Akurat

Elon Musk: China Berpotensi Lampaui Dunia dalam Komputasi AI

Petrus C. Vianney | 13 Januari 2026, 20:40 WIB
Elon Musk: China Berpotensi Lampaui Dunia dalam Komputasi AI

AKURAT.CO Elon Musk menyatakan bahwa China berada di jalur untuk melampaui negara mana pun dalam kapasitas komputasi kecerdasan buatan (AI). Pernyataan itu disampaikan CEO Tesla dan SpaceX dalam podcast Moonshots bersama Peter Diamandis.

Menurut Musk, keunggulan utama China terletak pada skala daya komputasi dan kepemilikan chip yang terus meningkat. Ia menilai, jika tren saat ini berlanjut, China akan unggul jauh dibandingkan negara lain dalam kemampuan komputasi AI.

Musk menekankan bahwa faktor penentu dalam perlombaan AI bukan semata-mata chip, melainkan pasokan listrik. Ia memperkirakan kapasitas listrik China bisa mencapai sekitar tiga kali lipat output Amerika Serikat pada 2026, sehingga mampu menopang pusat data AI yang sangat boros energi.

"Saya juga menyukai ide semacam memiliki aplikasi atau situs web terpadu atau apa pun, di mana Anda dapat melakukan apa pun yang Anda inginkan di sana. Cina memiliki ini dengan WeChat," ujar Musk dalam keterangannya, dikutip Selasa (13/1/2026).

Baca Juga: Era Laptop AI, Masa Depan Komputasi di Indonesia

Meski Amerika Serikat membatasi akses China terhadap semikonduktor canggih, Elon Musk menilai hal tersebut tidak akan berdampak besar dalam jangka panjang. Ia menilai pembatasan itu bukan penghalang utama bagi perkembangan teknologi China.

Menurut Musk, China pada akhirnya akan mampu mengembangkan chip buatan sendiri. Apalagi, peningkatan performa chip kelas atas dinilai semakin melambat dan tidak lagi memberikan lompatan signifikan.

Pandangan Musk sejalan dengan pergeseran isu global AI, di mana energi dan infrastruktur data kini menjadi kendala utama, bukan lagi algoritma atau perangkat keras semata. Di berbagai negara, pembangunan pusat data AI meningkat pesat dan membutuhkan listrik setara kota kecil.

Laporan Goldman Sachs pada November lalu juga menyoroti risiko kekurangan listrik yang dapat memperlambat ambisi AI Amerika Serikat. Analis menilai ketersediaan daya yang stabil akan menjadi faktor kunci dalam menentukan pemenang perlombaan AI global.

China terus memperluas kapasitas energinya. Goldman memperkirakan pada 2030 China dapat memiliki sekitar 400 gigawatt daya cadangan, jumlah yang melebihi tiga kali lipat total kebutuhan listrik pusat data di seluruh dunia saat ini.

Optimisme terhadap AI juga ditegaskan Presiden China Xi Jinping dalam pidato Tahun Baru. Ia menyebut kemajuan AI dan pengembangan chip domestik telah memperkuat kemampuan inovasi China, sekaligus mendorong integrasi teknologi dengan sektor industri secara lebih mendalam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.