Dari Media Sosial hingga E-Voting, Teknologi Jadi Pilar Demokrasi Modern

AKURAT.CO Di era globalisasi dan internet, demokrasi tidak lagi sebatas pemilihan umum di bilik suara. Kehadiran teknologi digital, mulai dari media sosial hingga e-voting, kini menjadi faktor penting yang memperkuat sekaligus menantang demokrasi modern.
Sebuah survei dari Pew Research Center terhadap 27 negara menemukan bahwa mayoritas publik menilai media sosial berdampak positif bagi demokrasi. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi digital semakin berperan penting dalam kehidupan politik masyarakat modern.
Media sosial dianggap memudahkan akses informasi yang lebih luas dan cepat bagi warga. Selain itu, platform ini juga mendorong aktivisme politik serta membuka ruang partisipasi masyarakat dalam diskusi publik.
Namun, survei itu juga menyoroti sisi negatif media sosial yang dikhawatirkan memicu penyebaran disinformasi. Kondisi ini dinilai memperkuat polarisasi politik dan menurunkan kepercayaan pada institusi demokrasi.
Selain itu, organisasi seperti OECD menyebut bahwa dis- & misinformation adalah ancaman nyata bagi ruang informasi yang sehat dan demokrasi. Regulasi, literasi digital dan transparansi algoritma menjadi beberapa langkah krusial untuk mengatasi hal ini.
Teknologi pemungutan suara elektronik (e-voting) semakin banyak diadopsi di berbagai negara sebagai upaya untuk mempermudah proses pemilu dan meningkatkan partisipasi. Menurut World Economic Forum, beberapa contoh:
- Estonia: salah satu pelopor e-voting, yang sejak 2005 sudah menggunakan sistem online.
- Negara-negara lain seperti Norwegia, Meksiko, Turki dan Rusia juga mengembangkan atau membuat sistem e-voting, terutama untuk pemilih di luar negeri atau dalam kondisi khusus.
Keuntungan utama e-voting antara lain penghitungan suara yang lebih cepat dan pengurangan biaya logistik pemilu. Sistem ini juga memudahkan akses bagi pemilih yang jauh atau terbatas mobilitasnya, serta menawarkan potensi transparansi lebih besar lewat audit digital.
Dikutip dari MDPI, Senin (15/9/2025), namun, ada juga banyak tantangan:
- Kerentanan terhadap manipulasi, serangan siber dan risiko kehilangan integritas suara jika sistem tidak dirancang dengan baik.
- Voter harus yakin bahwa pilihannya tetap rahasia dan tidak dapat dilacak ke individu tertentu.
- Tidak semua warga punya akses internet dan perangkat yang memadai. Kesenjangan digital dapat membuat sebagian warga tertinggal dalam proses demokratis modern.
Teknologi-teknologi ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dalam membentuk demokrasi modern:
- Media sosial mempengaruhi opini publik, memberi informasi mengenai calon atau isu, tetapi juga menjadi sumber disinformasi yang bisa merusak kepercayaan terhadap hasil pemilu, termasuk sistem e-voting.
- Transparansi dan keamanan e-voting harus disertai komunikasi yang baik kepada publik, agar warga memahami proses, tahu bagaimana suara mereka dihitung dan yakin dengan keabsahan hasil.
- Regulasi dan standar internasional menjadi penting agar teknologi pemilu dan platform digital mematuhi prinsip demokrasi: kebebasan berpendapat, privasi, akses adil dan independensi.
Teknologi digital seperti media sosial, platform komunikasi dan e-voting berpotensi menjadi fondasi utama demokrasi modern. Jika dikelola dengan baik, teknologi ini mampu meningkatkan partisipasi masyarakat, mempercepat pemilu dan memperkuat akuntabilitas pemerintah.
Namun, tanpa regulasi yang kuat, literasi digital, serta perhatian pada keamanan dan privasi, teknologi dapat melemahkan demokrasi. Risiko yang muncul antara lain penyebaran disinformasi, manipulasi opini publik, hingga sistem pemilu yang tidak adil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









