Transformasi Digital Jadi Kunci Atasi Truk ODOL

AKURAT.CO Persoalan kendaraan Over Dimension Over Load (ODOL) bukan hanya perkara sopir atau jalan rusak. Ini adalah cerminan dari ekosistem logistik yang tidak sehat, pengawasan teknologi yang lemah, dan minimnya keberanian menyentuh akar masalah yakni para pemilik barang, pemilik armada, dan sistem regulasi yang belum sepenuhnya terdigitalisasi.
Hal itu disampaikan Pemerhati Transportasi, Muhammad Akbar dimana menurutnya selama bertahun-tahun, penanganan ODOL cenderung reaktif dan menyasar mereka yang ada di garis depan, yakni para sopir. Padahal, mereka hanyalah ujung rantai eksekusi dari instruksi yang datang dari atas.
"Kalau sungguh ingin menuntaskannya, bukankah seharusnya kita mulai dari mereka pengambil keputusan, bukan hanya dari sopir yang menjalankan perintah?" ujarnya.
Ia menegaskan sopir truk tidak menentukan ukuran bak atau volume muatan. Mereka menjalankan tugas dengan tekanan ekonomi tinggi dan risiko kehilangan pekerjaan jika menolak membawa muatan berlebih.
"Ketika mereka turun ke jalan melakukan aksi protes, itu bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan tuntutan atas keadilan sistemik," cetusnya.
Teknologi Otomotif & Sistem Digital: Solusi yang Terabaikan
Solusi jangka panjang atas ODOL memerlukan pendekatan berbasis teknologi. Bukan lagi soal penindakan di jalan semata, tetapi bagaimana pemerintah dan pelaku logistik membangun sistem transportasi berbasis data yang cerdas dan berkelanjutan.
Beberapa teknologi kunci yang perlu segera diadopsi:
Weigh-In-Motion (WIM): Sistem penimbangan otomatis di jalan yang memantau beban kendaraan secara real-time tanpa perlu berhenti.
Fleet Tracking dan Telematika: Pemantauan digital terhadap rute, kecepatan, dan beban truk yang dapat memberikan data audit yang transparan.
Integrasi Data Logistik: Platform digital dari titik muat hingga bongkar, yang mengawasi berat, dimensi, dan jam operasional kendaraan.
Negara seperti Jepang dan Korea Selatan telah membuktikan efektivitas sistem digital logistik. Jepang memiliki Freight Information Management System yang memantau rute, muatan, dan waktu tempuh kendaraan secara real-time.
Sementara Korea Selatan dengan Integrated Logistics Information System (ILIS) tidak hanya memantau alur logistik, tetapi juga menyatukan pelaku industri dalam satu jaringan pengawasan digital.
Ekosistem Logistik Butuh Reformasi Struktural
Digitalisasi harus dibarengi dengan perombakan sistem tarif dan upah yang adil. Selama tarif logistik ditekan tanpa mempertimbangkan biaya operasional realistis, praktik ODOL akan terus terjadi dan dianggap “jalan pintas yang normal”.
“Selama dunia usaha masih mementingkan ongkos semurah mungkin dengan cara apa pun’ praktik ODOL akan terus dianggap sebagai trik. Bukan pelanggaran hukum, tapi solusi cepat yang diam-diam dibenarkan," sesal Akbar.
Sistem pengawasan manual seperti uji KIR atau surat jalan saat ini menurutnya rentan manipulasi. Tanpa data real-time dan sistem yang terintegrasi, pelanggaran akan terus terjadi di balik layar.
"Teknologi otomotif seperti sensor beban dan perangkat GPS perlu diwajibkan sebagai standar industri," terang dia.
"Kini saatnya membangun sistem berbasis teknologi: pengawasan otomatis, data real-time, dan tanggung jawab menyeluruh dari hulu ke hilir. Pemerintah tak bisa lagi sekadar berharap pada razia, tetapi harus menghadirkan sistem digital yang adil, efisien, dan tak bisa dimanipulasi," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









