Akurat

Fenomena Supermoon dalam Perspektif Islam, Bahaya atau Tidak?

Fajar Rizky Ramadhan | 7 November 2025, 10:00 WIB
Fenomena Supermoon dalam Perspektif Islam, Bahaya atau Tidak?

AKURAT.CO Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan fenomena supermoon akan terjadi sebanyak tiga kali sepanjang tahun 2025. Setelah fase purnama pertama muncul pada Oktober lalu, puncak supermoon kedua terjadi pada 5 November, dan satu lagi akan kembali menghiasi langit pada Desember mendatang. Dari Palu, Sulawesi Tengah, fenomena langka ini terlihat sangat jelas, memperindah langit Timur Indonesia.

Supermoon, secara ilmiah, adalah kondisi di mana bulan mencapai titik terdekatnya dengan bumi atau disebut perigee, sehingga tampak lebih besar dan lebih terang dari biasanya. Dalam astronomi modern, fenomena ini dianggap normal dan tidak menimbulkan dampak signifikan terhadap bumi, selain sedikit peningkatan pasang air laut. Namun di masyarakat, sering muncul anggapan bahwa supermoon bisa membawa bencana alam, seperti banjir, gempa, atau badai.

Dalam pandangan Islam, fenomena supermoon bukanlah sesuatu yang menakutkan atau mistis. Al-Qur’an justru mengajak manusia untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah di langit. Allah berfirman dalam surah Yunus ayat 5:
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan ditetapkan-Nya bagi bulan itu manzilah-manzilah (fase-fase), supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.”

Baca Juga: Ada Peran Ulama Indonesia di Balik Kemenangan Zohran Mamdani di New York, Ini Sosoknya

Ayat ini menunjukkan bahwa setiap perubahan pada bulan—termasuk peristiwa supermoon—adalah bagian dari sistem kosmik yang diatur secara presisi oleh Allah untuk kemaslahatan manusia, bukan untuk menakuti. Nabi Muhammad SAW juga menegaskan prinsip yang sama dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, ketika terjadi gerhana matahari.

Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak akan mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang.”

Pesan Rasulullah ini sangat relevan untuk memahami supermoon: manusia tidak perlu panik atau mengaitkannya dengan firasat buruk, karena semua fenomena langit hanyalah tanda kekuasaan Allah yang patut disyukuri.

Dari sisi ilmiah, para astronom menegaskan bahwa supermoon memang dapat memengaruhi pasang surut laut secara kecil, tetapi tidak terbukti menyebabkan bencana besar. BMKG juga telah memastikan bahwa supermoon kali ini tidak menimbulkan ancaman terhadap keselamatan masyarakat. Kepala Pusat Seismotektonik BMKG menyampaikan bahwa pengaruh gravitasi bulan terhadap aktivitas gempa sangat kecil dan tidak signifikan.

Sebaliknya, fenomena seperti ini justru menjadi momen refleksi spiritual dan edukatif. Dalam Islam, setiap fenomena alam adalah ayat kauniyyah—tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Baca Juga: Fenomena Supermoon Hari Ini, 5 November 2025 Jam Berapa? Ini Waktu Terbaiknya

Supermoon bisa menjadi kesempatan bagi umat Muslim untuk memperkuat kesadaran tauhid, menambah rasa takjub kepada Sang Pencipta, dan menumbuhkan kesadaran ekologis terhadap keteraturan ciptaan-Nya.

Maka, ketika bulan tampak lebih besar dan terang di langit malam, bukan rasa takut yang perlu muncul, melainkan kekaguman dan rasa syukur. Sebab, seperti yang dikatakan oleh ilmuwan Muslim abad pertengahan, Ibnu Sina, “Ilmu tentang langit membawa manusia mengenal keindahan Sang Pencipta.”

Jadi, supermoon bukanlah tanda bahaya, melainkan panggilan untuk berpikir, merenung, dan semakin dekat kepada Allah. Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.