IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
Hefriday | 23 Mei 2025, 13:02 WIB

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir menguat 0,36% ke level 7.192 pada sesi I perdagangan Jumat (23/5/2025), didorong oleh sentimen positif dari penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Kondisi ini memberi angin segar bagi investor untuk kembali aktif di pasar saham, meski dibayangi sentimen global yang kurang kondusif. Sebelumnya pada perdagangan Kamis (22/5/2025), IHSG tercatat menguat 0,34% ke level 7.166. Sepanjang tahun berjalan 2025, indeks sudah menguat sebesar 1,23%.
Menurut Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, penguatan IHSG turut didorong oleh aksi beli bersih investor asing senilai Rp553 miliar, dengan saham-saham seperti BBRI, ANTM, BMRI, GOTO, dan BBCA menjadi incaran utama.
“Penguatan IHSG dipicu juga oleh rupiah yang menguat cukup signifikan terhadap dolar AS. Jika penguatan ini berlanjut, IHSG berpotensi menembus level resistance 7.200. Namun, jika tidak berhasil, koreksi terbatas sangat mungkin terjadi,” tulis Fanny dalam riset hariannya, Jumat (23/5/2025).
Pada perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan akan bergerak dalam rentang support 7.100—7.140 dan resistance 7.200—7.250. BNI Sekuritas menyarankan investor untuk mencermati saham-saham seperti ENRG, PGEO, AMRT, ADRO, TPIA, dan EMTK sebagai ide trading harian.
Sementara itu, Tim Analis BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan pergerakan IHSG akan berada di kisaran support 7.077 dan resistance 7.203. Mereka mencatat terbentuknya candle doji pada sesi sebelumnya sebagai sinyal perlambatan tren kenaikan, yang mengindikasikan potensi pelemahan teknikal dalam jangka pendek.
“Dengan terbentuknya doji, kami melihat ada kemungkinan tekanan jual terbatas yang bisa mendorong IHSG menuju support terdekat di 7.077. Namun, jika tekanan mereda, pengujian ke resistance 7.203 masih mungkin,” tulis analis BRI Danareksa.
Sejumlah saham yang mendapat rekomendasi beli dari BRI Danareksa adalah TLKM dan SMGR. Untuk saham INKP disarankan strategi buy on break, sementara saham KLBF disarankan untuk dijual seiring potensi tekanan teknikal.
Dari sisi global, mayoritas bursa saham di Asia mengalami tekanan, mengikuti pelemahan yang terjadi di Wall Street. Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 0,84%, sementara Topix melemah 0,58%. Di Korea Selatan, Kospi turun 1,22% dan Kosdaq melemah 0,82%. Indeks Hang Seng Hong Kong juga terkoreksi 1,19%.
Pelemahan pasar global dipicu kekhawatiran investor terhadap dampak jangka panjang Rancangan Undang-Undang (RUU) pajak baru yang disahkan DPR AS, yang mencakup pemotongan pajak dan peningkatan belanja militer.
Kantor Anggaran Kongres (CBO) memperkirakan kebijakan ini bisa meningkatkan utang pemerintah AS hingga mendekati USD4 triliun, sehingga memperlebar defisit anggaran.
Kondisi ini tercermin dari kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, khususnya tenor 30 tahun. Yield obligasi tenor 10 tahun sempat naik sebelum akhirnya sedikit turun. Kenaikan yield ini menjadi perhatian pasar karena berpotensi meningkatkan biaya pinjaman dan menekan aset berisiko seperti saham.
Di dalam negeri, Bank Indonesia melaporkan defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) sebesar USD800 juta pada kuartal I-2025.
Meski begitu, penguatan nilai tukar rupiah tetap menjadi penyeimbang sentimen negatif tersebut. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 0,43% atau 71 poin ke level Rp16.327,5 per USD.
Meskipun masih dihantui tekanan eksternal, kondisi domestik yang cukup stabil serta arus masuk modal asing menjadi landasan optimisme bagi investor di pasar saham.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










