Akurat

Dicoding dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Hadirkan Platform Bijak Cerdas untuk Literasi Digital dan AI

Nuzulul Karamah | 18 Februari 2026, 15:16 WIB
Dicoding dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Hadirkan Platform Bijak Cerdas untuk Literasi Digital dan AI

AKURAT.CO Komitmen memperkuat literasi digital nasional kembali ditegaskan melalui kolaborasi antara Dicoding dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). 

Keduanya resmi meluncurkan platform pembelajaran daring bertajuk Bijak Cerdas Berdigital dan Ber-AI yang dapat diakses melalui bijakcerdas.dicoding.com.

Peluncuran ini menjadi respons atas tingginya adopsi kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia. Berdasarkan Survei APJII 2025, sebanyak 66 persen pengguna AI berasal dari kalangan Gen Z dan Milenial. 

Baca Juga: Pratikno: Indonesia Punya Tanggung Jawab Besar Dorong Pembangunan Manusia di ASEAN

Kondisi tersebut dinilai menuntut peningkatan pemahaman masyarakat agar mASEA memanfaatkan teknologi secara etis, aman, dan bertanggung jawab.

Sebagai perusahaan teknologi yang telah berkiprah selama 11 tahun dalam pengembangan talenta digital, Dicoding dipercaya untuk mengembangkan platform microlearning ini. 

Bijak Cerdas dirancang sebagai massive open online course (MOOC) gratis yang mudah diakses masyarakat luas, khususnya anak, guru, dan orang tua.

Chief Executive Officer Dicoding, Narenda Wicaksono, menegaskan bahwa platform ini menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi literasi digital nasional.

“Melalui ruang belajar digital ini, Dicoding berfokus memperkuat fondasi literasi digital dan AI untuk masyarakat Indonesia. Melengkapi misi pengembangan talenta digital kami sejak 2015, kehadiran platform Bijak Cerdas Berdigital dan Ber-AI diharapkan membantu masyarakat untuk sadar menavigasi dunia digital dan AI secara aman, etis dan bertanggung jawab,” ucap Narenda Wicaksono.

Senada dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Praktino, menekankan pentingnya penggunaan AI secara bijak.

“Penggunaan AI itu penting. Tetapi, kalau tidak bijak dan tidak cerdas, justru bisa banyak efek negatifnya. Untuk itu, menggandeng Dicoding sebagai perusahaan edukasi teknologi yang sudah berpengalaman, kami di Kemenko PMK meluncurkan platform Bijak Cerdas ini agar anak-anak, remaja, dan orang tua bisa cerdas berdigital dan ber-AI,” ungkap Praktino.

Baca Juga: Pratikno Kenang Sosok Paus Fransiskus: Pemimpin Sederhana dan Penuh Welas Asih

Di lingkungan Kemenko PMK, inisiatif ini terwujud melalui sinergi Deputi IV Bidang Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa, Deputi I Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan, serta Gugus Tugas Pembangunan Talenta Kecerdasan Buatan Nasional.

Pengembangan materi juga melibatkan kolaborasi dengan Day of AI Indonesia serta Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi guna memastikan kualitas dan relevansi konten pembelajaran.

Tak hanya menyediakan modul berbasis video, kuis, dan refleksi, Bijak Cerdas turut menghadirkan fitur Cek Kesehatan Digital (CKD) untuk dewasa. Fitur ini membantu pengguna mengukur pemahaman dan kebiasaan digital dalam aspek kecakapan, keamanan, serta etika digital.

Pengguna yang masuk menggunakan akun Dicoding akan memperoleh tambahan manfaat berupa penyimpanan progres belajar serta lencana (badge) pencapaian. Fitur ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi peserta dalam menuntaskan setiap modul yang tersedia.

Ke depan, Dicoding dan Kemenko PMK bersama para pemangku kepentingan akan melakukan sosialisasi secara luas kepada anak, guru, dan orang tua agar platform ini dapat dimanfaatkan secara optimal.

Sebagai informasi, Dicoding telah melatih lebih dari 850.000 developer sejak berdiri pada 2015. Perusahaan ini juga mendapat pengakuan dari berbagai perusahaan teknologi global seperti Google, Microsoft, Amazon Web Services, dan Meta, serta meraih penghargaan “Mitra Terbaik dalam Pengembangan SDM” pada Anugerah Kementerian Dikti Saintek 2024.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.