Akurat

IHSG Berpeluang Menguat di Tengah Sinyal Dovish The Fed

Hefriday | 11 Desember 2025, 17:32 WIB
IHSG Berpeluang Menguat di Tengah Sinyal Dovish The Fed

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai memiliki ruang penguatan hingga akhir tahun seiring stabilnya fundamental ekonomi nasional dan sentimen global yang semakin kondusif. 

Ekonom Senior Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menilai serangkaian indikator pertumbuhan domestik serta keputusan terbaru Federal Reserve (The Fed) memagkas suku bunga membuka kesempatan bagi pasar modal Indonesia untuk bergerak lebih optimistis.

Fithra menjelaskan bahwa perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah guncangan global, termasuk tekanan tarif dan penurunan permintaan yang dipicu kebijakan perdagangan Presiden AS, Donald Trump. 
 
Meski banyak lembaga internasional telah merevisi turun proyeksi ekonomi global, Indonesia tetap mampu mempertahankan pertumbuhan di kisaran 5%.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini kemungkinan berada di 5,05–5,1 persen. Artinya, fundamental kita cukup solid,” ujarnya  dalam Media Briefing Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026, di Jakarta, Kamis (11/12/2025).
 
Baca Juga: Akhir Pekan IHSG Bakal Melemah ke Kisaran 8.325-8.350? Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Menurut Fithra, perkembangan sektor industri pengolahan yang tumbuh signifikan pada kuartal kedua menjadi salah satu penopang optimisme pasar modal. Peningkatan kinerja industri logam dasar, kimia, hingga biofuel berperan besar dalam mendorong ekspor dan menjaga surplus neraca dagang selama lima bulan berturut-turut.

Fenomena front-loading yakni percepatan ekspor sebelum tarif AS berlaku juga memberi dorongan ekstra terhadap aktivitas industri dan kinerja emiten terkait. Kondisi ini tercermin dari performa positif beberapa saham sektor kimia, energi terbarukan, dan komoditas turunan CPO.

“Ketika industri pengolahan mampu tumbuh di atas 5 persen, maka prospek ekonomi secara keseluruhan ikut membaik. Ini menjadi katalis positif bagi IHSG,” kata Fithra.

Pasar juga menyambut positif keputusan The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada dini hari tadi. Meskipun dinilai dovish namun berhati-hati, keputusan tersebut langsung menekan imbal hasil US Treasury 10 tahun ke kisaran 4%, atau jauh lebih rendah dari level sebelumnya.

“Berbeda dengan tahun lalu, pemotongan bunga kali ini langsung membuat yield US Treasury turun. Ini memberi ruang bagi arus modal untuk kembali masuk ke emerging market, termasuk Indonesia,” ujar Fithra.

Penurunan yield global kerap menjadi sinyal bagi investor untuk mengalihkan portofolio ke aset berisiko, salah satunya saham. Hal ini berpotensi memperbaiki aliran dana asing ke IHSG, yang sebelumnya menahan diri akibat ketidakpastian global.

Selain faktor global, kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) turut memperkuat sentimen pasar modal. Pemerintah melakukan injeksi stimulus pada kuartal keempat, termasuk subsidi sektor kreatif dan transportasi, sementara BI memindahkan Rp200 triliun dana pemerintah ke perbankan guna menurunkan cost of fund.

“Ketika biaya dana turun dan permintaan kredit meningkat, kegiatan ekonomi akan bertambah solid. Ini menjadi faktor fundamental yang mendukung performa pasar saham,” jelasnya.

Dengan dukungan likuiditas tersebut, Fithra memperkirakan ekonomi kuartal IV bisa tumbuh 5,2–5,3%. Pertumbuhan kuat itu diyakini akan ikut memperkuat kinerja emiten dan menjaga kepercayaan investor di bursa.

Mempertimbangkan stabilnya ekonomi domestik, surplus perdagangan yang konsisten, serta sentimen positif dari The Fed, IHSG dinilai masih memiliki peluang untuk menguat dalam beberapa pekan ke depan. Sektor industri pengolahan, komoditas turunan, transportasi, dan ekonomi kreatif disebut akan menjadi magnet bagi investor.

“Jika momentum pertumbuhan dapat dijaga hingga akhir tahun, IHSG berpotensi bergerak lebih positif. Optimisme pasar didukung oleh data ekonomi yang cukup kuat,” ujar Fithra.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perkembangan ekonomi wilayah Sumatra yang tengah tertekan dapat menjadi faktor penghambat. Dampaknya terhadap pertumbuhan nasional diperkirakan 0,05–0,1%, namun tidak cukup besar untuk menggoyang stabilitas pasar.
 
Adapun pada perdagangan Kamis (11/12/2025), IHSG ditutup memerah 80,44 poin (0,92%) ke level 8.620,48.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa