LPEI Didorong Naikkan Kelas UMKM di Pasar Global
Yosi Winosa | 19 November 2024, 21:45 WIB

AKURAT.CO Anggota Komisi XI DPR RI, Muhammad Kholid, menekankan pentingnya peran strategis Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dalam mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menghadapi persaingan global.
Ia menyoroti tantangan besar yang dihadapi UMKM, khususnya akibat predatory pricing dari China yang sedang mengalami overproduksi.
“China yang mengalami kelebihan pasokan berpotensi menetapkan harga murah yang merugikan pasar kita. LPEI harus membantu UMKM naik kelas agar dapat bersaing di pasar global,” ujar Kholid dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Special Mission Vehicle (SMV) di Jakarta, Selasa (19/11/2024).
Kholid menegaskan, LPEI perlu fokus pada pemberdayaan UMKM yang tidak bankable agar mampu memasuki pasar ekspor. Ia menyebutkan bahwa tanpa dukungan penuh, UMKM lokal berpotensi kalah bersaing, sementara pasar domestik terancam dibanjiri produk impor murah dari China.
Menurut Kholid, LPEI sebagai Special Mission Vehicle harus memiliki tujuan strategis yang jelas untuk meningkatkan kapasitas UMKM melalui pembiayaan, pelatihan, dan pembukaan akses pasar ekspor. "LPEI harus menjadi garda terdepan dalam memberikan dukungan penuh kepada UMKM kita," tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif LPEI, Riyani Tirtoso, menyampaikan komitmen lembaga ini untuk terus mendorong UMKM membuka pasar ekspor. Hingga September 2024, LPEI telah menyalurkan pembiayaan ekspor sebesar Rp57,6 triliun, dengan tambahan program asuransi dan penjaminan komersial mencapai Rp6,6 triliun.
LPEI juga telah membentuk 1.692 desa devisa di seluruh Indonesia, sebuah program berbasis komunitas untuk melatih pelaku ekspor baru. Melalui pelatihan intensif dan program bisnis, 938 pelaku ekspor baru berhasil mendapatkan pendampingan dan akses ke pasar internasional.
Riyani menyebutkan bahwa transformasi yang dilakukan sejak 2020 menunjukkan hasil positif. Salah satu indikatornya adalah pembiayaan Goodbank yang naik dari Rp27,7 triliun menjadi Rp28,3 triliun. Selain itu, Program Penugasan Khusus Ekspor telah menyalurkan dana sebesar Rp20 triliun ke 180 negara, termasuk ke pasar non-tradisional.
Tidak hanya itu, LPEI juga mencatatkan National Development Impact (NDI) sebesar 3,97 kali per Juni 2024. Artinya, setiap Rp1 miliar pembiayaan yang disalurkan mampu menciptakan 54 lapangan kerja. Hal ini menunjukkan peran penting LPEI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 22,8%, LPEI optimistis dapat terus mendukung pengembangan ekspor di berbagai sektor. Riyani menegaskan bahwa pihaknya akan terus memperluas jangkauan pembiayaan dan konsultasi bagi UMKM untuk memperkuat daya saing di pasar global.
Kinerja positif LPEI diharapkan dapat menjadi tonggak penting dalam mendukung UMKM untuk tumbuh dan berkembang, terutama di tengah tantangan global yang semakin kompleks. "Kami siap menjadi mitra strategis bagi UMKM agar mampu berkompetisi di tingkat internasional," tukas Riyani.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










