Akurat

JPMorgan Prediksi Bitcoin Susut ke Bawah USD100.000 Karena Hal Ini

Hefriday | 23 Februari 2025, 21:15 WIB
JPMorgan Prediksi Bitcoin Susut ke Bawah USD100.000 Karena Hal Ini

AKURAT.CO Usai serangkaian insiden pembobolan yang mengguncang bursa kripto, pasar mulai menunjukkan dinamika baru.

Pembobolan di Bybit yang menelan kerugian hingga Rp23,9 triliun, dengan dugaan keterlibatan Lazarus Group dari Korea Utara, menjadi salah satu peristiwa yang menghebohkan di industri aset digital.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap, Minggu (23/2/2025), Bitcoin mulai menunjukkan pergerakan harga meskipun diprediksi akan terus diperdagangkan di bawah ambang USD100.000 (sekitar Rp1,63 miliar).
 
Bitcoin naik tipis sebesar 0,26% dalam 24 jam terakhir, namun mengalami penurunan mingguan sebesar 1,18%, sehingga harganya tercatat pada USD96.485 atau setara dengan Rp1,57 miliar.
 
Sementara itu, aset digital lainnya menunjukkan performa yang beragam. Ethereum (ETH) mencatat kenaikan sebesar 3,14% dalam 24 jam terakhir dan 2,48% dalam sepekan, dengan harga saat ini berada di kisaran Rp45 juta per koin.
 
 
Binance Coin (BNB) juga menguat sebesar 2,88% dalam 24 jam terakhir, mencapai harga sekitar Rp10,8 juta per koin.
 
Menurut Analis JPMorgan, Nikolaos Panigirtzoglou, investor institusional berperan penting dalam reli harga Bitcoin. 
 
"Investor institusional telah menjadi pendorong utama reli harga Bitcoin tahun lalu dan mereka berpengaruh dalam kenaikan harga di atas USD100.000," ujarnya, mengungkapkan bahwa minat institusional yang kuat pernah mengangkat harga Bitcoin ke level kritis tersebut.
 
Namun, setelah gagal menembus level USD100.000, investasi institusional tampak mengalami perlambatan. Hal ini terlihat dari penurunan signifikan di pasar berjangka, terutama di Chicago Mercantile Exchange (CME) untuk Bitcoin dan Ethereum, yang mencerminkan keraguan para pelaku institusional.
 
Kondisi ini juga tercermin dari tren pasar backwardation, di mana harga spot aset kripto lebih tinggi daripada harga kontrak berjangka.
 
Di pasar yang sehat, kontrak berjangka biasanya diperdagangkan dengan premium karena ekspektasi kenaikan nilai di masa depan. Tren yang terbalik ini mengindikasikan adanya kekhawatiran terhadap pertumbuhan nilai aset digital.
 
"Ini perkembangan negatif dan indikasinya kelemahan permintaan. Penurunan permintaan sistematis dan berbasis momentum juga mempengaruhi pasar futures Bitcoin dan Ethereum," ujarnya.
 
Sementara aset utama menunjukkan tekanan, koin lain seperti Solana (SOL) mengalami penurunan tipis sebesar 0,12% dalam 24 jam terakhir. Saat ini, harga SOL tercatat sekitar Rp2,7 juta per koin, menandakan bahwa setiap aset digital tidak selalu bergerak seiring dengan dinamika pasar secara keseluruhan.
 
Di tengah fluktuasi harga, stablecoin seperti USDT dan USDC tetap menunjukkan kestabilan dengan nilai yang dipatok di sekitar USD1 atau setara dengan Rp16.300. Hal ini memberikan alternatif bagi investor yang mencari aset dengan risiko volatilitas lebih rendah dibandingkan mata uang kripto lainnya.
 
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto mencatat kenaikan sekitar 0,55% dalam 24 jam terakhir. Meski dihadapkan pada berbagai tekanan dan tantangan, sentimen pasar menunjukkan dinamika yang masih aktif, menandakan potensi pemulihan jika faktor-faktor pendukung kembali menguat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa