Sains Dan Teknologi Instrumen Kompetisi Damai Antara G-7 Dan BRICS

AKURAT.CO, G-7 adalah forum politik antarpemerintah negara maju yang terdiri atas Amerika Serikat, Britania Raya, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Prancis, dan Uni Eropa.
BRICS adalah forum serupa untuk umumnya negara berkembang yang terdiri atas Brazil, Russia, India, China, dan Afrika Selatan. Persaingan kedua blok tersebut diketahui mewarnai diskursus sains dan teknologi dunia. Bagaimana kehadiran blok ekonomi-perdagangan di dunia sains? Apa kontribusi mereka terhadap perkembangan sains dan teknologi dunia? Mari kita simak!
Baca Juga: China Klaim BRICS Sangat Strategis dalam Percaturan Ekonomi Dunia
Jurgen Habermas dalam esainya "Sains dan Teknologi sebagai Ideologi" berargumen bahwa sains-tek dapat menjadi instrumen dominasi dan manipulasi jika tidak ada mekanisme "check and balances" secara baik.
Perang dingin telah menghasilkan banyak terobosan teknologi, salah satunya teknologi angkasa luar. Namun sains dan teknologi tidak terhindarkan menjadi instrumen dominasi pihak yang bertikai yang dipimpin masing-masing oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Kita mendapatkan pengembangan internet, stasiun ruang angkasa, dan berbagai teknologi militer semasa perang dingin.
Di puncak perang dingin, organisasi G-7 sebagai perwakilan ‘barat’ didirikan pada tahun 70an.
Dalam perkembangannya, G-7 menjadi “pemenang” karena akhirnya, pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev menutup perang dingin dengan kebijakan ‘Glasnost dan Perestoika’ yang menjadi titik berangkat reformulasi ‘tata dunia baru’ pasca dibubarkannya blok timur itu sendiri.
Francis Fukuyama, cendekiawan AS, merayakan kemenangan barat sebagai suatu ‘kemenangan demokrasi liberal’ yang secara de-facto diwakili oleh G-7. Namun, tesis Fukuyama mengenai ‘kemenangan barat’ ternyata tidak bertahan lama, bahkan sedang dievaluasi ulang. Sebab, pada tahun 2010, berdiri organisasi inter-governmental sebagai antitesa dari G-7, yaitu BRICS.
Baca Juga: Negara G-7 Sepakat Lawan Rusia
Pasca dibubarkannya Uni Soviet dan blok timur, Rusia dan beberapa sekutunya ternyata tidak tinggal diam. Sebagai pewaris legal terhadap Uni Soviet, Rusia tetap mengembangkan sains dan teknologi secara serius. Buktinya Roscosmos sebagai agensi luar angkasa mereka, tetap menerbangkan wahana luar angkasanya secara rutin untuk kepentingan riset, bisnis, maupun militer, dan tetap terlibat pada program stasiun ruang angkasa internasional (ISS).
Sementara itu, berkat tangan dingin Deng Xiaoping dan timnya dalam program reformasi ekonomi mereka, China berhasil ‘melompat’ dari negara terbelakang menjadi negara adidaya yang setara levelnya dengan AS.
Sains dan Teknologi China sudah digolongkan sangat maju, karena berbagai perusahaan mereka seperti Huawei, Wuling, dan Ali Baba, berhasil menghasilkan inovasi sains-tek yang sangat maju.
Sementara itu, agensi luar angkasa China, CNSA, juga berhasil mencetak prestasi dengan mengirimkan wahana ke Bulan, dan juga astronot ke luar angkasa.
India, negara yang dikenal selama perang dingin tetap netral dan non-blok, tapi punya hubungan yang sangat erat dengan Uni Soviet, juga baru-baru saja berhasil mendaratkan wahana luar angkasa mereka di kutub selatan Bulan, suatu hal yang belum pernah dilakukan negara lain.
Dari contoh teknologi luar angkasa, Rusia, China, dan India disini akhirnya berhasil menunjukkan pada dunia bahwa mereka mampu mandiri terhadap barat dalam bidang sains dan teknologi. Kemandirian tersebut mereka manifestasikan dengan membentuk forum kerjasama yang lebih solid. Bersama Brazil, China, India, dan Rusia membentuk grup inter-governmental BRIC pada tahun 2008.
Kemudian, pada tahun 2010, Afrika Selatan diundang bergabung dengan mereka. Sehingga namanya diubah menjadi BRICS. Tentu saja, pada akhirnya ‘gesekan’ kepentingan dengan G-7 menjadi tidak terhindarkan.
Invasi Rusia terhadap Ukraina pada 24 Februari 2022 boleh dibilang adalah konfrontasi terbesar antara G-7 dan BRICS, walaupun mereka tentu saja melibatkan berbagai agen proksi. Perang yang sudah berlangsung lebih dari setahun tersebut adalah apa yang disebut Habermas sebagai “sains sebagai instrumen dominasi.” Contohnya, walaupun sudah digunakan pada medan perang sebelumnya, di berbagai palagan di Ukraina Drone digunakan jauh lebih intensif dan masif.
Walaupun kekurangan personel dan persenjataan, Ukraina mampu memberikan perlawanan sangat signifikan terhadap Rusia karena mereka mengembangkan ‘smart drone’ berbasis kecerdasan buatan yang mampu menargetkan lawan tanpa harus disupervisi manusia.
Sementara itu, Rusia juga mengembangkan drone yang lebih murah dan ekonomis, sehingga merepotkan pasukan Ukraina juga. Bisa dibilang, drone adalah salah satu instrumen militer terpenting dalam perang di Ukraina.
Berbagai reportase mengenai pengembangan ‘smart drone’ Ukraina dapat ditemukan di media barat seperti ‘Washington Post.’ Namun, perlu dicatat bahwa anggota BRICS yang lain seperti China bersikap abstain atau netral dalam perang ini. Di sisi lain, kompetisi sains-tek antara BRICS dan G-7 juga melebar ke negara kita, walaupun untuk kepentingan damai. Terkait dengan itu, pemerintah kita memutuskan untuk berpartner dengan China untuk mengembangkan jalur kereta cepat dari Jakarta ke Bandung. Bahkan wacananya diperpanjang ke Surabaya.
Pemilihan China tentu saja dapat menimbulkan ketidakpuasan dari pesaing utama mereka, walaupun teknologi yang dibawa China juga tentu saja bukan ‘kaleng-kaleng.’
Dalam berbagai rangkaian uji-coba, kereta cepat buatan China bahkan berhasil menembus kecepatan 300 km/jam.
Bahkan di negara mereka, China juga sudah mengembangkan kereta berbasis Maglev yang jauh lebih cepat lagi.
Kompetisi antara G-7 dan BRICS menunjukkan bahwa sains dan teknologi adalah instrumen yang adaptif (adaptif instrumental) terhadap kepentingan ekonomi kedua blok tersebut.
Persaingan kedua blok perdagangan itu sangatlah baik untuk menstimulasi inovasi, seperti contoh dalam pengembangan kereta cepat dan internet. Namun jika melebar menjadi perang atau konflik terbuka, itu sesuatu yang tidak baik dan merugikan kemanusiaan itu sendiri.
Perang seperti yang terjadi di Ukraina tidak boleh melebar dan harus segera diekskalasi dengan perjanjian damai yang menghargai integritas teritorial kedua negara yang diakui oleh hukum internasional.
Penting untuk dicatat bahwa pengembangan inovasi sains-tek seyogyanya menghargai dan memuliakan kemanusiaan itu sendiri, dan tidak melukai pihak manapun.
Kompetisi yang terbaik dan menguntungkan kemanusiaan sudah dapat dipastikan akan terjadi diluar medan pertempuran. Sesungguhnya, persaingan kedua blok tidaklah hitam putih. Sebelum pandemi, US dan China bekerjasama erat dalam bidang riset virologi. Wuhan Institute of Virologi di China pengembangannya dibantu oleh G-7 juga. Sementara itu, ilmuwan Rusia-Amerika yang bekerja di ‘National Institute of Health’ (NIH), Eugene Koonin, lama menjadi anggota ‘Russian Academy of Science’, walaupun beliau akhirnya resign karena menolak invasi Ukraina.
Semua ini masalah kepentingan akan diarahkan kemana perkembangan sains-tek itu sendiri.
Jika untuk kepentingan damai, maka semua pihak akan diuntungkan.
Sejauh ini, Indonesia tetap bersikap ‘bebas aktif’ terhadap kompetisi kedua blok tersebut.
Buktinya, walaupun akhirnya memilih kereta cepat China, kita tetap berencana membeli pesawat tempur dari Perancis dan AS.
Kemudian, kita lebih memilih memproduksi kereta api sendiri melalui PT. INKA dibandingkan mengimpor kereta bekas dari Jepang.
Disini, kita melakukan diversifikasi inovasi secara masif. Satu hal yang seyogyanya dipertahankan dari kebijakan saintek kita, yaitu sejauh ini kita tidak terlibat dalam konflik militer skala besar dengan negara lain.
Sehingga, tidak ada produk teknologi kita yang digunakan untuk konflik besar manapun.
Melihat kedepannya gesekan kepentingan antara G-7 dan BRICS dimungkinkan semakin intens dan dapat menyeret pihak lain yang terkait, kita seyogyanya tetap berprinsip bahwa aplikasi sains dan teknologi untuk kepentingan damai harus diutamakan dalam kondisi apapun. Ini sejalan dengan tesis Jürgen Habermas tentang komunikasi sains yang menekankan perlunya komunikasi pengetahuan ilmiah yang terbuka, rasional, dan inklusif dalam ruang publik untuk memastikan pengambilan keputusan yang demokratis dan kemajuan masyarakat.
Komunikasi yang terbuka dan egaliter hanya bisa terjadi dalam situasi damai yang bebas dari todongan senjata.
Penulis adalah Wakil Rektor bidang Riset dan Inovasi, dan Dosen Kajian Bioinformatika dari Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









