AI dan Risiko Halusinasi Digital dalam Dunia Medis dan Kesehatan Mental

AKURAT.CO Fenomena halusinasi AI kini menjadi perhatian serius dalam dunia kedokteran dan kesehatan mental.
Istilah ini mengacu pada kesalahan informasi yang dihasilkan oleh teknologi kecerdasan buatan, khususnya Large Language Models (LLM) seperti ChatGPT dan Gemini, yang memberikan jawaban yang tampak benar tetapi sebenarnya keliru atau sepenuhnya salah.
“Model ini tidak memahami kebenaran; mereka hanya memprediksi kata berikutnya berdasarkan pola bahasa,” jelas Dr. Joe Pierre, psikiater klinis dan penulis rubrik Psych Unseen di Psychology Today.
Dalam beberapa kasus, AI telah diketahui memberikan kutipan medis palsu, menyebarkan mitos psikologis, hingga menawarkan saran kesehatan yang menyesatkan.
Studi menunjukkan bahwa dalam konteks klinis, halusinasi AI tidak hanya berisiko merusak akurasi informasi, tetapi juga dapat membahayakan pasien, terutama mereka yang berada dalam kondisi psikologis rentan.
Peningkatan Risiko dalam Kesehatan Mental
Di bidang psikiatri, kesalahan yang dibuat AI bisa berakibat fatal. AI berpotensi memperkuat delusi, salah mengartikan gejala, atau memberikan saran tidak etis jika digunakan tanpa pengawasan profesional.
Karena itu, para ahli mendesak agar penggunaan AI di bidang ini tidak dilakukan secara mandiri dan tetap melibatkan validasi dari tenaga medis manusia.
Dalam artikel terbarunya, Dr. Pierre menyatakan bahwa istilah "halusinasi AI" sebaiknya diganti dengan sebutan yang lebih tepat, seperti “misinformasi otomatis” atau “konfabulasi digital.”
Baca Juga: Nvidia dan AMD Kembali Izinkan Jual Chip AI ke China setelah AS Longgarkan Aturan
Hal ini penting agar publik tidak menganggap seolah AI memiliki kesadaran atau persepsi layaknya manusia.
“Kita sebaiknya menyebutnya apa adanya, bukan halusinasi, tetapi misinformasi. Ini bukan kekeliruan kognitif, melainkan konsekuensi desain teknologi yang belum sempurna,” tegasnya.
Waspada, Bukan Menyerah
Laporan ini merekomendasikan langkah-langkah mitigasi untuk menghindari bahaya halusinasi AI, di antaranya:
- Validasi ganda oleh profesional medis terhadap setiap informasi AI.
- Transparansi publik terkait batasan dan sumber data LLM.
- Pendidikan pengguna tentang risiko penggunaan AI tanpa bimbingan ahli.
Dengan semakin luasnya pemanfaatan AI di bidang kesehatan, penting bagi masyarakat dan tenaga profesional untuk memahami keterbatasan teknologi ini secara kritis dan bijak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








