Bitcoin Langsung Terbang ke USD102.000 Usai Rilis Data Inflasi Tahunan AS
Hefriday | 18 Januari 2025, 18:38 WIB

AKURAT.CO Harga Bitcoin (BTC) mengalami lonjakan signifikan setelah data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk Desember 2024 dirilis.
Inflasi tahunan AS tercatat di angka 2,9%, sesuai dengan ekspektasi pasar, yang memicu peningkatan nilai Bitcoin hingga melampaui USD102.000 atau setara dengan Rp1,6 miliar lebih.
CEO Indodax, Oscar Darmawan, menilai lonjakan ini sebagai refleksi dari meningkatnya kepercayaan investor terhadap Bitcoin sebagai aset lindung nilai.
“Kita melihat pola yang sama ketika inflasi mulai stabil dan kebijakan moneter cenderung melunak, Bitcoin mendapatkan momentum kenaikan. Dengan target inflasi The Fed di angka 2%, hampir tidak ada peluang pemotongan suku bunga di akhir bulan nanti,” ujar Oscar dalam keterangannya, Sabtu (18/1/2025).
Baca Juga: 10 Tips Mudah Investasi Bitcoin
Menurut Oscar, kebijakan The Fed memiliki dampak besar pada pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya. "Pasar sangat sensitif terhadap kebijakan moneter. Jika The Fed memberi sinyal akan menurunkan suku bunga, maka likuiditas akan meningkat, dan Bitcoin bisa menjadi salah satu aset yang paling diuntungkan," tambahnya.
Tidak hanya CPI, data Producer Price Index (PPI) yang akan dirilis pada 24 Januari 2025 diharapkan dapat memberikan sinyal tambahan terkait tekanan inflasi yang mulai mereda. Oscar memandang data ini sebagai katalis tambahan yang dapat memperkuat sentimen bullish bagi Bitcoin.
“Investor institusional kini lebih percaya diri memasukkan Bitcoin ke dalam portofolio mereka. Ketika inflasi dan kebijakan moneter mulai stabil, permintaan terhadap aset kripto cenderung meningkat,” jelasnya.
Oscar juga menyoroti pentingnya regulasi global dalam pergerakan Bitcoin. Ia menyebut bahwa semakin banyak negara yang mulai menerima Bitcoin sebagai instrumen investasi sah, sehingga adopsi dari institusi besar pun terus meningkat. “Hal ini menjadi pendorong utama bagi harga Bitcoin dalam jangka panjang,” katanya.
Namun, ia tetap mengingatkan risiko volatilitas yang melekat pada Bitcoin. "Meski Bitcoin memiliki fundamental yang kuat, investor harus mempertimbangkan faktor eksternal seperti kebijakan ekonomi global dan dinamika pasar tradisional," tambah Oscar.
Kenaikan Bitcoin juga diikuti oleh aset kripto lainnya. Ethereum (ETH) tercatat mencapai Rp54 juta, XRP di Rp50 ribu, SOL di Rp3,2 juta, dan XLM di Rp7 ribu. Lonjakan ini menunjukkan bagaimana pasar kripto secara keseluruhan merespons data ekonomi AS yang positif.
Oscar memproyeksikan bahwa 2025 akan menjadi tahun penting bagi Bitcoin dan ekosistem kripto secara keseluruhan. “Dengan kombinasi regulasi yang lebih jelas, adopsi institusional, dan momentum pasar, kita bisa melihat Bitcoin mencapai level yang lebih tinggi," ujarnya.
Meski optimisme tinggi, pasar kripto tetap menghadapi tantangan. Kebijakan ekonomi global dan pergerakan pasar tradisional akan terus memengaruhi volatilitas aset digital. Namun, stabilitas inflasi dan meningkatnya adopsi institusional memberikan peluang besar bagi pertumbuhan pasar kripto.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










