GoTo Dorong Inovasi Pertanian Kopi Lewat Gandrung Tirta di Malang

AKURAT.CO GoTo Impact Foundation (GIF) resmi meluncurkan inisiatif agribisnis kopi berkelanjutan bertajuk Gandrung Tirta melalui program Catalyst Changemakers Ecosystem (CCE) 3.0.
Program ini menyasar pemberdayaan petani, pemuda, dan ibu rumah tangga di Desa Ketindan, Kabupaten Malang, dengan pendekatan berbasis teknologi dan partisipasi masyarakat.
Inisiatif ini menjadi wujud kolaborasi antara GIF dan empat organisasi pendukung Agroniaga, BIOPS Agrotekno, FAM Rural, dan Rise Social yang berkomitmen mempercepat transformasi pertanian kopi di daerah.
Baca Juga: Setelah Gabung dengan PNM Mekaar, Penjual Kopi Kaki Lima Rasakan Dampak Signifikan
Gandrung Tirta memanfaatkan teknologi mutakhir seperti Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu para petani dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas kopi.
Ketua GoTo Impact Foundation, Monica Oudang, menegaskan bahwa program ini tidak hanya mengejar hasil panen, tetapi juga menumbuhkan kemampuan komunitas dalam menciptakan inovasi jangka panjang.
“Perubahan sistemik lahir dari keberanian dan kapasitas masyarakat untuk bertindak. Lewat CCLab, kami ingin masyarakat menjadi aktor utama dari perubahan itu,” ujarnya saat peluncuran program, Kamis (8/5/2025).
Desa Ketindan dipilih karena mencerminkan tantangan umum sektor kopi di Indonesia. Meskipun Indonesia merupakan produsen kopi keempat dunia, produktivitasnya masih tergolong rendah dan berada di peringkat ke-14 secara global. Di Ketindan, 200 petani kopi fine robusta tercatat baru mencapai produktivitas sebesar 43%.
Gandrung Tirta mengusung tiga strategi utama. Pertama, teknologi pertanian, di mana petani kini dapat memantau kondisi tanaman secara real-time dan akurat untuk memaksimalkan penggunaan pupuk serta pestisida, sekaligus meminimalkan risiko gagal panen.
Kedua, pengelolaan limbah organik yang melibatkan ibu rumah tangga untuk mengubah kulit kopi menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi seperti dompet dan aksesoris.
Strategi ketiga adalah program pemberdayaan kelembagaan dan pemuda desa. Pelatihan diberikan untuk mendorong budidaya kopi berkelanjutan, penguatan kapasitas wirausaha, dan pengelolaan kelompok tani secara modern. Tujuannya adalah menciptakan agribisnis kopi yang inklusif dan tahan terhadap tantangan pasar.
Baca Juga: Kuliner Baru di Blok M: Ayam Opor dan Kopi Santan di Depot Sameen Khas Blora
perwakilan dari Konsorsium Gandrung Tirta, Nasrullah Aziz, mengungkapkan harapannya bahwa program ini bisa meningkatkan praktik pertanian berkelanjutan hingga 80% serta mendongkrak produktivitas kopi sebesar 18% di tahun pertama pelaksanaan.
“Kami optimistis, dengan pendekatan kolaboratif ini, pendapatan petani bisa naik hingga 15%,” ujarnya.
Pemerintah daerah turut memberikan dukungan penuh terhadap program ini. Kepala BAPPEDA Kabupaten Malang, Ir. Tomie Herawanto, MP, menyatakan bahwa Gandrung Tirta sejalan dengan target indeks ekonomi hijau Kabupaten Malang sebesar 66,84% pada 2045.
Dirinya menegaskan bahwa agribisnis harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan sumber daya manusia, bukan hanya sekadar memenuhi permintaan pasar.
Peluncuran Gandrung Tirta menandai penyelesaian dari rangkaian peluncuran solusi CCE 3.0 di empat wilayah, yaitu Magelang, Lombok Tengah, Belitung, dan Malang. Setiap wilayah memiliki tantangan lokal yang ditangani melalui pendekatan inovatif, seperti pertanian regeneratif hingga budidaya ikan pascatambang.
Monica menutup acara dengan pesan inspiratif. Ia menekankan pentingnya menggabungkan potensi lokal, semangat gotong-royong, dan teknologi sebagai pendorong perubahan nyata.
“Sudah saatnya kita berani untuk berdaya, meninggalkan pendekatan lama yang menghambat kemajuan,” ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








