IHSG Berpotensi Lanjutkan Pelemahan Imbas Tekanan ke Rupiah
Hefriday | 19 Desember 2025, 12:42 WIB

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (19/12/2025). Sejumlah faktor eksternal dan domestik yang belum sepenuhnya kondusif membuat pergerakan indeks berpotensi melanjutkan pelemahan.
Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, IHSG pada perdagangan Kamis (18/12/2025) ditutup turun 0,68% ke level 8.618,2. Pelemahan tersebut terjadi di tengah sentimen pasar yang cenderung berhati-hati, seiring minimnya katalis positif baru yang mampu mendorong penguatan indeks.
Tekanan terhadap IHSG turut dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah yang melemah dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini terjadi meskipun Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (17/12/2025).
Selain faktor domestik, ketidakpastian global juga menjadi pemberat pergerakan pasar saham. Penguatan indeks dolar AS serta dinamika pasar keuangan global membuat aliran dana asing cenderung lebih selektif, termasuk di pasar saham Indonesia.
Pada perdagangan terakhir, rupiah tercatat melemah di pasar spot ke kisaran Rp16.723 per USD. Pergerakan mata uang di kawasan Asia sendiri ditutup bervariasi, mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar terhadap arah kebijakan bank sentral global.
Dari sisi sektoral, saham-saham sektor barang konsumen primer mengalami koreksi paling dalam. Sementara itu, sektor barang konsumen non-primer masih mampu mencatatkan kenaikan tipis, meski belum cukup kuat untuk menahan laju pelemahan IHSG secara keseluruhan.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas menilai indikator pergerakan IHSG menunjukkan sinyal pelemahan lanjutan. Histogram negatif pada indikator MACD terpantau melebar, sementara Stochastic RSI kembali membentuk pola death cross dan bergerak mendekati area oversold.
IHSG juga ditutup di bawah rata-rata pergerakan jangka pendek MA5, meskipun masih bertahan di atas MA20. Kondisi ini mengindikasikan tekanan jangka pendek masih cukup kuat, namun tren menengah belum sepenuhnya berbalik negatif.
Dengan mempertimbangkan berbagai indikator tersebut, IHSG diperkirakan berpotensi menguji area support di rentang 8.550 hingga 8.600. Level tersebut dinilai menjadi zona penting untuk mengamati peluang rebound teknikal dalam jangka pendek.
Pelaku pasar juga akan mencermati hasil pertemuan Bank of Japan (BoJ) yang diperkirakan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 0,75%. Jika terealisasi, kebijakan ini akan menjadi level suku bunga tertinggi Jepang dalam sekitar 30 tahun terakhir.
Kenaikan suku bunga Jepang berpotensi memicu peningkatan volatilitas di pasar saham dan mata uang global. Hal ini berkaitan dengan potensi penyesuaian strategi carry trade, di mana investor meminjam dana dari mata uang berbunga rendah seperti yen untuk diinvestasikan ke aset dengan imbal hasil lebih tinggi.
Jika suku bunga Jepang naik, investor yang melakukan carry trade diperkirakan akan menutup sebagian posisinya, sehingga mendorong arus dana kembali ke Jepang. Meski demikian, dampak volatilitas tersebut diproyeksikan bersifat jangka pendek.
Di tengah kondisi pasar yang fluktuatif, Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk strategi trading pada Jumat (19/12/2025), antara lain BMRI, BBCA, ULTJ, MYOR, dan ERAL. Investor tetap diimbau mencermati manajemen risiko seiring tingginya dinamika pasar global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









