Akurat

Mengapa Saat Dolar AS Melemah, Harga Emas Malah Naik? Ini Penjelasannya

Hefriday | 1 Juni 2025, 20:05 WIB
Mengapa Saat Dolar AS Melemah, Harga Emas Malah Naik? Ini Penjelasannya

AKURAT.CO Emas telah lama dikenal sebagai instrumen investasi yang stabil dan relatif aman. Sifatnya yang tahan terhadap inflasi menjadikan logam mulia ini sebagai primadona dalam portofolio para investor, terutama saat pasar keuangan mengalami tekanan.

Meski demikian, memahami faktor-faktor yang mempengaruhi harga emas sangatlah penting untuk mengoptimalkan keuntungan, salah satunya adalah memahami hubungan erat antara harga emas dan dolar Amerika Serikat (AS).

Sebagai aset safe haven, emas cenderung diminati ketika ketidakpastian ekonomi global meningkat. Namun, pergerakan harga emas tidak berdiri sendiri.

Dikutip dari berbagai sumber, Minggu (1/6/2025), salah satu faktor utama yang turut memengaruhinya adalah nilai tukar dolar AS. Dalam dunia investasi, keduanya dikenal memiliki hubungan yang berkebalikan atau negatif.

Baca Juga: Daftar Harga Emas UBS dan Galeri 24 di Pegadaian 31 Mei 2025: Mengalami Kenaikan Jelang Idul Adha

Untuk memahami dinamika tersebut, perlu terlebih dahulu mengenal apa itu Indeks Dolar AS. Indeks ini, dikenal juga dengan kode DXY atau USDX, merupakan indikator yang mencerminkan kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia yaitu euro, yen Jepang, poundsterling, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss. Indeks ini menjadi barometer penting dalam mengukur performa mata uang AS di pasar global.

Ketika Indeks Dolar AS menguat, biasanya harga emas justru mengalami tekanan. Sebaliknya, saat nilai dolar AS menurun, harga emas cenderung naik.

Hal ini karena emas diperdagangkan secara global dalam denominasi dolar AS. Saat dolar melemah, harga emas menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan meningkat dan harga terdorong naik.

Meski standar emas sudah tidak diberlakukan sejak 1971, hubungan historis antara dolar AS dan emas masih memberikan pengaruh psikologis di pasar. Dulu, nilai dolar AS dijamin oleh cadangan emas.

Kini, meskipun keduanya telah dipisahkan dan bergerak secara independen berdasarkan mekanisme pasar, sentimen tersebut tetap membekas dan berperan dalam membentuk dinamika harga.

Baca Juga: Harga Emas Antam di Pegadaian 31 Mei 2025: Termurah Rp1.954.000 per Gram

Dua faktor utama menjadi penyebab kuatnya hubungan terbalik antara emas dan dolar AS. Pertama, saat dolar AS melemah, daya beli investor dari negara lain meningkat terhadap komoditas yang dihargai dalam dolar, termasuk emas.

Kedua, emas menjadi pilihan utama sebagai instrumen pelindung nilai (hedging) saat terjadi depresiasi mata uang, terutama dolar AS, sehingga permintaan meningkat.

Selain itu, dalam era digital dan pasar global yang terbuka, emas kini diperdagangkan tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga sebagai aset berjangka di bursa komoditas dan melalui kontrak spot seperti XAU/USD. Artinya, setiap perubahan nilai dolar AS akan secara langsung memengaruhi transaksi emas secara global.

Pemahaman terhadap hubungan antara harga emas dan dolar AS menjadi sangat penting bagi para investor yang ingin mengambil keputusan cerdas dalam mengelola portofolio. Dalam kondisi nilai tukar dolar yang berfluktuasi, strategi diversifikasi dan manajemen risiko dengan mempertimbangkan aset seperti emas bisa memberikan keuntungan optimal.

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi