Ilmuwan Asing Penasaran Hajar Aswad, Ini Hasil Temuannya, dan Begini Penjelasan Islam

AKURAT.CO Batu Hajar Aswad yang terpasang di sudut timur Ka'bah selalu menjadi simbol sakral bagi umat Islam di seluruh dunia. Namun, di balik kesakralannya, sejumlah ilmuwan asing justru melihatnya sebagai misteri ilmiah yang menggoda untuk diteliti.
Mereka ingin tahu: dari manakah asal batu ini sebenarnya? Apakah benar berasal dari surga, atau sekadar batu meteor biasa yang jatuh ke bumi ribuan tahun lalu?
Laporan CNBC (2/11/2025) menyebutkan, beberapa peneliti mengkategorikan Hajar Aswad sebagai batu meteorit. Pandangan ini muncul karena adanya catatan sejarah tentang jejak meteor di sekitar wilayah Makkah, tempat Ka'bah berdiri.
Salah satu rujukan klasik dalam penelitian ini adalah studi E. Thomsen berjudul New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka'ba (1980), yang menelusuri penemuan kawah meteor bernama Wabar di gurun Arab oleh peneliti Philby pada 1932.
Baca Juga: Tanda-tanda Kiamat Sudah Dekat Bermunculan, Ini Menurut Islam
Kawah Wabar memiliki diameter lebih dari 100 meter dan di sekitarnya ditemukan pecahan batu yang terbentuk dari campuran pasir, silika, serta logam nikel dan besi.
Menurut Thomsen, karakteristik tersebut mirip dengan deskripsi fisik Hajar Aswad: berwarna hitam di luar, namun memiliki inti berlapis putih di dalamnya. Warna hitam itu diyakini muncul akibat oksidasi logam nikel dan ferum yang terbakar di luar angkasa sebelum menabrak bumi.
Thomsen menduga warna putih di bagian dalam Hajar Aswad mungkin berasal dari inti campuran kimia yang terpapar pada masa awal pembentukannya. Namun lapisan putih tersebut mudah hilang karena erosi, sehingga kini yang tampak hanyalah batu hitam yang mengilap.
Namun, teori ilmiah ini bukan tanpa kelemahan. Sejumlah peneliti mencatat bahwa batu meteor umumnya tidak mengapung, sulit terpecah menjadi fragmen kecil, dan tidak tahan terhadap erosi dalam jangka waktu ribuan tahun. Fakta itu membuat para ilmuwan berhati-hati menyimpulkan bahwa Hajar Aswad pasti berasal dari meteor.
Bagi umat Islam, Hajar Aswad bukan sekadar benda geologis, tetapi simbol spiritual yang sangat dalam. Dalam sebuah hadis sahih riwayat At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda: “Hajar Aswad turun dari surga, dahulu warnanya lebih putih daripada susu, lalu menjadi hitam karena dosa-dosa anak Adam.” Hadis ini menegaskan keyakinan bahwa batu tersebut benar-benar berasal dari langit, bukan sekadar meteorit alami, melainkan benda suci yang diturunkan Allah sebagai tanda kasih dan ujian bagi manusia.
Baca Juga: 7 Negara Tanpa Antrean Haji, Langsung Berangkat Tanpa Harus Menunggu Lama
Ulama tafsir klasik, seperti Imam Al-Qurthubi, menafsirkan perubahan warna Hajar Aswad sebagai simbol transformasi spiritual: dari kesucian menuju kefanaan akibat dosa manusia. Warna hitam bukan sekadar akibat kimiawi, tetapi metafora tentang bagaimana dosa kolektif umat manusia dapat menggelapkan cahaya fitrah.
Sementara itu, dari perspektif sains modern, penjelasan bahwa Hajar Aswad mungkin merupakan batu luar angkasa tidak bertentangan sepenuhnya dengan narasi keagamaan. Dalam konteks kosmologis, “turun dari surga” bisa diartikan sebagai “turun dari langit” atau berasal dari luar bumi — suatu hal yang justru menguatkan kemukjizatannya.
Kenyataannya, sains bisa menjadi pintu masuk memahami kebesaran Allah. Jika para ilmuwan menyatakan Hajar Aswad itu batu meteor, maka itu justru memperkuat bukti bahwa ia memang ‘turun dari langit’. Yang membedakan hanyalah cara pandang: sains melihat fenomena, agama melihat makna.
Ia menambahkan, Hajar Aswad memiliki posisi penting dalam ibadah haji dan umrah sebagai titik awal thawaf, bukan karena batunya semata, tapi karena simbol perjanjian spiritual antara manusia dan Tuhannya. Dalam tradisi Islam, mencium Hajar Aswad bukan menyembah batu, tetapi mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW yang meneladani Nabi Ibrahim AS.
Ketika Umar bin Khattab mencium Hajar Aswad, beliau berkata, “Aku tahu engkau hanyalah batu, engkau tidak bisa memberi manfaat atau mudarat. Jika aku tidak melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kalimat ini menjadi fondasi teologis penting yang menegaskan bahwa penghormatan terhadap Hajar Aswad bukan bentuk penyembahan, melainkan simbol ketaatan dan kecintaan kepada Rasulullah.
Fenomena rasa ingin tahu para ilmuwan asing terhadap Hajar Aswad sebenarnya menggambarkan satu hal: bahwa sains modern pun tidak bisa sepenuhnya mengabaikan misteri spiritual. Batu ini telah menembus batas antara dunia empiris dan dunia transenden.
Baca Juga: 9.000 Calon Jemaah Haji Jawa Barat Tertunda Berangkat akibat Penyesuaian Kuota Nasional
Dalam perspektif Islam, segala sesuatu yang berasal dari langit memiliki misi: bukan hanya menimbulkan takjub, tetapi juga menumbuhkan iman. Hajar Aswad adalah simbol pengingat bahwa manusia berasal dari tanah, namun selalu rindu pada langit.
Ia saksi bisu ribuan tahun, di tengah peradaban yang terus berubah, mengingatkan manusia bahwa di atas logika dan eksperimen masih ada wilayah rahasia yang hanya bisa dijangkau dengan iman.
Dan mungkin di situlah letak keajaibannya — sebuah batu kecil di Ka'bah yang membuat ilmuwan berpikir keras, sementara orang beriman justru menunduk penuh haru.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









