Bulan yang Baik untuk Menikah dalam Islam di Tahun 2026

AKURAT.CO Menentukan waktu pernikahan bukan sekadar urusan teknis, tetapi juga spiritual. Bagi umat Islam, kalender Hijriah sering dijadikan rujukan karena di dalamnya terdapat bulan-bulan yang memiliki keutamaan tertentu berdasarkan sunnah Nabi Muhammad SAW dan peristiwa penting dalam sejarah Islam.
Meski demikian, Islam menegaskan bahwa tidak ada bulan yang buruk atau terlarang untuk menikah. Semua waktu adalah baik selama diniatkan untuk ibadah dan membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Namun, beberapa bulan memang memiliki nilai historis dan spiritual yang membuatnya sering dipilih oleh umat Islam.
Berikut ini bulan-bulan yang dinilai baik untuk menikah dalam Islam pada tahun 2026, lengkap dengan perkiraan kalender Masehi.
Rajab (21 Desember 2025 – 19 Januari 2026)
Rajab merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Bulan ini identik dengan peristiwa Isra Mikraj, salah satu tonggak penting dalam perjalanan spiritual Rasulullah SAW.
Dalam sejumlah riwayat sejarah, kedua orang tua Rasulullah SAW menikah pada bulan Rajab. Fakta ini membuat Rajab kerap dipandang sebagai bulan yang sarat keberkahan untuk melangsungkan pernikahan.
Sya’ban (20 Januari – 18 Februari 2026)
Sya’ban dikenal sebagai bulan persiapan menuju Ramadan. Rasulullah SAW memperbanyak ibadah di bulan ini karena amal perbuatan diangkat kepada Allah SWT.
Meski tidak ada riwayat khusus tentang pernikahan Nabi di bulan Sya’ban, menikah pada bulan ini dipahami sebagai ikhtiar memulai kehidupan rumah tangga dengan spirit peningkatan ibadah.
Baca Juga: Terbaru 2026, Ini Agama-agama Resmi di Indonesia dan Jumlah Penganutnya
Ramadan (18 Februari – 19 Maret 2026)
Ramadan adalah bulan penuh berkah, ampunan, dan doa yang mustajab. Menikah di bulan Ramadan sering dimaknai sebagai harapan agar rumah tangga diliputi keberkahan dan nilai kesabaran.
Meski pelaksanaannya memerlukan penyesuaian karena ibadah puasa, secara hukum dan nilai spiritual, Ramadan tetap menjadi bulan yang baik untuk menikah.
Syawal (20 Maret – 18 April 2026)
Syawal memiliki posisi istimewa karena Rasulullah SAW menikahi Aisyah radhiyallahu ‘anha pada bulan ini. Pernikahan di Syawal sekaligus menjadi penegasan Islam dalam menghapus mitos jahiliyah yang menganggap Syawal sebagai bulan sial.
Hingga kini, Syawal menjadi salah satu bulan yang paling dianjurkan dan populer untuk pernikahan umat Islam.
Dzulhijjah (18 Mei – pertengahan Juni 2026)
Dzulhijjah adalah bulan ibadah haji dan kurban. Nilai pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan yang kuat dalam bulan ini menjadikannya momen yang baik untuk memulai kehidupan berumah tangga.
Pernikahan di bulan Dzulhijjah sering dimaknai sebagai komitmen bersama untuk beribadah dan berjuang dalam ketaatan kepada Allah SWT.
Muharram (18 Juni – 17 Juli 2026)
Muharram disebut sebagai Syahrullah atau bulan Allah. Bulan ini identik dengan hijrah, awal baru, dan ampunan.
Menikah di bulan Muharram sering dimaknai sebagai simbol memulai fase hidup baru dengan niat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih taat.
Safar (18 Juli – 17 Agustus 2026)
Islam secara tegas meluruskan anggapan jahiliyah yang menganggap Safar sebagai bulan sial. Bahkan, pernikahan Sayyidah Fatimah RA dengan Ali bin Abi Thalib RA berlangsung di bulan Safar.
Karena itu, Safar justru menjadi simbol pembebasan dari mitos dan penegasan bahwa semua waktu berada dalam kehendak Allah SWT.
Rabiul Awal (17 Agustus – 15 September 2026)
Rabiul Awal dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Selain itu, Rasulullah SAW juga menikahkan putrinya, Ummu Kultsum RA, dengan Utsman bin Affan RA pada bulan ini.
Nilai keteladanan Nabi menjadikan Rabiul Awal sebagai bulan yang penuh keberkahan untuk pernikahan.
Baca Juga: Deadline Saudi Lewat, Dana Jamaah Mandek di BPKH: Haji Khusus 2026 Terancam, PIHK Talangi Armuzna
Penegasan Penting
Dalam Islam, yang paling utama bukanlah bulannya, melainkan niat, kesiapan, dan tanggung jawab dalam membangun rumah tangga. Pemilihan bulan yang baik hanyalah ikhtiar spiritual, bukan penentu mutlak kebahagiaan.
Sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW, pernikahan yang diberkahi adalah yang dibangun di atas iman, akhlak, dan komitmen untuk saling menuntun dalam kebaikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









