Danantara, Bayi Disuruh Lari (Bagian 2)
Demi Ermansyah | 28 Februari 2025, 16:21 WIB

AKURAT.CO Indonesia beberapa waktu lalu meluncurkan Danantara, sebuah Sovereign Wealth Fund (SWF) yang diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekonomi nasional.
Pada bagian sebelumnya, Akurat.co telah mengulas model bisnis dan operasional Danantara. Pada bagian ini, pembahasan Danantara fokus pada perbandingan Danantara dengan SWF di berbagai negara.
Namun, apa sebenarnya yang membedakan Danantara dari SWF lainnya di dunia? Mari kita telusuri lebih dalam mengenai model operasional Danantara dan posisinya di antara SWF global lainnya.
Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, Danantara merupakan sebuah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia dengan tujuan mengelola dan mengoptimalkan aset negara.
Dimana diluncurkan pada Februari 2025, Danantara diharapkan dapat mengelola aset senilai lebih dari USD900 miliar dan berperan signifikan dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% per tahun.
Model Operasional Danantara
Melansir berbagai sumber, Jumat (28/2/2025), Danantara memiliki dua pilar utama yakni Holding Operasional dan Holding Investasi, dimana untuk pilar Holding Operasional ini akan bertanggung jawab atas pengelolaan langsung Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di bawah naungan Danantara.
Memiliki satu tujuan utama yakni peningkatan efisiensi dan profitabilitas BUMN tersebut melalui restrukturisasi, modernisasi, dan penerapan praktik bisnis terbaik. Dengan demikian, BUMN diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.
Sedangkan untuk pilar Holding Investasi, pilar ini berfokus pada pengelolaan portofolio investasi, baik di dalam maupun luar negeri. Holding Investasi akan mencari peluang investasi yang strategis dan menguntungkan, dengan tujuan memaksimalkan return on investment dan mendiversifikasi sumber pendapatan negara.
Terinspirasi dari Temasek?
Usut punya usut, model operasional Danantara nampaknya terinspirasi dari Temasek Holdings di Singapura. Seperti Temasek, Danantara akan berperan sebagai pengelola aset negara dengan pendekatan korporasi, berfokus pada profitabilitas dan pertumbuhan jangka panjang.
Namun, berbeda dengan Temasek yang sepenuhnya independen, Danantara masih berada di bawah pengawasan pemerintah, meskipun dijanjikan akan beroperasi secara profesional dan transparan.
Perbandingan dengan SWF Global Lainnya
Dalam rangka memahami posisi Danantara di antara SWF global lainnya, mari kita lihat beberapa perbandingan berikut mengutip dari berbagai sumber.
1. Struktur dan Kepemilikan
Temasek Holdings (Singapura) beroperasi sebagai entitas komersial yang sepenuhnya dimiliki oleh pemerintah Singapura, namun beroperasi secara independen dengan dewan direksi profesional.
GIC (Government of Singapore Investment Corporation) sementara itu mengelola cadangan devisa Singapura dengan fokus pada investasi jangka panjang di berbagai kelas aset.
Sedangkan Danantara (Indonesia), dimiliki oleh pemerintah Indonesia dengan struktur dua pilar (Holding Operasional dan Holding Investasi). Meskipun terinspirasi dari Temasek, Danantara masih dalam proses menuju operasional yang sepenuhnya independen.
2. Sumber Dana
GIC (Government of Singapore Investment Corporation) sementara itu mengelola cadangan devisa Singapura dengan fokus pada investasi jangka panjang di berbagai kelas aset.
Sedangkan Danantara (Indonesia), dimiliki oleh pemerintah Indonesia dengan struktur dua pilar (Holding Operasional dan Holding Investasi). Meskipun terinspirasi dari Temasek, Danantara masih dalam proses menuju operasional yang sepenuhnya independen.
2. Sumber Dana
Norwegian Government Pension Fund Global (Norwegia) dibiayai oleh pendapatan dari sektor minyak dan gas.
Abu Dhabi Investment Authority (Uni Emirat Arab) sementara itu dibiayai oleh surplus pendapatan minyak.
Danantara (Indonesia) di sisi lain mengelola aset BUMN dan mencari sumber pendanaan tambahan melalui investasi asing dan kerjasama strategis.
3. Fokus Investasi
Abu Dhabi Investment Authority (Uni Emirat Arab) sementara itu dibiayai oleh surplus pendapatan minyak.
Danantara (Indonesia) di sisi lain mengelola aset BUMN dan mencari sumber pendanaan tambahan melalui investasi asing dan kerjasama strategis.
3. Fokus Investasi
Temasek Holdings berinvestasi di berbagai sektor seperti keuangan, telekomunikasi, transportasi, dan teknologi, dengan fokus pada pertumbuhan jangka panjang.
GIC melakukan diversifikasi portofolio global di berbagai kelas aset termasuk ekuitas, obligasi, real estate, dan infrastruktur.
Danantara, sementara itu fokus pada sektor-sektor strategis seperti pengolahan logam, kecerdasan buatan, kilang minyak, energi terbarukan, dan produksi pangan.
GIC melakukan diversifikasi portofolio global di berbagai kelas aset termasuk ekuitas, obligasi, real estate, dan infrastruktur.
Danantara, sementara itu fokus pada sektor-sektor strategis seperti pengolahan logam, kecerdasan buatan, kilang minyak, energi terbarukan, dan produksi pangan.
Tantangan
Seperti yang diketahui, dalam membuat sebuah badan atau lembaga baru, maka transparansi dan tata kelola menjadi salah satu point paling utama, ya meskipun pemerintah menjanjikan operasional yang transparan.
Sebab masih ada kekhawatiran mengenai potensi intervensi politik dalam pengelolaan Danantara. Pembelajaran dari kasus seperti 1MDB di Malaysia menekankan pentingnya tata kelola yang baik dan pengawasan independen.
Kemudian yang kedua yakni, integrasi Aset BUMN, dimana nantinya harus menkonsolidasikan berbagai BUMN ke dalam satu entitas pengelola bukanlah tugas mudah. Diperlukan strategi yang matang untuk memastikan sinkronisasi operasional dan budaya kerja.
Daya Saing Global, untuk bersaing dengan SWF global lainnya, Danantara harus mampu menarik talenta terbaik dan mengadopsi praktik investasi kelas dunia.
Peluang
Pertama, Optimalisasi Aset Negara. Dengan pengelolaan profesional, aset-aset BUMN yang sebelumnya kurang produktif dapat dioptimalkan untuk memberikan return on investment yang lebih tinggi.
Keuda, Diversifikasi Sumber Pendapatan. Melalui investasi di berbagai sektor dan wilayah, Danantara dapat membantu mengurangi ketergantungan ekonomi Indonesia pada sektor tertentu.
Ketiga, Peningkatan Daya Tarik Investasi. Keberadaan Danantara dapat menjadi sinyal positif bagi investor asing mengenai komitmen Indonesia terhadap reformasi ekonomi dan pengelolaan aset yang profesional.
Nah, berdasarkan dari analisa di atas, secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwasanya Danantara hadir sebagai upaya Indonesia untuk mengoptimalkan pengelolaan aset negara dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Tentunya dengan model operasional yang terinspirasi dari Temasek Holdings, Danantara memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama di kancah SWF global.
Namun, kesuksesannya akan sangat bergantung pada implementasi tata kelola yang baik, transparansi, dan profesionalisme dalam operasionalnya.
Dengan mengatasi tantangan-tantangan tersebut, Danantara dapat berkontribusi signifikan terhadap kemajuan ekonomi Indonesia dan memperkuat posisinya di antara SWF global lainnya.
Bersambung...
Bersambung...
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










