Bitcoin Cenderung Turun di Ramadan, Bos Indodax: Perubahan Psikologi Pasar
Hefriday | 10 Maret 2025, 15:42 WIB

AKURAT.CO CEO Indodax, Oscar Darmawan, menyatakan bahwa penurunan harga kripto yang kerap terjadi setiap bulan Ramadan bukan semata-mata fenomena musiman, melainkan dipengaruhi oleh perubahan psikologi pasar selama bulan puasa.
Oscar mengungkapkan bahwa selama beberapa tahun terakhir, harga Bitcoin menunjukkan kecenderungan penurunan yang cukup konsisten pada bulan Ramadan.
Menurut Oscar, data historis menunjukkan bahwa selama Ramadan 2021, harga Bitcoin turun sebesar 21,71%. Penurunan serupa terjadi pada Ramadan 2022 dengan penurunan sebesar 16%.
Meskipun tren penurunan masih berlanjut, penurunan pada Ramadan 2023 tercatat hanya sebesar 3,73%, dan pada Ramadan 2024 kembali terkoreksi sebesar 4,14%.
Data ini menandakan bahwa meski terdapat perbedaan persentase, setiap Ramadan selalu terjadi penurunan harga yang cukup signifikan.
Oscar menambahkan bahwa pola penurunan ini tidak terlepas dari minat investor ritel yang cenderung berkurang selama bulan Ramadan.
Menurutnya, berkurangnya minat tersebut menyebabkan tekanan jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, sehingga banyak investor mulai mengambil untung sebelum Ramadan tiba.
Namun, memasuki Ramadan 2025, pasar kripto menunjukkan dinamika yang berbeda. Oscar mencatat bahwa Bitcoin sempat mengalami lonjakan hingga delapan persen dalam satu hari dan kembali mencapai level USD90.000, meskipun sebelumnya sempat merosot ke bawah USD80.000.
Lonjakan tersebut didorong oleh sentimen positif terkait rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dikabarkan akan mengusulkan penciptaan cadangan kripto nasional.
"Elemen geopolitik tahun ini sangat kuat dalam mempengaruhi pergerakan pasar kripto. Jika pemerintah AS benar-benar mengambil langkah serius untuk menjadikan aset digital sebagai bagian dari kebijakan moneter, dampaknya akan sangat besar bagi industri kripto secara global," ujar Oscar dalam keterangannya, Senin (10/3/2025).
Selain faktor geopolitik, kebijakan ekonomi global juga menjadi faktor utama yang mempengaruhi volatilitas harga kripto.
Oscar mengungkapkan bahwa kebijakan baru AS yang menaikkan tarif impor sebesar 25% terhadap barang dari Kanada dan Meksiko turut memicu ketidakpastian di pasar finansial, sehingga arus modal global semakin dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi.
Ia menekankan bahwa aset kripto kini semakin erat kaitannya dengan kebijakan ekonomi makro. Oleh karena itu, investor harus memahami bahwa fluktuasi harga kripto tidak semata disebabkan oleh faktor teknikal, melainkan juga oleh kebijakan ekonomi yang diambil oleh negara-negara besar.
Meskipun sentimen bullish terlihat cukup kuat di awal Ramadan 2025, Oscar mengingatkan bahwa volatilitas tetap menjadi tantangan utama di pasar kripto.
Dengan jadwal pelaksanaan White House Crypto Summit pada 7 Maret, para pelaku pasar masih menunggu kejelasan arah regulasi yang dapat mempengaruhi pergerakan harga ke depannya.
Strategi investasi yang paling relevan dalam situasi ini, menurut Oscar, adalah dengan menerapkan prinsip manajemen risiko yang baik. Ia menyarankan agar investor tidak terlalu bergantung pada pergerakan harga Bitcoin saja, melainkan melakukan diversifikasi portofolio.
"Diversifikasi bukan hanya soal memiliki banyak aset, tetapi juga memahami bagaimana setiap aset merespons kondisi pasar yang berbeda," ungkapnya.
Selain itu, lonjakan harga Bitcoin baru-baru ini juga dipicu oleh partisipasi investor institusional yang mulai menganggap kripto sebagai aset safe haven.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat tekanan dari sisi psikologi pasar, potensi pertumbuhan jangka panjang tetap dapat terlihat melalui dukungan dari institusi keuangan besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









