Akurat

Bolehkah Memprediksi Akan Adanya Bencana Gempa Megathrust dalam Islam?

Fajar Rizky Ramadhan | 27 Oktober 2025, 07:00 WIB
Bolehkah Memprediksi Akan Adanya Bencana Gempa Megathrust dalam Islam?

AKURAT.CO Indonesia dikenal sebagai negeri yang berdiri di atas jalur rawan gempa, tepatnya di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Wilayah ini menyimpan 13 segmen megathrust—patahan besar di dasar laut yang menyimpan energi tektonik dalam jumlah luar biasa.

Para peneliti, termasuk dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memperingatkan bahwa energi yang terus menumpuk di zona subduksi selatan Jawa bisa memicu gempa berkekuatan hingga magnitudo 8,7 dan berpotensi menimbulkan tsunami setinggi 20 meter.

Pertanyaannya, bagaimana Islam memandang upaya manusia dalam memprediksi bencana alam seperti gempa megathrust? Apakah hal itu termasuk bentuk “meramal masa depan” yang dilarang, atau justru bagian dari ikhtiar ilmiah yang dibenarkan?

Dalam perspektif Islam, memprediksi bencana berdasarkan data ilmiah bukanlah perbuatan yang terlarang. Sebab, Islam mendorong umatnya untuk menggunakan akal dan ilmu dalam memahami gejala alam. Al-Qur’an sendiri mengajak manusia untuk “memperhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan” (QS. Al-‘Ankabut: 20).

Artinya, mempelajari fenomena geologis seperti pergerakan lempeng, subduksi, atau perubahan struktur bumi termasuk bagian dari perintah untuk membaca ayat kauniyah (tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta).

Baca Juga: Hukum Meyakini Kesaktian Kalender Jawa Weton dalam Perspektif Islam

Namun demikian, Islam menolak bentuk “ramalan bencana” yang didasari takhayul, dukunisme, atau klaim supranatural tanpa dasar empiris.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mendatangi dukun atau peramal lalu membenarkan ucapannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Maka, perbedaan mendasar antara “prediksi ilmiah” dan “ramalan gaib” terletak pada sumbernya: yang satu bersandar pada observasi ilmiah, sedangkan yang lain pada klaim metafisis yang tak bisa diuji.

Dalam konteks gempa megathrust, para ahli geologi dan seismologi tidak sedang “meramal masa depan”, melainkan membaca pola akumulasi energi dan sejarah aktivitas patahan.

Mereka menyampaikan hasil riset untuk tujuan mitigasi agar masyarakat siap menghadapi kemungkinan terburuk. Upaya ini justru sejalan dengan prinsip Islam tentang ikhtiar dan tadabbur.

Nabi Yusuf, misalnya, memprediksi datangnya masa paceklik selama tujuh tahun setelah masa subur, berdasarkan tafsir mimpi raja (QS. Yusuf: 47–49). Namun, prediksi itu bukan ramalan gaib, melainkan strategi penyelamatan bangsa.

Prinsip serupa dapat diterapkan dalam kebencanaan modern: prediksi ilmiah digunakan bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menyelamatkan manusia dan meminimalisasi kerusakan.

Dalam hal ini, sains berfungsi sebagai bentuk kasih sayang Allah yang diberikan melalui pengetahuan. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan” (QS. Al-Baqarah: 195), yang berarti kewajiban untuk melakukan langkah-langkah pencegahan dan kesiapsiagaan.

Dengan demikian, memprediksi adanya potensi gempa megathrust bukanlah bentuk perlawanan terhadap takdir, melainkan cara manusia menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi: menjaga kehidupan, menyelamatkan diri dan sesama, serta memanfaatkan ilmu untuk kebaikan.

Baca Juga: 5 Ciri Kepribadian Orang yang Tak Bisa Berhenti Main HP di Malam Hari Menurut Islam

Sikap yang seimbang dalam Islam adalah antara tawakal dan ikhtiar. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah melakukan segala persiapan terbaik.

Jika para ilmuwan mengingatkan adanya potensi gempa besar, maka tugas masyarakat adalah menanggapinya dengan ilmu, kesiapan, dan doa, bukan dengan panik atau menuduhnya sebagai ramalan yang menyalahi takdir.

Jadi, dalam pandangan Islam, memprediksi bencana alam berbasis riset ilmiah hukumnya boleh dan bahkan dianjurkan selama bertujuan untuk mitigasi dan penyelamatan jiwa.

Sains dan iman bukan dua hal yang berlawanan; keduanya justru saling menguatkan dalam menyingkap tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.