AKURAT.CO Di tengah gonjang-ganjing tarif Trump, pasar obligasi RI masih relatif lebih stabil. Pasalnya, porsi investor asing juga relatif lebih kecil.
Menurut data setelmen hingga 16 April 2025 BI, sepanjang 2025 nonresiden (asing) tercatat masih melakukan beli bersih (capital inflow) Rp9,63 triliun di pasar SBN.
Padahal di pasar saham dan SRBI, asing sudah kabur (capital outflow) dengan melakukan jual bersih masing-masing Rp36,86 triliun dan Rp7,94 triliun.
Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto, dalam kesempatan tersebut memberikan pandangan positif terhadap pasar obligasi.
Ia menyebut bahwa meskipun suku bunga global masih bergerak fluktuatif, kepemilikan asing di surat utang Indonesia yang hanya sekitar 14% membuat pasar obligasi relatif stabil.
Baca Juga: Dana Asing Rp10,15 Triliun Kabur dari RI Picu IHSG Ambruk hingga Trading Halt
"Tekanan jual dari asing kini jauh berkurang, sehingga kami melihat pasar obligasi tetap menarik," kata Handy di acara "The Sucor Stage" bertajuk Market Outlook 2025: Navigating Investments in New Regime yang digelar oleh PT Sucorinvest Asset Management (Sucor AM) belum lama ini.
Sementara itu, CEO Sucor AM, Jemmy Paul Wawointana, menyampaikan bahwa Indonesia sedang memasuki fase krusial transisi pemerintahan yang bersamaan dengan dinamika global yang turut mempengaruhi pasar keuangan.
"Kita semua sedang berada di fase penting di mana transisi nasional dan dinamika global akan membentuk arah baru bagi performa dan pasar keuangan di Indonesia," ujar Jemmy dalam keterangannya, Sabtu (19/4/2025).
Jemmy menekankan bahwa tidak hanya perubahan di dalam negeri, faktor luar seperti kebijakan suku bunga dari Amerika Serikat (AS), tensi geopolitik, hingga tren global juga harus menjadi perhatian dalam menentukan strategi investasi.
Menurutnya, investor memerlukan arahan dan strategi yang tidak hanya relevan tetapi juga dapat diandalkan di tengah ketidakpastian.
Di sisi lain, Wakil Komisaris Utama PT Bank Syariah Indonesia (BSI), Adiwarman Karim, mengingatkan para investor untuk tidak hanya ikut-ikutan dalam berinvestasi. Ia menekankan pentingnya analisis fundamental sebelum mengambil keputusan finansial.
"Jangan sekadar mengikuti tren. Pelajari dulu fundamentalnya dan amati pasar agar keputusan investasi tidak salah arah," ujar Adiwarman.
Para fund manager dalam acara tersebut juga menyoroti pentingnya pendekatan investasi yang sesuai dengan profil risiko dan jangka waktu investasi masing-masing individu.
Tidak semua produk reksa dana cocok untuk semua investor, sehingga pemilihan produk harus disesuaikan secara cermat.
Tim Sucor AM pun merekomendasikan beberapa produk investasi yang dinilai relevan dengan kondisi saat ini. Bagi investor agresif, Sucorinvest Equity Fund (SEF) bisa menjadi pilihan karena fokus pada saham-saham berfundamental kuat.
Sedangkan bagi investor yang konservatif dan butuh likuiditas tinggi, Sucorinvest Money Market Fund (SMMF) menjadi alternatif.
Selain itu, Sucorinvest Monthly Income Fund (SMIF) ditawarkan untuk mereka yang mencari pendapatan rutin dari investasi di obligasi, sementara produk berbasis indeks seperti Sucor IDX30 Fund cocok untuk strategi jangka menengah hingga panjang.
Hingga Maret 2025, Sucor AM mencatat dana kelolaan mencapai Rp26,7 triliun dan telah melayani lebih dari 2,2 juta investor di seluruh Indonesia.
Angka tersebut menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap produk-produk reksa dana, sekaligus mencerminkan peran Sucor AM dalam mendemokratisasi akses ke pasar modal nasional.