Akurat

Gubernur BI Paparkan 5 Faktor Kunci Majukan Keuangan Syariah

Yosi Winosa | 1 November 2024, 22:25 WIB
Gubernur BI Paparkan 5 Faktor Kunci Majukan Keuangan Syariah

AKURAT.CO Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menjelaskan lima faktor kunci untuk membangun kemajuan pasar keuangan syariah.

Pertama, inovasi produk keuangan syariah harus melampaui instrumen utama seperti sukuk, takaful, dan wakaf, mengarah pada diversifikasi produk, termasuk penerbitan Green Sukuk yang selaras dengan keuangan berkelanjutan.

“Indonesia sebagai salah satu penerbit terbesar sukuk kini memanfaatkan Green Sukuk untuk mendukung ekonomi hijau,” jelas Perry di sela seminar kolaboratif Bank Indonesia dengan Islamic International Liquidity Management (IILM) dan Islamic Financial Services Board (IFSB) bertajuk “Future Development of Product Innovation and Liquidity Management in the Islamic Financial Services Industry”, Jumat (1/11/2024).

Baca Juga: BI Ungkap 5 Strategi Utama Digitalisasi Industri Halal

Faktor kedua, lanjut Perry, adalah akselerasi digitalisasi di pasar keuangan syariah. Transformasi ini meliputi integrasi teknologi dalam layanan keuangan syariah yang memungkinkan akses dan inklusi keuangan yang lebih luas, seperti penggunaan fintech syariah dan solusi pembayaran digital. 

Menurut laporan Global Islamic Fintech Report 2023/2024, pasar fintech syariah global diperkirakan mencapai USD306 miliar pada tahun 2027, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 17,3%. Angka ini mengungguli pertumbuhan fintech secara keseluruhan yang diproyeksikan sebesar 12,3%.

Ketiga, integrasi jasa sistem keuangan syariah wholesale dan ritel, yang memungkinkan kolaborasi seluruh lembaga keuangan syariah, termasuk asuransi dan lembaga sosial finance, guna memperkuat interkoneksi dan stabilitas keuangan.
 
Faktor keempat, kerangka kebijakan yang berfokus pada manajemen risiko, termasuk mitigasi risiko siber, risiko operasional, serta anti-pencucian uang. Terakhir, pentingnya edukasi dan literasi keuangan syariah guna meningkatkan pemahaman masyarakat serta memperkuat sumber daya manusia di bidang keuangan syariah.

Pada forum ini, hadir pula diskusi yang mendalami pengembangan instrumen keuangan syariah berkelanjutan, mengacu pada data yang menunjukkan peningkatan permintaan atas instrumen Green Sukuk dan Environmental, Social, Governance (ESG).
 
Saat ini, nilai sukuk hijau mencapai USD24,4 miliar, di mana Malaysia dan Arab Saudi menjadi pemimpin pasar diikuti oleh Indonesia dan UEA. Permintaan terhadap instrumen ESG ini memperlihatkan tren investasi syariah yang semakin relevan dalam mendukung pembiayaan berkelanjutan di tingkat global.

Lebih jauh, forum yang diadakan dalam rangka Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2024 ini juga menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi antar-pemangku kepentingan untuk mendorong inovasi produk dan memperkuat strategi pengelolaan likuiditas di pasar keuangan syariah.
 
Kolaborasi antara lembaga keuangan syariah dan regulator diharapkan mampu menciptakan produk yang menjawab kesenjangan pasar, memfasilitasi likuiditas yang lebih baik, dan menjaga stabilitas ekonomi syariah.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk perwakilan bank sentral dari berbagai negara seperti UAE, perwakilan dari The Fed, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta para pelaku industri dari lembaga keuangan syariah. Forum internasional ini menjadi wadah bagi Indonesia untuk memperkuat perannya dalam pasar keuangan syariah skala global dan memastikan keuangan syariah mampu berkontribusi dalam mencapai tujuan ekonomi berkelanjutan.

Melalui pengembangan produk yang inovatif, digitalisasi keuangan, serta manajemen likuiditas yang matang, keuangan syariah Indonesia diharapkan dapat semakin kompetitif di pasar global, sekaligus menjadi contoh keberhasilan integrasi prinsip syariah dalam mendorong ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa