GOTO Cetak Rekor Kinerja, Merger dengan Grab Jadi Sinyal Positif

AKURAT.CO PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah mencuat kabar rencana merger dengan Grab. Konsolidasi dua perusahaan teknologi besar Asia Tenggara ini dinilai analis akan menjadi langkah strategis untuk mengakhiri persaingan ketat dan beralih fokus pada profitabilitas.
Lembaga riset keuangan CLSA menyampaikan bahwa potensi merger ini memberi prospek cerah bagi saham GOTO, yang telah memperoleh rekomendasi buy dengan target harga mencapai Rp115, naik signifikan dibanding harga pasar terakhir di level Rp81 per saham.
Dikutip dari laman Investor, Selasa (13/5/2025), menurut CLSA, langkah GOTO melakukan restrukturisasi sejak akhir 2023 menjadi pondasi penting dalam memperkuat kinerja keuangannya. Dimulai dari penjualan Tokopedia ke TikTok pada Desember 2023, GOTO dinilai berhasil mengalihkan fokus ke lini bisnis yang memberikan margin lebih tinggi dan menghasilkan arus kas positif.
Baca Juga: Ojol Khawatirkan Pendapatan Susut Jika Merger Grab-GoTo Terealisasi
“Transaksi tersebut memungkinkan GOTO untuk lebih terkonsentrasi pada kegiatan usaha yang efisien dan berkelanjutan. Selain itu, kolaborasi dengan TikTok membuka peluang besar di sektor e-commerce, mengingat kekuatan basis pelanggan TikTok yang masif,” tulis CLSA dalam risetnya.
Langkah divestasi Tokopedia bukan hanya merampingkan portofolio bisnis GOTO, namun juga memperkuat sinergi dengan platform digital global. Akses Tokopedia ke TikTok membuka potensi pertumbuhan yang lebih cepat dengan memanfaatkan kekuatan jejaring dan teknologi dari TikTok.
CLSA menilai bahwa apabila merger dengan Grab benar-benar terealisasi, GOTO akan semakin kompetitif dan mampu meminimalkan beban persaingan yang selama ini menekan margin keuntungan.
“Jika merger terjadi, fokus perusahaan bisa diarahkan sepenuhnya ke profitabilitas,” lanjut CLSA.
Dari sisi kinerja, GOTO menunjukkan perbaikan signifikan pada kuartal I-2025. Perseroan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp4,2 triliun, tumbuh 37% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kerugian bersih juga berhasil ditekan menjadi Rp276 miliar dari sebelumnya Rp420 miliar.
Nilai transaksi bruto (GTV) inti grup selama kuartal pertama tahun ini tercatat sebesar Rp83,2 triliun atau meningkat 54% secara tahunan. Sedangkan GTV total mencapai Rp144,6 triliun, naik 24% dibandingkan kuartal I-2024. Perusahaan juga mencatatkan arus kas operasional positif sebesar Rp301 miliar.
Baca Juga: GoTo Dorong Inovasi Pertanian Kopi Lewat Gandrung Tirta di Malang
Salah satu indikator kinerja penting lainnya adalah EBITDA yang disesuaikan, di mana GOTO berhasil mencatatkan nilai positif Rp393 miliar pada kuartal I-2025, berbalik dari posisi rugi Rp101 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini dipicu oleh perbaikan pendapatan serta efisiensi dalam pengelolaan biaya operasional.
Dengan capaian tersebut, GOTO disebut berhasil mencetak rekor profitabilitas baru dan melanjutkan tren pemulihan yang telah dimulai sejak tahun lalu. Kinerja yang membaik ini memperkuat optimisme investor terhadap keberlanjutan bisnis GOTO, terlebih jika rencana merger dengan Grab benar-benar terwujud dalam waktu dekat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










