China Persempit Kesenjangan Teknologi Kuantum dengan Amerika Serikat

AKURAT.CO Perlombaan penguasaan teknologi kuantum kini menjadi sorotan dunia karena dampaknya yang diyakini bisa lebih besar dibanding persaingan kecerdasan buatan (AI). Meski Amerika Serikat masih memimpin, Tiongkok bergerak cepat mempersempit jarak.
Teknologi kuantum memanfaatkan prinsip fisika kuantum untuk menciptakan komputer, sensor dan sistem komunikasi yang jauh lebih kuat daripada teknologi saat ini. Komputer kuantum mampu memproses berbagai kemungkinan secara bersamaan, membuatnya ribuan kali lebih efisien daripada komputer tradisional.
Menurut analisis McKinsey, potensi ekonomi teknologi kuantum bisa mencapai $97 miliar (sekitar Rp1.612 triliun) pada tahun 2035. Namun hingga kini, pengembangannya masih terbatas di laboratorium dan belum siap digunakan secara luas.
Meski belum mencapai momen besar seperti ChatGPT pada AI, kemajuan besar di bidang ini diyakini sudah dekat. Terobosan dalam teknologi kuantum berpotensi membobol sistem enkripsi perbankan dan pemerintahan, membuka babak baru dalam persaingan teknologi global.
Data paten menunjukkan tren menarik. Analisis LexisNexis memprediksi Tiongkok dapat melampaui Amerika Serikat dalam kepemimpinan teknologi kuantum secepatnya pada 2027. Lonjakan pendaftaran paten di Tiongkok menandakan hasil nyata dari investasi besar pemerintahnya.
Beijing telah mengucurkan dana publik sekitar $15,3 miliar (sekitar Rp254 triliun) untuk penelitian dan pengembangan kuantum, jauh melampaui komitmen Amerika yang hanya $1,9 miliar (sekitar Rp31 triliun). Hal ini membuat perusahaan-perusahaan baru asal Tiongkok mulai menyaingi raksasa teknologi seperti IBM, Google dan Microsoft.
Peringatan datang dari Presiden Microsoft, Brad Smith, yang menyebut Amerika tidak boleh mengabaikan potensi 'kejutan strategis' dari Tiongkok. Ia mendesak agar pemerintah AS memperkuat strategi nasional bersama sekutunya, sebagaimana dikutip dari Channel New Asia, Senin (27/10/2025).
Meski sektor swasta Amerika unggul dalam investasi, tanpa dukungan riset dan koordinasi pemerintah, posisinya bisa terancam. Jika tak segera bertindak, AS berisiko mengulangi kesalahan masa lalu saat kehilangan dominasi dalam industri semikonduktor.
Beberapa perusahaan besar seperti Google, IBM dan Microsoft masih mencetak kemajuan penting dalam riset kuantum. Namun, perusahaan asal Tiongkok seperti Origin Quantum kini mulai memenangkan kerja sama riset di Eropa dan kawasan lain.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prancis Terbuka: Ganda Putra Indonesia Menggila, Leo/Daniel dan Raymond/Joaquin Melesat ke Perempat Final
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 4Megawati Hangestri Dapat Julukan Baru dari Media Korea, Apa Artinya?
- 5Prediksi Skor Napoli vs Roma 24 Oktober 2026: Derby del Sole Diprediksi Sengit
- 6Pemecatan Michael Carrick Mulai Disuarakan, Ada 'Monster' Sulit Dijinakkan di Tubuh MU?
- 750 Contoh Ucapan Hari Santri 2026 Terbaru, Singkat dan Penuh Makna
- 8Hasil dan Klasemen Liga Champions: Como Tenggelamkan MU, Real Madrid Merangsek ke 3 Besar
- 9KPK Sita BMW Milik Richard Erlangga dalam Korupsi BNPB, Total Ada Empat Mobil
- 10KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot








