Akurat

Hampir 45 Persen Email Global 2025 Terkategori Spam

Winna Wandayani | 17 Februari 2026, 14:46 WIB
Hampir 45 Persen Email Global 2025 Terkategori Spam

 

AKURAT.CO Lalu lintas email global sepanjang 2025 masih didominasi pesan tidak diinginkan. Berdasarkan telemetri Kaspersky, sebanyak 44,99 persen email yang beredar tahun lalu mengandung spam, termasuk di dalamnya penipuan, phishing, hingga distribusi malware.

Ancaman juga meningkat dari sisi volume lampiran berbahaya. Sepanjang 2025, lebih dari 144 juta lampiran email berbahaya terdeteksi, naik 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Asia Pasifik Paling Banyak Terdeteksi

Secara regional, Asia Pasifik mencatat pangsa deteksi antivirus email terbesar, mencapai 30 persen. Disusul Eropa (21 persen), Amerika Latin (16 persen), Timur Tengah (15 persen), Rusia dan CIS (12 persen), serta Afrika (6 persen).

Di tingkat negara, China memimpin dengan 14 persen pangsa deteksi lampiran berbahaya. Rusia menyusul dengan 11 persen, kemudian Meksiko dan Spanyol masing-masing 8 persen, serta Turki 5 persen. Aktivitas deteksi tercatat memuncak pada Juni, Juli dan November.

Pola Serangan Makin Kompleks

Tren 2025 menunjukkan pelaku menggabungkan berbagai kanal komunikasi. Email penipuan kini kerap mengarahkan korban ke aplikasi pesan instan atau panggilan telepon palsu untuk memperkuat skema manipulasi.

Teknik penyamaran juga berkembang, mulai dari penggunaan layanan perlindungan tautan hingga kode QR di badan email atau lampiran PDF. Bahkan, fitur organisasi dan undangan tim di platform OpenAI sempat disalahgunakan untuk mengirim email spam dari alamat yang terlihat sah.

Serangan Business Email Compromise (BEC) pun semakin meyakinkan. Penyerang menyisipkan email palsu seolah-olah hasil terusan percakapan bisnis, namun tanpa header utas lengkap sehingga sulit diverifikasi.

AI Generatif Bikin Phishing Lebih Meyakinkan

"Email phishing tidak boleh diremehkan. Laporan kami mengungkapkan bahwa satu dari sepuluh serangan bisnis dimulai dengan phishing," ujar Roman Dedenok selaku pakar anti-spam di Kaspersky, dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (16/2/2026).

Ia menambahkan bahwa pemanfaatan AI generatif membuat pesan phishing semakin personal dan sulit dibedakan dari email asli. Menurutnya, komersialisasi teknologi ini memperkuat ancaman karena pelaku dapat menyusun pesan yang meyakinkan dalam skala besar dengan upaya yang relatif minim

Tips Menghindari Email Phishing

Untuk menekan risiko, berikut cara yang bisa dilakukan pengguna maupun perusahaan:

1. Periksa sumber dan tautan dengan teliti.

Jangan langsung percaya pada undangan atau pesan tak terduga, meski terlihat berasal dari platform tepercaya. Arahkan kursor ke URL untuk memastikan alamatnya valid sebelum mengklik.

2. Hindari menghubungi kontak dari email mencurigakan.

Jika email menyertakan nomor telepon atau meminta Anda menelepon pihak tertentu, cari informasi kontak resmi melalui situs web asli layanan tersebut.

3. Gunakan perlindungan berlapis dan edukasi rutin.

Perusahaan dapat memanfaatkan solusi keamanan email, memastikan seluruh perangkat kerja, termasuk ponsel terpasang perangkat lunak keamanan, serta mengadakan pelatihan berkala tentang taktik phishing terbaru.

Asia Pasifik dan Tantangan Keamanan Digital

Dominasi Asia Pasifik dalam deteksi ancaman menunjukkan kawasan dengan pertumbuhan digital tinggi menjadi sasaran utama. Peningkatan 15 persen lampiran berbahaya juga menandakan pelaku tidak lagi sekadar mengandalkan spam massal.

Dengan dukungan AI, serangan kini lebih terpersonalisasi dan kontekstual. Artinya, strategi keamanan harus bergerak dari pendekatan reaktif menjadi preventif dan adaptif, terutama bagi organisasi yang bergantung pada komunikasi email dalam operasional hariannya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.