Sectoral Digest: Perbankan Menuju Normalisasi Pertumbuhan di 2024 Usai ATH

AKURAT.CO Sektor perbankan ditaksir menuju normalisasi di sisa tahun 2024 seiring mulai terbatasnya ruang penurunan beban provisi, usai mecetak rekor tertinggi atau All Time High (ATH) di 2023, menurut riset Stockbit.
Investment Analyst Lead Stockbit, Rahmanto Tyas Raharja mengatakan dibanding perbankan besar, saham mid banks lebih menarik karena valuasi yang lebih menarik, mulai re-rating, dan potensi dari aksi korporasi.
"Top pick kami adalah BMRI, BNGA, dan BBTN. Kami menyukai BMRI karena target loan growth-nya tertinggi dan memiliki valuasi menarik dibanding big banks lain," tulisnya dalam riset tersebut, dikutip Senin (8/4/2024).
Baca Juga: Asbisindo Sambut Penghentian Restrukturisasi Kredit Perbankan OJK
Dirinci, dari sisi laba bersih, mayoritas emiten bank di Indonesia pada 2023 kompak mencatat pertumbuhan laba bersih double digit hingga mencetak all–time high, melampaui rekor sebelumnya pada 2022. Meski demikian, pertumbuhan laba bersih pada 2023 mengalami normalisasi dibandingkan 2022.
Untuk 2024, Stockbit sejalan dengan konsensus analis yang masih memperkirakan laba bersih bank akan tumbuh double digit dan kembali mencetak rekor laba bersih all–time high.
"Meski tumbuh secara tahunan, performa laba bersih bank pada kuartal IV-2023 cenderung mixed secara kuartalan, yang mengindikasikan normalisasi atau perlambatan pertumbuhan," ujar Rahmanto.
Dari sisi top line, pada 2023 lalu NII menunjukan tren perlambatan pertumbuhan pada 2023 dibandingkan 2022. Hal ini terjadi di seluruh bank dalam coverage Stockbit, kecuali BBCA dan BDMN yang masing-masing melaju menjadi 18% (dari 14%) dan 8% (dari 3%).
Meski begitu, pendapatan bunga sebenarnya masih menunjukan performa yang baik dengan pertumbuhan hingga double digit kecuali BBTN yang hanya 9%.
Pendorong perlambatan performa NII pada 2023 utamanya berasal dari beban bunga yang membengkak. Dari semua bank termasuk BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, BBTN, BNGA, BDMN dan NISP semuanya mengalami pembengkakan beban bunga berkisar 36-64%.
Outlook NIM 2024
Sementara untuk 2024, NIM akan cenderung stabil sejalan dengan guidance yang diberikan manajemen bank. Potensi penurunan suku bunga pada 2024 dapat menjadi sentimen positif untuk menurunkan beban bunga yang melonjak pada 2023.
"Kami memperkirakan ke depan cost of fund akan turun seiring dengan ekspektasi penurunan suku bunga pada semester II-2024. Namun, kami memperkirakan bahwa efeknya terhadap beban bunga baru akan terefleksi pada 2025," ujarnya.
Sebagai konteks, pada 2023 peningkatan pendapatan bunga terjadi karena perbankan juga telah meningkatkan suku bunga pinjaman yang diberikan (loan yield) untuk modal kerja dan investasi, yang merupakan pinjaman untuk segmen korporasi atau bisnis.
Namun, pinjaman konsumsi justru mengalami penurunan, yang mengindikasikan lemahnya permintaan kredit dari level retail atau individu. Secara rinci, perubahan suku bunga pinjaman pada Desember 2023 adalah modal kerja naik 26 bps, pinjaman investasi naik 30 bps dan pinjaman konsumsi turun 23 bps.
Kemudian, NII melambat karena peningkatan beban bunga, yang didorong oleh peningkatan cost of fund. Hal ini juga terefleksi dari suku bunga deposito berjangka atau Time Deposito/ TD Rate (12 bulan) secara industri yang menunjukan kenaikan, termasuk terjadi pada KBMI 4 dan KBMI 3.
Kenaikan TD Rate lebih tinggi dibandingkan kenaikan loan yield. Secara rinci, perubahan TD rate pada Desember 2023 secara tahunan adalah industri perbankan naik 98 bps, KBMI 3 naik 93 bps dan KBMI 4 naik 91 bps.
Adapun cost of fund dari dana murah atau current account saving account/CASA (giro dan tabungan) bisa dijaga tetap rendah meskipun mengalami sedikit kenaikan. Suku bunga CASA rendah menjadi penting karena mayoritas DPK perbankan adalah CASA, di mana CASA Ratio perbankan per Desember 2023 berada di level 63%.
Kenaikan TD Rate yang melebihi kenaikan loan yield terefleksi secara mixed pada rasio profitabilitas bank, yaitu margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM). Big banks dapat meraih tailwinds dengan mengalami kenaikan NIM, sedangkan headwinds menghantui mid banks karena mengalami penurunan NIM.
Secara rinci, NIM pada Desember 2023 secara tahunan adalah industri perbankan naik 10 bps, KBMI 3 turun 9 bps dan KBMI 4 naik 12 bps.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










