Akurat

Dominasi Robot Tiongkok Tekan Industri Teknologi Global

Petrus C. Vianney | 24 Agustus 2025, 21:42 WIB
Dominasi Robot Tiongkok Tekan Industri Teknologi Global

AKURAT.CO Ajang World Humanoid Robot Games pertama di Beijing baru saja selesai digelar dengan meriah. Kompetisi ini diikuti 280 tim dari 16 negara, termasuk Amerika Serikat.

Perusahaan Tiongkok seperti Unitree Robotics dan X-Humanoid berhasil mendominasi hampir semua kategori. Mereka menyapu bersih medali emas di cabang lari, lompat jauh, hingga kickboxing.

Salah satu sorotan publik datang dari robot bernama Taishan. Meski sempat jatuh dan kehilangan lengan, robot ini tetap bangkit dan berhasil menyelesaikan lomba 1.500 meter.

Keberhasilan tersebut menegaskan kemampuan Tiongkok di sektor robotika humanoid. Negara ini mulai memperlihatkan dominasi dalam teknologi yang masih berkembang di banyak negara lain.

Harga robot humanoid buatan Tiongkok kini semakin terjangkau untuk pasar konsumen. Misalnya, Unitree R1 diluncurkan dengan harga sekitar 39.900 yuan atau sekitar Rp90 jutaan, jauh lebih murah dari generasi sebelumnya.

Kehadiran produk murah ini membuka peluang baru bagi konsumen kaya di dalam negeri. Bahkan, robot humanoid diprediksi bisa menjadi barang populer di rumah tangga modern, baik di Tiongkok maupun negara Barat.

Selain pasar rumah tangga, Tiongkok juga mengaplikasikan robot humanoid di bidang kesehatan. Robot asisten perawat sudah digunakan di rumah sakit dan panti jompo, sementara operasi jarak jauh juga berhasil dilakukan dengan teknologi robotik.

Kemajuan ini menunjukkan bagaimana Tiongkok memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan layanan kesehatan. Data gerakan ahli bedah bahkan bisa dikirim lewat satelit ke robot di Beijing untuk melakukan operasi di berbagai kota.

Di sisi global, keberhasilan Tiongkok menimbulkan kekhawatiran serius. Produk berteknologi tinggi dari negara tersebut kini membanjiri pasar internasional dengan harga yang kompetitif.

Dalam lima bulan pertama tahun ini, ekspor peralatan teknologi tinggi Tiongkok mencapai 58 persen dari total ekspor nasional. Bahkan, surplus perdagangan diperkirakan menembus lebih dari 1 triliun dolar AS pada 2025.

Dikutip dari The Observer, Minggu (24/8/2025), fenomena ini disebut para analis sebagai 'China Shock 2.0'. Dampaknya jauh lebih besar dibandingkan dua dekade lalu karena kini melibatkan sektor teknologi canggih.

Perusahaan besar Barat pun mulai merasakan tekanan. Produsen mobil seperti VW, BMW dan Mercedes-Benz kehilangan pangsa pasar akibat serbuan kendaraan listrik Tiongkok seperti BYD.

Di sektor farmasi, perusahaan AS Merck harus menghentikan ekspor vaksin Gardasil ke Tiongkok. Hal ini membuat penjualan globalnya turun 18 persen setelah pesaing lokal menawarkan produk serupa dengan harga lebih murah.

Bank Sentral Eropa mencatat, persaingan dengan produsen Tiongkok telah memindahkan atau menghilangkan sekitar 240.000 pekerjaan di zona Euro antara 2015 hingga 2022. Angka ini diyakini akan terus meningkat seiring berkembangnya dominasi teknologi Tiongkok.

Para analis menilai, tantangan utama bagi Barat bukan lagi sekadar perdagangan. Lebih dari itu, derasnya arus produk teknologi tinggi Tiongkok berpotensi memicu deindustrialisasi di banyak negara maju.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.