Apakah Menggunakan AI Dapat Merusak Otak dan Kecerdasan Manusia dalam Islam?

AKURAT.CO Pertanyaan tentang pengaruh kecerdasan buatan terhadap kemampuan berpikir manusia semakin sering muncul, terutama ketika teknologi digital sudah menjadi bagian dari rutinitas hidup.
Ada yang khawatir bahwa penggunaan AI secara berlebihan dapat melemahkan otak, mengurangi daya kritis, bahkan membuat manusia malas berpikir.
Kekhawatiran itu wajar, tetapi dalam perspektif Islam, isu ini harus diletakkan pada posisi yang proporsional dan ilmiah.
Islam sejak awal menempatkan akal sebagai anugerah tertinggi yang membedakan manusia dari makhluk lain. Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk berpikir, menalar, dan tidak pasrah pada kebodohan. Allah berfirman dalam surah Az-Zumar ayat 9:
هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
Ayat ini sejak dulu menjadi dasar bahwa Islam tidak memusuhi ilmu pengetahuan, inovasi, ataupun alat bantu yang dapat meningkatkan kualitas pemahaman.
Karena itu, pertanyaan kuncinya bukan apakah AI haram atau merusak akal, tetapi bagaimana manusia memperlakukan AI dan sejauh apa ia bergantung padanya.
Dalam tinjauan ilmiah, penggunaan teknologi tidak otomatis merusak otak. Yang berbahaya adalah ketergantungan berlebihan yang menghambat otak untuk bekerja. Otak manusia berkembang melalui aktivitas kognitif: membaca, menalar, menyelesaikan masalah, dan berlatih secara konsisten.
Jika teknologi sepenuhnya mengambil alih fungsi-fungsi itu, maka rasa malas berpikir bisa muncul. Namun ini bukan kesalahan AI, melainkan cara manusia menggunakan teknologi.
Baca Juga: Indonesia Jadi Pelopor Dunia dalam Penerapan Rekam Medis AI
Islam memberikan prinsip yang sangat penting dalam hal ini: prinsip keseimbangan. Allah berfirman dalam surah Al-Furqan ayat 67:
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
“Dan orang-orang yang ketika membelanjakan (sesuatu), tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi selalu berada di tengah-tengah antara keduanya.”
Keseimbangan inilah yang membimbing penggunaan AI. Tidak tenggelam dalam ketergantungan, tidak pula menolak manfaatnya. AI dapat menjadi alat bantu belajar, penunjang kreativitas, bahkan penguat produktivitas.
Namun keputusan akhir, pemikiran kritis, dan tanggung jawab moral tetap berada di tangan manusia. Inilah yang dalam Islam disebut sebagai taklif, amanah yang tidak boleh digantikan oleh mesin.
Sebagian ulama kontemporer melihat penggunaan AI sebagai bagian dari perkembangan alat yang dibolehkan selama tidak mengurangi fungsi manusia sebagai makhluk yang berakal. Imam Asy-Syathibi dalam Al-Muwafaqat menjelaskan bahwa tujuan syariat adalah menjaga akal (hifzh al-‘aql).
Jika sebuah teknologi membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir, maka penggunaannya perlu dikoreksi. Tetapi jika teknologi justru menjadi wasilah untuk meningkatkan akal, maka ia selaras dengan maqashid syariah.
Karena itu, pertanyaannya berubah: benarkah AI mengurangi kecerdasan? Jawabannya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.
AI adalah alat bantu yang kuat, tetapi tetap alat. Ia tidak bisa mematikan akal seseorang kecuali jika seseorang sengaja berhenti menggunakan akalnya.
Bahkan, jika digunakan dengan benar, AI dapat merangsang kemampuan kritis karena ia memaksa manusia untuk memverifikasi informasi, menyusun pertanyaan yang tepat, serta memahami ulang persoalan secara mendalam.
Di titik inilah tanggung jawab moral muncul. Islam tidak hanya mendorong manusia untuk cerdas, tetapi juga bijaksana. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”
Hadis ini mengingatkan bahwa niat menentukan manfaat. Jika niat menggunakan AI adalah untuk menipu, memanipulasi, atau menghindari proses belajar, maka yang rusak bukan akalnya saja, tetapi juga moralnya. Namun jika niatnya adalah mencari ilmu, mempermudah pekerjaan, atau meningkatkan kualitas hidup, maka penggunaannya menjadi amal yang bernilai.
Dengan demikian, dalam perspektif Islam, penggunaan AI bukan ancaman otomatis bagi otak atau kecerdasan manusia. Teknologi hanyalah katalis. Yang menentukan adalah manusia: apakah ia tetap mengasah akal atau menyerahkan semuanya kepada mesin.
Baca Juga: Hukum Menggunakan Ramalan untuk Menentukan Finansial, Asmara, Kesehatan dan Karir dalam Islam
Islam mendorong manusia untuk aktif, kritis, dan berimbang, bukan pasif menunggu jawaban. Akal harus bergerak, dan AI hanya menjadi sarana yang membantu pergerakan itu.
Pada akhirnya, kekhawatiran tentang AI sebenarnya adalah refleksi dari kekhawatiran tentang diri kita sendiri. Apakah kita menjaga akal yang telah Allah amanahkan? Apakah kita menggunakannya dengan intens, atau mulai malas karena semuanya diambil alih teknologi?
Selama manusia masih mau berpikir, mengkaji, dan bertanggung jawab atas keputusan intelektualnya, maka AI tidak akan merusak apa pun. Sebaliknya, ia justru bisa menjadi jalan baru untuk memperluas kecerdasan yang Allah titipkan kepada manusia. Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









