Akurat

Google Andalkan AI untuk Lindungi Anak di Dunia Digital, Ini Cara Kerjanya

Eko Krisyanto | 2 Agustus 2025, 23:32 WIB
Google Andalkan AI untuk Lindungi Anak di Dunia Digital, Ini Cara Kerjanya

AKURAT.CO Google terus memimpin inovasi dalam menjaga keamanan pengguna di dunia digital, terutama anak-anak.

Kini, raksasa teknologi ini memperluas penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk secara otomatis mendeteksi apakah seorang pengguna berusia di bawah 18 tahun.

Pertanyaannya, bagaimana cara kerja AI ini, dan apa dampaknya bagi pengalaman online kita?

Sistem AI terbaru dari Google menganalisis berbagai indikator perilaku pengguna untuk memperkirakan usia mereka.

Di antaranya, riwayat pencarian di Google, jenis video yang ditonton di YouTube, serta usia akun pengguna.

Jika sistem menduga pengguna berusia di bawah 18 tahun, Google akan secara otomatis mengaktifkan perlindungan khusus.

Menurut laporan The Verge, sistem ini awalnya diterapkan di Amerika Serikat dan akan diperluas ke negara-negara lain, termasuk Indonesia, dalam waktu dekat.

Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Google untuk mematuhi regulasi internasional seperti COPPA dan GDPR yang berfokus pada perlindungan anak di internet.

Baca Juga: Ashanty Sedih Berat Toko Kuenya Tutup: Masa Terhancur Aku...

Fitur Perlindungan Otomatis

Begitu pengguna teridentifikasi sebagai anak di bawah umur, sistem AI Google akan mengaktifkan sejumlah pembatasan untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman.

Beberapa fitur proteksi otomatis tersebut meliputi:

  • Iklan non-personal: Iklan berbasis minat dimatikan untuk menghindari paparan komersial yang tidak sesuai.

  • Penyaringan konten sensitif: Akses ke konten dewasa atau berpotensi berbahaya akan dibatasi.

  • Pengingat waktu istirahat di YouTube: Anak-anak akan mendapat notifikasi untuk istirahat atau tidur saat menonton terlalu lama.

  • Nonaktifkan fitur Timeline di Google Maps: Riwayat lokasi tidak disimpan demi menjaga privasi anak.

  • Blokir aplikasi dewasa di Play Store: Sistem akan membatasi pengunduhan aplikasi dengan label 18+.

Tantangan Akurasi dan Privasi

Namun, teknologi secanggih apapun tetap punya keterbatasan. Google menyediakan opsi verifikasi usia bagi pengguna yang merasa salah diklasifikasi, melalui ID pemerintah, kartu kredit, atau selfie.

Meski begitu, tantangan terbesar tetap soal akurasi sistem.

Kesalahan klasifikasi bisa berdampak negatif—misalnya membatasi pengguna dewasa secara keliru atau justru meloloskan anak-anak mengakses konten dewasa.

Selain itu, proses analisis perilaku pengguna menimbulkan kekhawatiran privasi dan potensi bias AI terhadap ras, jenis kelamin, atau ekspresi wajah.

Baca Juga: Ruben Onsu Tutup Pintu Maaf untuk Pemilik Akun yang Fitnah Putrinya

Kendati masih punya celah, langkah Google ini menunjukkan komitmen serius dalam menciptakan ekosistem digital yang lebih aman dan ramah anak.

Bagi orang tua dan pengguna muda, ini bisa jadi kabar baik—selama tetap disertai edukasi digital dan pengawasan aktif.

 

Laporan: Dwi Arya Rahmansyah Ramadhan/magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.