Akurat

China Tawarkan Diskon Listrik Besar bagi Perusahaan AI yang Gunakan Chip Lokal

Petrus C. Vianney | 14 November 2025, 15:03 WIB
China Tawarkan Diskon Listrik Besar bagi Perusahaan AI yang Gunakan Chip Lokal

AKURAT.CO Beberapa provinsi di China kini memberikan potongan harga listrik besar bagi perusahaan kecerdasan buatan (AI) yang memakai chip buatan lokal. Kebijakan ini merupakan upaya strategis pemerintah untuk memperkuat kemandirian teknologi nasional di sektor AI dan semikonduktor.

Provinsi Gansu, Guizhou dan Mongolia Dalam menawarkan diskon hingga 50 persen untuk tarif listrik industri di pusat data AI. Dengan kebijakan tersebut, biaya listrik dapat turun menjadi sekitar 0,4 yuan per kWh atau setara 5,6 sen dolar Amerika Serikat.

Selain potongan harga, pemerintah daerah juga memberikan insentif tunai bagi perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut. Dukungan ini dirancang untuk membantu pusat data tetap beroperasi secara efisien hingga satu tahun penuh.

Daerah-daerah seperti Gansu, Guizhou dan Mongolia Dalam dikenal memiliki pasokan listrik yang melimpah. Harga dasar listrik di wilayah ini juga lebih rendah dibandingkan kawasan pesisir China, sebagaimana dikutip dari Financial Times, Rabu (12/11/2025).

Infrastruktur energi yang kuat membuat jaringan listrik di wilayah tersebut siap menopang kebutuhan besar dari pusat data AI. Dorongan pemerintah terhadap penggunaan energi terbarukan semakin memperkuat kesiapan sistem kelistrikan nasional.

Kebijakan insentif ini hadir setelah pemerintah China melarang penggunaan chip AI buatan Nvidia. Larangan tersebut menyebabkan konsumsi daya pusat data meningkat hingga 50 persen karena efisiensi chip lokal masih tertinggal.

Meski begitu, produsen chip dalam negeri seperti Huawei, Cambricon, Alibaba dan Biren terus berupaya mengejar ketertinggalan. Huawei bahkan memimpin dengan chip AI unggulannya, Ascend 910C, yang menjadi simbol kemajuan teknologi lokal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.