Credit Scoring Inovatif Bikin Suku Bunga Lebih Kompetitif
Yosi Winosa | 21 April 2025, 18:17 WIB

AKURAT.CO Lembaga jasa keuangan (LJK) dapat menawarkan suku bunga pinjaman yang lebih kompetitif dengan memanfaatkan Innovative Credit Scoring (ICS).
Menurut Purnabakti Peneliti Eksekutif Senior Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Institute, Mulia R.H. Simatupang, pendekatan ICS memberikan penilaian risiko yang jauh lebih akurat dan mendalam dibandingkan sistem Conventional Credit Scoring (CCS).
“Kalau CCS masih cenderung menilai risiko secara umum dan seragam, ICS justru menawarkan analisis granular dan berbasis individu,” jelas Mulia di sela webinar OJK Institute di Jakarta, Senin (21/4/2025).
Dengan ICS, lembaga keuangan seperti bank dan peer-to-peer lending dapat menyesuaikan tingkat suku bunga secara lebih adil. Debitur dengan risiko rendah dapat memperoleh bunga yang lebih ringan, bahkan meskipun belum memiliki riwayat kredit sebelumnya.
“Ini tentu membuka peluang lebih besar bagi mereka yang belum pernah mengakses layanan keuangan formal untuk mendapatkan pembiayaan,” tambah Mulia.
Sistem ICS pun dinilai lebih inklusif dan berpotensi memperluas cakupan pembiayaan secara nasional.
Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Eksekutif Senior OJK Institute, Setiawan Budi Utomo, menekankan pentingnya perlindungan data dalam implementasi ICS.
Ia memastikan bahwa OJK memiliki kemampuan teknis dan pengalaman dalam menjaga keamanan data nasabah, sebagaimana yang telah diterapkan dalam pengelolaan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).
“Kami sangat percaya diri, OJK mampu mengelola data besar ini dengan baik, sama seperti mengelola database SLIK,” ujar Setiawan.
Dirinya juga mengingatkan bahwa perlindungan data konsumen merupakan prioritas utama dalam transformasi digital sektor keuangan.
Credit scoring secara umum merupakan metode untuk mengukur kelayakan kredit seseorang berdasarkan riwayat pembayaran dan faktor-faktor risiko lainnya.
Namun, ICS membawa pendekatan baru dengan memanfaatkan teknologi Big Data dan Machine Learning untuk menggali potensi risiko secara dinamis.
Sistem ini juga menggunakan sumber data alternatif seperti data telekomunikasi, aktivitas media sosial, hingga pola belanja daring, untuk menilai kemampuan membayar calon debitur.
Dengan pendekatan ini, lembaga keuangan bisa menjangkau kelompok masyarakat unbanked dan underbanked yang selama ini belum terlayani secara optimal.
Selain meningkatkan inklusi keuangan, ICS juga membuka ruang bagi pengembangan produk-produk keuangan yang lebih personal dan sesuai kebutuhan pasar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










