Pakar IT Jelaskan Perbedaan Kejahatan Siber dan Konvensional, Dampaknya Berbeda

AKURAT.CO Muhammad Salahuddien, pakar IT dari Cyber Security Independent Resilience Team of Indonesia (CSIRT), memberikan pandangannya terkait lembaga keamanan terhadap kasus hacking terbaru. Ia menjelaskan adanya perbedaan mendasar antara kejahatan siber dan kejahatan konvensional.
Menurut Salahuddien, kejahatan konvensional memiliki karakteristik di mana korban dan dampaknya dapat segera dirasakan. Misalnya, dalam kasus pencurian barang, kerugian langsung terlihat karena barang tersebut hilang dan korban mengalami kerugian secara langsung.
Sebaliknya, kejahatan siber memiliki dinamika yang berbeda. Korban dari kejahatan siber bisa jadi bukan individu, melainkan suatu lembaga.
"Kejahatan siber sering kali korbannya bukan orang perorangan tetapi lembaga dan mereka mungkin tidak menyadari bahwa mereka sudah menjadi korban," ujarnya kepada AKURAT.CO, Senin (24/6/2024).
Sebagai contoh, beberapa bulan lalu terjadi kebocoran data BPJS. Dalam kasus ini, semua orang yang terdaftar di BPJS menjadi korban, namun tidak semua menyadari bahwa data mereka telah bocor dan mereka telah dirugikan.
Salahuddien menekankan bahwa kerugian dan dampak dari kejahatan siber seringkali tersembunyi. Tidak ada hubungan yang langsung dan linier antara kejadian dan akibat yang ditimbulkan.
Inilah yang membuat kejahatan siber menjadi lebih kompleks dan sulit untuk diatasi dibandingkan dengan kejahatan konvensional. Hal ini menyebabkan lembaga keamanan perlu mengembangkan metode deteksi dan penanganan yang lebih canggih.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









