Akurat

Meneropong Masa Depan Generasi Sandwich

Yosi Winosa | 31 Mei 2025, 18:03 WIB
Meneropong Masa Depan Generasi Sandwich

AKURAT.CO Fenomena generasi sandwich kian mencuat dalam lanskap sosial dan ekonomi Indonesia, seiring meningkatnya tekanan hidup bagi kelompok usia produktif.

Istilah ini merujuk pada individu dewasa yang harus menanggung beban finansial dua arah secara bersamaan yaitu membantu kebutuhan ekonomi orang tua yang sudah pensiun, sekaligus membiayai kehidupan anak-anak yang belum mandiri. 

Kondisi tersebut menempatkan generasi ini dalam tekanan psikologis dan finansial yang kompleks, dan menjadikan mimpi tentang masa pensiun yang tenang semakin jauh dari kenyataan.
 
Dengan kebutuhan yang terus bertambah dan pemasukan yang stagnan, banyak dari generasi ini kesulitan menabung atau mengalokasikan dana khusus untuk hari tua.
 
Pengeluaran bulanan mereka kerap habis untuk biaya hidup pokok, pendidikan anak, pengobatan orang tua, serta cicilan rumah atau kendaraan. 
 
 
Dalam situasi seperti ini, wacana pensiun bukanlah prioritas utama, melainkan dianggap sebagai kemewahan yang sulit dijangkau.
 
Dikutip dari beberapa sumber, Sabtu (31/5/2025), berdasarkan data lembaga keuangan nasional, masih rendahnya tingkat literasi keuangan dan kebiasaan menabung untuk masa pensiun menjadi salah satu penyebab utama sulitnya masyarakat menyiapkan hari tua.
 
Hal ini diperparah oleh minimnya jaminan sosial yang memadai, terutama untuk generasi yang tidak tergabung dalam program pensiun formal atau sektor pekerja informal yang jumlahnya cukup besar di Indonesia.
 
Dari sisi lain, norma sosial dan budaya turut memperkuat posisi generasi sandwich. Dalam banyak keluarga Indonesia, membiayai orang tua yang sudah lanjut usia dianggap sebagai bentuk tanggung jawab moral dan wujud bakti anak terhadap keluarga. 
 
Sayangnya, tanggung jawab ini kerap dibebankan tanpa adanya kesiapan atau dukungan sistemik yang memadai, sehingga berisiko memutus siklus keuangan sehat yang seharusnya dibangun sejak dini.
 
Dalam konteks perencanaan jangka panjang, generasi sandwich menghadapi tantangan serius untuk bisa keluar dari jerat siklus ini. Dibutuhkan disiplin finansial dan pengambilan keputusan yang rasional agar mereka dapat mulai membangun ketahanan ekonomi pribadi. 
 
Misalnya, dengan mulai menyusun anggaran bulanan yang realistis, memisahkan kebutuhan dan keinginan, serta menyisihkan dana pensiun secara konsisten meski dalam jumlah kecil.
 
Namun upaya tersebut tidak cukup jika tidak diimbangi dengan dukungan dari lingkungan sosial dan kebijakan publik.
 
Peran pemerintah menjadi sangat penting dalam menciptakan sistem jaminan sosial yang inklusif, kampanye literasi keuangan yang menyasar semua lapisan usia, serta program-program perlindungan lansia yang bisa meringankan beban finansial generasi penerus.
 
Selain itu, dunia pendidikan dan media juga memegang peranan dalam membentuk kesadaran kolektif tentang pentingnya mempersiapkan hari tua.
 
Melalui narasi di film, buku, podcast, dan media sosial, gambaran tentang beratnya beban generasi sandwich dapat menginspirasi masyarakat untuk mulai mengambil langkah antisipatif sejak dini.
 
Kehidupan masa pensiun sejatinya bukanlah sekadar impian, melainkan sebuah hak yang layak diraih oleh siapa pun yang telah melewati masa produktif dengan bekerja keras. Meski berada di tengah tekanan dua arah, generasi sandwich tetap memiliki peluang untuk merancang masa depan yang lebih stabil secara finansial. 
 
Hal ini memerlukan keberanian untuk mengubah cara pandang terhadap uang, membangun komunikasi yang sehat dalam keluarga, dan bersikap tegas dalam menentukan batas peran dan tanggung jawab.
 
Mimpi pensiun tidak harus identik dengan hidup tanpa pekerjaan sepenuhnya, melainkan lebih pada kebebasan untuk memilih. Ketika seseorang memiliki cukup tabungan, investasi, dan jaminan hari tua, mereka akan memiliki kendali lebih besar atas hidupnya di usia senja. 
 
Oleh karena itu, jalan menuju pensiun yang tenang memang tidak mudah, namun bukan tidak mungkin.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa