Tantang Superkomputer di Bumi, China Meluncurkan 12 Satelit AI dari Luar Angkasa

AKURAT.CO China telah mengambil langkah berani dalam mendefinisikan ulang pemrosesan data dengan meluncurkan batch pertama satelit dalam konstelasi komputasi ruang angkasa ambisiusnya. Belum lama ini, roket Long March 2D lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan, membawa 12 satelit bertenaga AI yang mampu berkomunikasi melalui tautan laser berkecepatan tinggi.
Peluncuran ini menandai langkah besar dalam teknologi ruang angkasa dan komputasi, membuka era baru di mana pengolahan data superkomputer tidak lagi terbatas di Bumi, tetapi dapat dilakukan secara efisien di orbit. China tampaknya siap menjadi pemain utama dalam revolusi komputasi ruang angkasa global.
Dijuluki Konstelasi Komputasi Tiga Tubuh ("Three-Body"), jaringan ini dirancang untuk menyamai, bahkan berpotensi melampaui, kemampuan superkomputer paling kuat di dunia, namun berada di orbit. Dikembangkan oleh Zhejiang Lab, Konstelasi Komputasi Tiga Tubuh menandai pergeseran dari pusat data yang berbasis di Bumi ke infrastruktur berbasis ruang angkasa.
Setelah selesai, sistem ini diperkirakan akan mampu melakukan pemrosesan real-time di orbit dengan kecepatan luar biasa, yaitu 1.000 peta operasi per detik (POPS), setara dengan satu kuintiliun operasi per detik.
Jonathan McDowell, sejarawan ruang angkasa dan astronom dari Universitas Harvard, menyatakan bahwa komputasi awan berbasis ruang angkasa saat ini sangat populer. “Pusat data orbital dapat menggunakan tenaga surya dan memancarkan panasnya ke luar angkasa, sehingga mengurangi kebutuhan energi dan jejak karbon,” ujarnya melansir Business Today.
Tantangan dan Solusi Energi serta Data
Seiring permintaan data yang meningkat, tekanan terhadap sumber energi dan air di Bumi juga meningkat. Pusat data global diperkirakan akan mengonsumsi lebih dari 1.000 terawatt jam listrik setiap tahun pada 2026, hampir setara dengan total konsumsi Jepang. Pendinginan fasilitas ini juga sangat memerlukan air, Google saja menggunakan 19,7 miliar liter pada 2022.
Saat ini, kurang dari 10% data yang dikumpulkan di ruang angkasa berhasil sampai ke Bumi, terhambat oleh akses stasiun bumi yang terbatas dan bandwidth yang sempit. Konstelasi baru China ini berupaya mengubah keadaan tersebut.
Setiap satelit mampu melakukan 744 triliun operasi per detik dan dilengkapi dengan penyimpanan onboard sebesar 30 terabyte serta model AI berbasis ruang angkasa dengan 8 miliar parameter. Tautan laser berkecepatan tinggi memungkinkan transfer data hingga 100 gigabit per detik.
Selain pemrosesan data berbasis AI, konstelasi ini juga akan digunakan untuk komunikasi laser lintas orbit dan eksperimen astronomi. Sistem AI satelit memproses data mentah langsung di orbit, sehingga melewati hambatan yang ada di Bumi.
Zhejiang Lab memimpin pengembangan sistem komputasi AI dan model orbit, sementara Guoxing Aerospace bertanggung jawab atas desain dan perakitan satelit. HiStarlink menyediakan terminal komunikasi laser yang menjadi dasar pertukaran data berkecepatan tinggi dalam jaringan ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 5Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat








