Inflasi Emas Tembus 10 Persen, BPS Imbau Masyarakat Waspada dalam Berinvestasi

AKURAT.CO Inflasi komoditas emas perhiasan pada April 2025 tercatat mencapai 10,52% secara bulanan (month-to-month/mtm). Angka ini menjadi yang tertinggi sejak masa pandemi COVID-19, tepatnya September 2020, menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS).
Kenaikan tajam ini sekaligus memperkuat tren kenaikan harga emas yang telah berlangsung selama hampir dua tahun terakhir.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan bahwa lonjakan harga emas ini tidak lepas dari pengaruh kenaikan harga emas dunia. Dirinya juga mengingatkan masyarakat untuk bersikap lebih bijak dan berhati-hati dalam memilih emas sebagai instrumen investasi, mengingat volatilitasnya yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir.
“Meningkatnya inflasi emas perhiasan ini terjadi seiring dengan kenaikan harga emas dunia. Kami menghimbau masyarakat agar lebih bijak dan tidak hanya tergiur keuntungan jangka pendek,” ujar Pudji dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (2/5/2025).
Baca Juga: Benarkah 60,3 Persen Masyarakat Indonesia Tergolong Miskin? Ini Penjelasan BPS
Tren inflasi emas sendiri menunjukkan konsistensi yang luar biasa. Tercatat, sejak Agustus 2023 ketika terakhir kali terjadi deflasi emas sebesar minus 0,3%, harga emas terus mengalami kenaikan tanpa jeda selama 20 bulan berturut-turut.
Bahkan pada September 2023, emas langsung mencatat inflasi kembali sebesar 0,41%. Situasi ini menunjukkan bahwa harga emas tidak hanya dipengaruhi oleh faktor musiman, tetapi juga kondisi ekonomi global dan preferensi masyarakat terhadap aset aman.
"Peningkatan harga emas ini turut memberi dampak signifikan terhadap angka inflasi nasional pada April 2025. Dalam konteks inflasi bulanan, emas memberikan andil sebesar 0,16%. Angka tersebut menjadikan emas sebagai salah satu penyumbang inflasi terbesar pada periode ini, setelah tarif listrik dan bawang merah," paparnya.
Selain itu, dalam konteks inflasi tahunan atau year-on-year (yoy), emas menjadi komoditas dengan kontribusi paling besar, yaitu sebesar 0,52% dari total inflasi tahunan yang tercatat sebesar 1,95%.
BPS juga melaporkan bahwa kenaikan harga emas turut mendorong kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,22 pada Maret 2025 menjadi 108,47 pada April 2025. Ini berarti inflasi bulanan secara keseluruhan mencapai 1,17% mtm. Sementara secara tahunan atau yoy tercatat sebesar 1,95%, dan secara tahun kalender (year-to-date/ytd) sebesar 1,56%.
Baca Juga: Kemenpar Gandeng BPS Tingkatkan Kualitas Data dan Informasi Pariwisata
"Kami akan terus memantau pergerakan harga emas dan dampaknya terhadap inflasi, sembari mendorong masyarakat untuk lebih cermat dalam mengambil keputusan investasi jangka menengah hingga panjang," paparnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









