang ingin membuat keputusan keuangan secara bijak.

Dikutip dari berbagai sumber, Minggu (8/6/2025), secara sederhana, floating rate adalah suku bunga yang nilainya disesuaikan secara berkala berdasarkan perubahan suku bunga acuan pasar.

Baca Juga: Bitcoin Naik 2,59 Persen Usai Trump Dukung Pemangkasan Suku Bunga

Misalnya, jika BI-7DRR naik, maka bunga yang dibebankan pada pinjaman atau diberikan pada investasi dengan sistem floating rate juga akan meningkat. Hal ini memberikan fleksibilitas bagi penerbit maupun peminjam untuk menyesuaikan kondisi ekonomi yang fluktuatif.

Di Indonesia, tren penggunaan floating rate semakin berkembang seiring dengan dinamika kebijakan moneter Bank Indonesia. Misalnya, banyak produk KPR yang awalnya menggunakan bunga tetap selama beberapa tahun pertama, lalu dilanjutkan dengan skema floating rate.

Hal ini membuat nasabah harus memperhatikan pergerakan suku bunga pasar agar tetap bisa mengelola kewajiban cicilannya.

Dalam sektor investasi, floating rate banyak diterapkan pada obligasi ritel seperti ORI (Obligasi Ritel Indonesia) yang mengusung konsep floating with floor.

Artinya, meskipun bunga acuan turun, investor tetap akan menerima imbal hasil minimum tertentu. Skema ini membuat obligasi berbunga mengambang menjadi alternatif menarik saat tren suku bunga diperkirakan akan naik.

Namun, sistem floating rate tidak lepas dari risiko. Salah satu risiko utama adalah ketidakpastian cicilan bagi debitur. Ketika suku bunga pasar melonjak, maka cicilan bulanan pun ikut meningkat, yang bisa membebani kemampuan bayar nasabah.

Hal ini membuat floating rate kurang ideal bagi mereka yang menginginkan kepastian biaya dalam jangka panjang.

Baca Juga: Federal Reserve Waspadai Dampak Tarif, Tunda Pemangkasan Suku Bunga

Selain itu, perencanaan keuangan berbasis floating rate juga memerlukan kewaspadaan lebih tinggi. Perubahan suku bunga yang bersifat periodik bisa memengaruhi anggaran, baik individu maupun korporasi.

Oleh karena itu, beberapa strategi manajemen risiko bisa diterapkan, seperti memilih produk dengan batas atas dan bawah bunga (cap and floor), diversifikasi portofolio antara fixed dan floating rate, serta menggunakan instrumen lindung nilai seperti interest rate swap bagi perusahaan besar.

Sebagai ilustrasi, seseorang yang mengambil KPR dengan bunga fixed 5% selama dua tahun dan kemudian berubah menjadi floating mengikuti BI-7DRR + 3%, akan menghadapi cicilan yang berfluktuasi setelah masa fixed berakhir.

Jika BI-7DRR saat itu adalah 6%, maka bunga efektif menjadi 9%. Kenaikan suku bunga di masa depan tentu akan membuat cicilan ikut naik, sehingga perlu dipertimbangkan sejak awal.

Dari sisi lain, bagi investor, floating rate justru bisa menjadi peluang. Misalnya, ketika membeli obligasi dengan kupon mengambang dan suku bunga pasar meningkat, maka imbal hasil yang diterima juga bertambah.

Hal ini berbeda dengan obligasi fixed rate yang kuponnya tidak berubah meski suku bunga pasar naik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi