Akurat

Niat Puasa Ayyamul Bidh Nisfu Syaban dalam Bahasa Arab dan Artinya

Fajar Rizky Ramadhan | 1 Februari 2026, 07:19 WIB
Niat Puasa Ayyamul Bidh Nisfu Syaban dalam Bahasa Arab dan Artinya

AKURAT.CO Bulan Syaban menempati posisi yang istimewa dalam kalender hijriah. Ia hadir sebagai bulan pengantar menuju Ramadhan, sekaligus momentum spiritual untuk memperbanyak amal ibadah. Salah satu amalan yang dianjurkan pada bulan ini adalah puasa sunnah, khususnya puasa Ayyamul Bidh yang bertepatan dengan pertengahan bulan, termasuk ketika jatuh pada momen Nisfu Syaban.

Ayyamul Bidh secara bahasa berarti “hari-hari putih”, yaitu tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan hijriah. Penamaan ini merujuk pada kondisi bulan yang bersinar terang pada malam hari. Dalam tradisi Islam, puasa pada hari-hari tersebut dianjurkan berdasarkan hadis Nabi Muhammad saw. yang mendorong umatnya untuk berpuasa tiga hari setiap bulan, dan Ayyamul Bidh menjadi pilihan utama.

Ketika Ayyamul Bidh bertepatan dengan Nisfu Syaban, nilai spiritualnya semakin kuat. Nisfu Syaban, yang jatuh pada tanggal 15 Syaban, oleh banyak ulama dipahami sebagai waktu yang penuh keutamaan, terutama dalam konteks evaluasi diri, permohonan ampun, dan persiapan ruhani menjelang Ramadhan. Dalam kerangka ini, puasa Ayyamul Bidh pada Nisfu Syaban bukan sekadar rutinitas sunnah, melainkan bagian dari latihan spiritual yang sadar dan terarah.

Baca Juga: 10 Keutamaan Puasa Nisfu Syaban 2026 yang Sayang Jika Dilewatkan

Sebagaimana ibadah lainnya, puasa diawali dengan niat. Dalam perspektif fikih, niat merupakan rukun puasa yang menentukan sah atau tidaknya ibadah. Niat puasa sunnah, termasuk puasa Ayyamul Bidh di bulan Syaban, boleh dilakukan sejak malam hari hingga sebelum tergelincir matahari, selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Namun, melafalkan niat sejak malam tetap dipandang lebih utama sebagai bentuk kehati-hatian dan kesungguhan.

Adapun bacaan niat puasa Ayyamul Bidh yang dilakukan pada bulan Syaban adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya: Saya niat puasa sunnah Ayyamul Bidh karena Allah Ta‘ala.

Jika ingin secara khusus menegaskan konteks waktunya di bulan Syaban, niat tersebut juga dapat dirangkai dengan redaksi berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ فِي شَهْرِ شَعْبَانَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya: Saya niat puasa sunnah Ayyamul Bidh di bulan Syaban karena Allah Ta‘ala.

Secara substansial, redaksi niat tersebut menegaskan tiga unsur utama. Pertama, kesadaran kehendak berpuasa yang diungkapkan dengan lafaz “nawaitu”. Kedua, penentuan jenis puasa, yaitu puasa sunnah Ayyamul Bidh. Ketiga, orientasi ibadah yang murni karena Allah Ta‘ala. Dalam tradisi keilmuan Islam, niat tidak sekadar formalitas verbal, melainkan kesadaran batin yang mengarahkan makna ibadah.

Puasa Ayyamul Bidh pada Nisfu Syaban juga memiliki dimensi etis dan reflektif. Ia melatih pengendalian diri, membersihkan orientasi spiritual, serta memperhalus kepekaan sosial. Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat dan penuh distraksi, puasa sunnah berfungsi sebagai jeda spiritual, ruang hening untuk menata ulang relasi manusia dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri.

Baca Juga: Berapa Hari Lagi Bulan Suci Ramadhan 2026? Ini Hitungannya dan Pengingat Qadha Puasa

Dengan demikian, memahami dan mengamalkan niat puasa Ayyamul Bidh Nisfu Syaban bukan hanya soal hafalan lafaz Arab dan terjemahannya. Lebih dari itu, ia merupakan pintu masuk menuju ibadah yang lebih sadar, terencana, dan bermakna. Di bulan Syaban, ketika pintu-pintu persiapan Ramadhan mulai terbuka, puasa Ayyamul Bidh menjadi salah satu cara paling elegan untuk mengetuknya dengan penuh adab dan kesungguhan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.