Akurat

Junk Bond: Pengertian, Keuntungan, dan Risiko Investasi yang Perlu Diketahui

Eko Krisyanto | 17 Desember 2025, 23:30 WIB
Junk Bond: Pengertian, Keuntungan, dan Risiko Investasi yang Perlu Diketahui

AKURAT.CO Dalam dunia investasi, banyak orang mengincar instrumen yang bisa memberi imbal hasil tinggi.

Salah satu yang kerap menarik perhatian adalah junk bond atau disebut juga obligasi berimbal hasil tinggi. Meski menjanjikan keuntungan besar, jenis obligasi ini memiliki risiko yang tidak bisa dianggap remeh.

Lantas, apa sebenarnya junk bond itu dan mengapa disebut berisiko tinggi?

Bagaimana cara investor bisa menilai apakah instrumen ini cocok untuk mereka? Simak pembahasan lengkapnya berikut ini.

Baca Juga: Pramono Masih Tunggu Restu Kemenkeu Soal Obligasi Daerah dan Jakarta Collaboration Fund

Apa Itu Junk Bond?

Secara sederhana, junk bond adalah obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan dengan tingkat kepercayaan atau peringkat kredit rendah.

Artinya, perusahaan penerbit dinilai memiliki risiko gagal bayar lebih besar dibandingkan perusahaan yang menerbitkan obligasi berkualitas tinggi.

Karena risikonya lebih tinggi, penerbit junk bond biasanya menawarkan bunga yang lebih besar untuk menarik minat investor.

Rating obligasi seperti ini biasanya berada di bawah “investment grade,” misalnya BB, B, atau CCC, berdasarkan penilaian lembaga seperti Standard & Poor’s, Fitch Ratings, atau Moody’s

Mengapa Investor Tertarik pada Junk Bond?

Meskipun berisiko, junk bond punya daya tarik tersendiri.
 
Imbal hasil atau kupon yang ditawarkan bisa jauh lebih tinggi dibanding obligasi pemerintah atau korporasi besar yang lebih aman.
 
Bagi investor berpengalaman yang memahami risiko dan bisa memantau kondisi keuangan penerbit, junk bond dapat menjadi cara untuk memperoleh pendapatan yang lebih besar.

Selain itu, jika perusahaan penerbit berhasil meningkatkan kinerjanya, nilai obligasi tersebut bisa naik, memberikan potensi keuntungan ganda bagi investor, baik dari bunga maupun apresiasi harga.

Baca Juga: Reksa Dana Campuran vs Pasar Uang: Mana yang Tepat untuk Investor Pemula?

Risiko Berinvestasi pada Junk Bond

Namun, di balik peluang keuntungan besar, junk bond juga memiliki sejumlah risiko yang perlu dipahami dengan baik:

  1. Risiko Gagal Bayar (Default Risk)
    Perusahaan penerbit mungkin gagal membayar bunga atau pokok utang karena kondisi keuangan yang lemah. Ini menjadi risiko terbesar bagi investor karena potensi kehilangan modal bisa tinggi.

  2. Risiko Likuiditas
    Junk bond cenderung sulit dijual kembali dengan cepat. Pasarnya tidak sebesar obligasi pemerintah atau korporasi besar, sehingga investor mungkin perlu menjual dengan harga lebih rendah jika butuh dana mendadak.

  3. Risiko Pasar dan Ekonomi
    Ketika ekonomi melemah, investor biasanya lebih berhati-hati terhadap aset berisiko tinggi. Akibatnya, harga junk bond bisa turun drastis karena permintaan menurun.

  4. Risiko Penurunan Rating
    Jika kondisi perusahaan memburuk, rating junk bond bisa turun lebih rendah lagi, bahkan mendekati status gagal bayar. Hal ini dapat mengurangi nilai investasi secara signifikan.

Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli Junk Bond

Sebelum memutuskan berinvestasi, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:

  • Pelajari profil dan kondisi keuangan penerbit. Pastikan perusahaan memiliki prospek bisnis yang jelas.

  • Periksa rating kredit terbaru. Rating membantu menilai seberapa besar risiko yang melekat pada obligasi tersebut.

  • Diversifikasi portofolio. Jangan hanya menaruh uang di satu atau dua junk bond saja. Campurkan dengan instrumen lain agar risiko tersebar.

  • Pahami waktu yang tepat untuk berinvestasi. Ketika ekonomi stabil, potensi junk bond menghasilkan keuntungan lebih baik dibanding saat pasar sedang bergejolak.

Nadira Maia Arziki (Magang)



Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R