Pernyataan Jerome Powell Picu Volatilitas Pasar Kripto
Hefriday | 19 Desember 2024, 21:41 WIB

AKURAT.CO Pasar aset kripto kembali bergejolak setelah pernyataan terbaru dari Kepala Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengenai Bitcoin (BTC) dan aset digital lainnya.
Dalam keterangannya, Powell menyebutkan bahwa bank sentral Amerika Serikat atau The Fed tidak mendukung kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar, serta menegaskan bahwa perubahan regulasi terkait kripto merupakan kewenangan Kongres, bukan Federal Reserve.
Menurut Trader Tokocrypto Fyqieh Fachrur, komentar tersebut memperburuk situasi pasar kripto yang sudah berada dalam tekanan. "Pernyataan ini menunjukkan bahwa The Fed tidak akan terlibat dalam menjadikan Bitcoin sebagai aset cadangan strategis seperti emas, sehingga melemahkan narasi Bitcoin sebagai penyimpan nilai di masa depan," jelas Fyqieh dalam keterangannya, Kamis (19/12/2024).
Tak lama setelah pernyataan tersebut, harga Bitcoin turun drastis lebih dari 6,5%, menyentuh level di bawah 100 ribu dolar AS dari sebelumnya di kisaran 108 ribu dolar AS. Penurunan ini juga diikuti oleh aset kripto utama lainnya seperti Solana (SOL), Ethereum (ETH), dan XRP, yang mencatatkan kerugian signifikan dalam waktu 24 jam.
Fyqieh menjelaskan bahwa penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kebijakan Federal Reserve serta potensi penjualan Bitcoin oleh pemerintah AS. Faktor lain yang memperparah situasi adalah rendahnya minat terhadap ETF (Exchange-Traded Fund) BTC-spot, yang selama ini diharapkan dapat mendukung harga Bitcoin.
Sentimen negatif juga dipicu oleh hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang mengumumkan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis points (bps). Langkah ini membawa suku bunga acuan ke kisaran 4,25-4,50%, sesuai ekspektasi pasar. Namun, keputusan tersebut tetap memberikan tekanan terhadap pasar kripto yang saat ini tengah berada dalam fase volatilitas tinggi.
Menurut Fyqieh, ada beberapa faktor utama yang memengaruhi harga Bitcoin dalam jangka pendek, di antaranya aksi ambil untung oleh investor, peningkatan arus keluar dari ETF BTC-spot, serta efek musiman menjelang akhir tahun. "Jika arus keluar ETF BTC-spot terus meningkat, ini akan menambah kekhawatiran di kalangan investor ritel dan mempersulit pemulihan harga Bitcoin ke level 110 ribu dolar AS," ungkapnya.
Meski demikian, ada peluang reli musiman yang dikenal sebagai “reli Sinterklas.” Secara historis, Bitcoin telah mencatatkan kenaikan rata-rata sebesar 1,32% dalam seminggu menjelang Natal dan 1,29% setelah Natal. Data CoinGecko juga menunjukkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, efek reli ini terjadi sebanyak tujuh kali menjelang Natal dan lima kali selama musim liburan akhir tahun.
Namun, Fyqieh menekankan bahwa reli ini tidak selalu konsisten dan sangat bergantung pada kondisi pasar secara keseluruhan. "Investor perlu berhati-hati karena meskipun ada potensi kenaikan, volatilitas pasar dapat membuat tren ini sulit diprediksi," tambahnya.
Ia menyarankan para investor untuk lebih memperhatikan data on-chain, analisis sentimen pasar, dan kebijakan makroekonomi sebelum mengambil keputusan. Menurutnya, fase penurunan ini juga bisa menjadi peluang bagi investor untuk membeli aset dengan harga lebih rendah sebelum kemungkinan lonjakan harga di masa depan.
"Dalam kondisi volatilitas seperti sekarang, strategi investasi yang matang sangat penting. Investor harus mengandalkan analisis menyeluruh terhadap tren makroekonomi dan data pasar agar dapat memanfaatkan peluang secara optimal," tukas Fyqieh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










