BI Pastikan Rupiah Stabil, Perry Warjiyo: Fundamental Ekonomi Kuat dan Tren Menguat

AKURAT.CO Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menegaskan bahwa nilai tukar rupiah tetap stabil dan bahkan menunjukkan tren penguatan di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan.
Hal ini disampaikan Perry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) I Tahun 2025, pekan lalu.
“Kami melihat ruang bagi nilai tukar untuk tetap stabil. Kami akan terus menjaga stabilitas ini. Dari sisi fundamental, ada peluang bagi rupiah untuk menguat,” ujar Perry.
Perry menjelaskan, Bank Indonesia menerapkan berbagai strategi untuk menjaga stabilitas rupiah, termasuk:
- Intervensi di pasar valas melalui transaksi spot dan domestic non-delivery forward (DNDF).
- Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder untuk menjaga likuiditas valuta asing.
- Kebijakan moneter yang akomodatif guna menjaga daya beli masyarakat dan menarik investasi.
Baca Juga: Megawati Tiba di Roma untuk Hadiri World Leaders Summit on Children's Rights di Vatikan
"Kami mengelola transaksi di pasar valas dan SBN dengan hati-hati agar nilai tukar tetap stabil, meskipun ada tekanan dari dinamika global,” tambahnya.
Menurut Perry, stabilitas rupiah didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat, di antaranya:
- Inflasi rendah, yang pada 2024 berada di kisaran 2,5 persen-3 persen, jauh di bawah rata-rata negara berkembang lainnya.
- Pertumbuhan ekonomi solid, yang menarik investor untuk tetap berinvestasi di Indonesia.
- Aliran modal asing (inflow) kembali masuk, dengan investasi asing di SBN mencapai Rp1,6 triliun dan di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp4 triliun.
Selain itu, kebijakan Dana Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang mewajibkan eksportir menempatkan devisa hasil ekspornya di dalam negeri turut menambah suplai dolar AS di pasar domestik.
Meski fundamental ekonomi domestik kuat, Perry mengingatkan pentingnya mewaspadai gejolak ekonomi global, termasuk kebijakan moneter Amerika Serikat.
Selama Januari 2025, indeks dolar AS sempat menyentuh level 109 sebelum melemah ke 108 akibat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (FFR).
Baca Juga: Jairo Riedewald Belum Bisa Dinaturalisasi, Menpora Sebut Ada Masalah Berkas!
“Kami terus memantau perkembangan kebijakan Federal Reserve karena hal ini sangat menentukan pergerakan indeks dolar AS dan secara tidak langsung nilai tukar rupiah,” kata Perry.
Bank Indonesia memastikan, kebijakan moneter yang diterapkan tetap terukur dan akomodatif untuk menjaga stabilitas rupiah.
Langkah-langkah ini mendapat respons positif dari pasar keuangan domestik, meningkatkan kepercayaan investor terhadap investasi berbasis rupiah seperti obligasi pemerintah dan saham di pasar modal.
Perry menegaskan, keberhasilan menjaga stabilitas nilai tukar tidak lepas dari sinergi yang kuat antara Bank Indonesia dan pemerintah, termasuk koordinasi dalam kebijakan fiskal dan moneter serta optimalisasi belanja negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Ke depan, kami akan terus menjaga stabilitas rupiah dengan langkah-langkah yang terarah. Dengan koordinasi kebijakan moneter dan fiskal yang baik, kami optimistis rupiah akan tetap stabil, bahkan cenderung menguat sepanjang 2025,” tutup Perry.
Baca Juga: Cara Dapat Saldo DANA Gratis Cepat Cair ke HP, Cek 6 Aplikasi Penghasil Uang Ini!
Meski demikian, tantangan global tetap harus diantisipasi agar penguatan rupiah berkelanjutan dan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








