Akurat

Perang Chip, AS dan China Saling Berebut Dominasi Teknologi

Petrus C. Vianney | 8 Juli 2025, 16:23 WIB
Perang Chip, AS dan China Saling Berebut Dominasi Teknologi

 

AKURAT.CO Persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan Cina semakin memanas. Keduanya berebut dominasi atas industri semikonduktor yang menjadi kunci masa depan teknologi global.

Chip kecil ini menggerakkan hampir semua perangkat modern, termasuk ponsel dan sistem militer. Siapa yang menguasainya berpeluang mengendalikan inovasi dan ekonomi global.

Mengapa Chip Sangat Penting?

Semikonduktor atau chip adalah otak dari teknologi modern. Mereka mendukung berbagai teknologi penting, seperti jaringan 5G, sistem pertahanan canggih, kendaraan listrik dan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI).

Peran strategis chip menjadikannya aset utama dalam persaingan antarnegara. Teknologi ini mendukung pertumbuhan ekonomi, inovasi dan kekuatan militer.

Akar Konflik AS dan Cina

Cina melalui program ambisius Made in China 2025 berupaya mandiri dalam teknologi chip, dengan investasi besar dan pengembangan teknologi dalam negeri. Namun, upaya ini dianggap sebagai ancaman oleh AS.

AS khawatir kemajuan teknologi Cina akan memperkuat militernya, terutama dalam pengawasan dan perang siber. Untuk itu, AS memberlakukan larangan ekspor dan pembatasan teknologi ke perusahaan-perusahaan Cina.

AS membatasi akses perusahaan Cina seperti Huawei dan SMIC terhadap teknologi chip canggih. Larangan juga mencakup mesin litografi ASML dan perangkat lunak perancang chip (EDA).

Tujuannya adalah memperlambat perkembangan teknologi chip Cina. Fokus utamanya pada sektor yang berkaitan dengan AI dan pertahanan.

Dikutip dari CEO Today, Senin (7/7/2025), konflik ini berdampak luas ke seluruh dunia:

1. Gangguan rantai pasok
Kekurangan chip menyebabkan keterlambatan produksi mobil dan kelangkaan barang elektronik.

2. Tekanan terhadap sekutu AS
Negara seperti Belanda, Jepang dan Korea Selatan terjepit antara tuntutan AS dan pasar Cina.

3. Risiko terpecahnya teknologi global
Dunia berisiko terbagi menjadi dua sistem teknologi, yang berdampak pada kolaborasi, efisiensi dan biaya.

Pada Juli 2025, AS mencabut sementara larangan ekspor perangkat lunak desain chip setelah Cina melonggarkan ekspor mineral langka. Ini menunjukkan kedua negara tetap saling bergantung di tengah ketegangan tinggi.

Perang chip bukan sekadar perebutan teknologi, tapi juga pertarungan memperebutkan kepemimpinan global. Yang diperebutkan:

- Dominasi dalam AI dan ekonomi digital.
- Keunggulan pertahanan dan keamanan siber.
- Kendali atas industri masa depan.
- Pengaruh geopolitik global.

Persaingan ini bisa menentukan arah kekuatan dunia dalam dekade-dekade mendatang. Perang chip telah menjadi simbol utama dari perubahan lanskap geopolitik abad ke-21.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.